web page hit counter

a beautiful mind

December 24, 2007

Presenteeism, Hadir Tapi Tak Ada Hasil

Filed under: karir, wawasan - pikroh @ 4:52 pm

Staff saya Atiek, dari pagi mengeluh sakit perut, pening-pening dan demam. Saya sudah memintanya pulang ke rumah kalau memang sakit, namun dia bersikukuh tetap di kantor, alasannya banyak tumpukan surat dan pernak-pernik pekerjaan lainnya yang harus diselesaikan. Jadilah hari itu–setengah “mabuk” karena sakit–sedikit demi sedikit dia selesaikan pekerjaannya di balik cubicle-nya yang sempit. Beberapa hari kemudian, ketika penyakitnya semakin terasa parah, dia “menyerah”. Sebuah sms terkirim ke telepon genggam saya, mengabarkan dia harus dirawat di rumah sakit karena typhus.

(more…)

December 17, 2007

Kolaborasi Massa dalam Ekonomi Wiki

Filed under: wawasan - pikroh @ 8:42 am

Heran mengapa MySpace yang baru diluncurkan tahun 2003 bisa melesat begitu cepat, kini menjadi “tempat nongkrong” bagi 100 juta lebih anak muda–mengalahkan Yahoo, MSN, Google dan eBay dalam hal trafik? Ingin tahu mengapa Wikipedia, yang hanya berpegawai lima orang, dapat menyajikan lebih dari satu juta lema (entry) dalam bahasa Inggris dan 92 bahasa lainnya–sepuluh kali volume Encyclopedia Britannica? Tahukah bahwa Google telah bermetamorfosis dari mesin pencari menjadi perusahaan iklan terbesar dunia–dan “menendangi pantat” Microsoft, sesuai pengakuan Bill Gates di World Economic Forum 2004 di Davos, Swiss?

(more…)

December 13, 2007

Pendekatan Makan Siang Hotbonar & Eckert

Filed under: karir, wawasan - pikroh @ 10:49 am

Di awal-awal masa jabatannya sebagai bos Jamsostek, Hotbonar Sinaga memiliki ritual baru: makan siang bersama para karyawannya di kantin (Kontan, Minggu II, Maret 2007). Hotbonar yang selalu tampil necis itu tidak segan-segan bersantap siang di tengah kerumunan ”karyawan jelata” Jamsostek yang mungkin sebagian besar baru dikenalnya. Lebih istimewa lagi, sang direktur utama itu sebenarnya tidak biasa makan siang kecuali ada acara khusus.

Pendekatan makan siang yang dilakukan Hotbonar mengingatkan saya pada apa yang dilakukan Bob Eckert, CEO Mattel. Tahun 2000, Eckert dipercaya mengambil alih kendali Mattel ketika perusahaan itu dalam kondisi merugi selama tiga tahun berturut-turut karena strategi akuisisi yang salah. Learning Company, perusahaan yang diakuisisi oleh CEO sebelumnya, membuat Mattel merugi lebih dari satu juta dollar sehari dan membuatnya bertahan hidup hanya dari topangan kredit. Mandat yang diemban Eckert sangat berat: membalikkan kondisi (turnaround) raksasa pembuat Barbie yang karyawannya mencapai 30.000 orang itu agar kembali menghasilkan keuntungan.

(more…)

December 9, 2007

Tiga Jaringan Informal di Organisasi

Filed under: karir, wawasan - pikroh @ 8:20 am

Masih ingat dengan tokoh Vito Carleone yang diperankan oleh Marlon Brando dalam film the Godfather? Di film itu digambarkan bahwa dalam dunia mafia peran seorang don atau godfather sangat penting. Dia lah yang menjadi pusat loyalitas anggota mafia, yang berkhidmad padanya untuk mendapat perlindungan. Para godfather memiliki anggota jaringan yang luas, dari kepala polisi, pengacara, senator sampai tukang parkir yang siap bekerja untuk kepentingannya. Ikatan kekeluargaan dalam dunia mafia sangat kuat, pengkhianatan dapat berakibat kematian.

Dalam organisasi bisnis besar, kalau kita jeli mengamati juga terdapat pola hubungan seperti itu. Ada para godfather dan pengikut-pengikutnya yang loyal. Kita bisa melihat, misalnya, seorang direktur operasional yang senior dan ‘memiliki’ orang-orang yang menjabat di posisi keuangan, pemasaran, dan berbagai bagian lain perusahaan. Pak Anu, ‘orangnya’ pak Itu. Pak Ono ‘orangnya’ pak Ini. 

Ada struktur organisasi yang sifatnya informal yang berbeda dengan struktur resmi. Hubungan antara godfather perusahaan itu dengan para loyalisnya bersifat saling menguntungkan. Godfather memberikan pengayoman dan memastikan perhatian yang cukup untuk perkembangan karir para loyalis. Dan sebaliknya, para loyalis memberi dukungan berupa segala keperluan emosional maupun politis sang godfather. Struktur organisasi resmi perusahaan tidak menggambarkan pola hubungan tersebut. Namun, eksekutif yang piawai selalu mengetahuinya, dan memanfaatkan untuk keuntungannya.

(more…)

December 4, 2007

Sehat dan Kaya Melalui Silaturrahmi

Filed under: self- help, wawasan - pikroh @ 9:39 pm

Ada hadits Nabi yang menganjurkan kita agar rajin bersilaturrahmi, karena silaturrahmi memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki. Sedemikian pentingnya silaturrahmi, sampai-sampai orang yang memutus silaturrahmi terancam masuk neraka. (Sebenarnya, neraka dunia pun sudah dia rasakan karena hubungan buruk tersebut).

Memperpanjang Umur

Dengan bersilaturrahmi, kita akan lebih bahagia. Hanya dengan mengirimi sms atau email, orang yang kita sapa akan merasa bahagia. Terlebih lagi bila kita telepon atau kunjungi. Bayangkanlah roman muka sahabat Anda yang berbinar lantaran Anda menyempatkan mampir ke rumahnya. Juga, nada bahagia ibu Anda mendengar kabar cucunya lewat telepon. Kebahagiaan seperti itu mengurangi stress dan memperpanjang umur.

Antara tahun 1965- 1974, dua ahli epidemi penyakit mempelajari gaya hidup dan kesehatan 4.725 penduduk Alameda County, California.  Mereka menemukan bahwa angka kematian tiga kali lebih tinggi pada orang yang ‘kuper’ dibandingkan dengan mereka yang aktif secara sosial. Studi yang sama terhadap penduduk Seattle, dipublikasikan tahun 1997, menemukan bahwa pasangan keluarga yang secara sosial aktif membutuhkan biaya kesehatan lebih rendah dan lebih jarang sakit dibandingkan mereka yang penyendiri.  Riset puluhan tahun yang dilakukan MacArthur Foundation mengenai penuaan di AS menyimpulkan bahwa dua prediktor utama kesehatan manula adalah frekuensi silaturrahmi dengan sanak-keluarga dan kehadiran dalam pertemuan-pertemuan.  

(more…)

December 2, 2007

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 3)

Filed under: self- help, karir, wawasan - pikroh @ 10:42 am

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu–semua harapan eksternal, kebanggaan, takhut malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

(more…)

November 29, 2007

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 2)

Filed under: self- help, karir, wawasan - pikroh @ 9:10 pm

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami–Macintosh–satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

(more…)