web page hit counter

a beautiful mind

May 30, 2006

(Not) Good Morning

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 2:20 pm
  • Pagi hari, 7 Desember 1941, Jepang menyerang pangkalan AL Amerika di Pearl Harbor. Sebanyak 2.403 orang  terbunuh (+55 pilot Jepang), 1.178 terluka, 4 kapal perang besar karam, 14 lainnya hancur dan rusak berat, 188 pesawat rontok dihajar di landasan dan hanggar pesawat.   
  • Pagi hari, 6 Juni 1944, Sekutu menyerang Jerman di Normandia dengan 6.203 kapal perang berbagai fungsi dan ukuran, 13.743 pesawat tempur, angkut dan pembom, 156.115 pasukan darat beserta 900 tank dan panser. Sebanyak 17.000 lebih tentara dari kedua sisi gugur dan terluka berat di hari itu.
  • Pagi hari, 11 September 2001, WTC dan Pentagon dihantam 3 pesawat penerbangan sipil yang dibajak. Satu pesawat United Airlines 93, jatuh sebelum mencapai sasarannya (White House atau Capitol Building). Setidaknya sebanyak 2,986 orang meninggal dunia.
  • Pagi hari, 26 Desember 2004, tsunami melanda Aceh, Nias, pantai selatan Thailand, dan pantai timur India dan Srilanka. Pagi itu manusia menyaksikan musibah alam terbesar abad ini, 186.983 orang meninggal dan 42.883 orang hilang.
  • Pagi hari, 27 Mei 2006, gempa 5.9 skala richter terjadi di Yogya dan sekitarnya. Sejauh ini diketahui 5.195 orang meninggal dan ribuan luka-luka.

What do they have in common?

Musibah buatan manusia maupun maupun alam, hampir selalu terjadi di pagi hari. Seolah-olah, pagi hari adalah waktu yang cocok untuk melakukan peristiwa besar bernama bencana dan perang.

Bencana yang menimpa kaum Tsamud di kota Al-Hijr pun terjadi di pagi hari:

“Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur di waktu pagi” (Al-Hijr: 83)

Juga kaum Luth di kota Sodom dan Gomorah:

“Para utusan (malaikat) berkata: "Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorangpun di antara kamu yang tertinggal, kecuali isterimu. Sesungguhnya dia akan ditimpa azab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya azab kepada mereka ialah di waktu subuh; bukankah subuh itu sudah dekat?." (Huud: 81)

Perang zaman dahulu pun dimulai di pagi hari:

..dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi (Al-Aadiyaat: 3)

Kalau dalam sejarah Indonesia, kita kenal juga dengan peristiwa heroik serangan fajar di Yogyakarta yang berhasil menguasai Jogja dalam 6 jam untuk menunjukkan eksistensi pejuang-pejuang kita di mata internasional. Kita juga mengenal "serangan fajar", yang biasanya dilakukan kontestan Pemilu atau pilkada kepada para calon pemilih sebelum pencoblosan.

Oleh karena itu, kawan, sungguh nikmat bila setiap pagi kita bisa memberi salam “good morning”, “sabhal khair”, “sugeng enjing”.

Because morning is not always good…!

Angka Kematian Balita Blog

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 1:21 pm

Lebih dari 75.000 blog baru muncul di internet setiap hari. Berapa yang akan bertahan dalam tahun pertama? Di Amerika, konon ada 8 juta orang yang menyatakan pernah membuat blog, berapa yang masih hidup? Berapa kali anda mendapati blog atau website yang sudah tidak diupdate lebih dari setahun?

Membuat blog itu gampang. Mempertahankan kehidupannya, jauh lebih sulit. Semangat yang menggebu-gebu saja tidak cukup, butuh keuletan dan stamina. Dalam hal apa pun, dibutuhkan lebih dari sekedar semangat besar untuk mempertahankan kelangsungan suatu prestasi.

Saya melihat angka kematian blog mengikuti pola umum seperti kurva bentuk L. Kecepatan kematiannya sangat tinggi di awal-awal bulan, kemudian relatif rendah setelah melewati masa kritis. (Saya mendefinisikan blog yang pemiliknya tidak ingin/mampu mengupdate lagi sebagai blog yang mati). Dalam hal ini, blog tidak sendirian. Banyak contoh lain dalam kehidupan yang seperti itu:

  • Kalau anda ikut lari marathon,  anda tahu bahwa ribuan orang yang ikut start akan berhenti sebelum 1 kilometer pertama.
  • Pada satu detik pertama, alam semesta mengalami pengembangan yang luar biasa cepat, jauh melebihi kecepatan cahaya, kemudian melambat dengan cepat. Saat ini alam semesta mengalami pengembangan yang relatif stabil, namun kecepatannya menurun sedikit demi sedikit karena adanya “rem” gaya tarik seluruh benda di alam semesta.
  • Angka lapse (pembatalan) polis asuransi jiwa cukup tinggi (bisa mencapai 10%-20%) pada dua tahun pertama. Setelahnya, polis akan relatif stabil.
  • Angka kematian perusahaan sangat tinggi di 5 tahun pertama. Sebagai rule of thumb, separuh perusahaan tidak pernah melewati ulang tahunnya yang ke-lima.

Anda punya contoh lain fenomena kurva bentuk L?

Arie de Geus dari Royal Dutch/Shell memprihatinkan rendahnya angka harapan hidup perusahaan saat ini. Meskipun potensi usia suatu perusahaan dapat mencapai ratusan tahun seperti GE, Siemens dan P&G, rata-rata umur perusahaan saat ini tidak lebih dari 22 tahun. Hal ini antara lain karena angka kematian balitanya masih terlalu tinggi. Dalam sejarah manusia, angka harapan hidup segitu adalah angka harapan hidup manusia jaman es! Dengan potensi umur yang hampir sama (manusia dapat hidup sampai 130 tahun), usia hidup rata-rata manusia saat ini sudah lebih dari 50 tahun.

Terima kasih kepada WHO yang telah bekerja keras menurunkan angka kematian di seluruh dunia. Kita juga butuh WCHO (World’s Corporate Health Organization) untuk menekan angka kematian perusahaan. Selain, tentu saja, WBHO (World’s Blog Health Organization) untuk blog di internet..

May 27, 2006

Pikiran yang Sok Melihat

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 11:54 am

Manusia bisa melihat dengan pikirannya. Untuk mengamati alam semesta yang dahsyat, kemampuan mata manusia amat terbatas. Teleskop Hubble yang paling hebat saja ”cuma” bisa melihat bintang sejauh 600 juta triliun km. Ketika Hubble tidak mungkin dipakai melihat, pikiranlah yang akan dipakai melihat.

Mau tahu contohnya?

Konon, para astronom punya keyakinan: ”Di galaksi mana pun anda berada di jagad raya (universe), jagad raya akan terlihat sama.” Hal ini karena ada prinsip homogenitas dan isotropi alam semesta. Homogenitas, artinya semua benda langit terdistribusi merata di semua ruang semesta. Isotropi, artinya ke arah manapun di lihat, alam semesta tampak sama.

Para astronom sangat yakin dengan hal ini, seolah-olah sudah pernah melihatnya dari galaksi lain. Kalau tidak percaya, silakan sampeyan lihat sendiri dari galaksi lain…..Jangan lupa SMS saya kalau sudah tahu hasilnya!

Subhanallah… Betapa indah ciptaan Engkau..

Tapi secanggih apa pun kita melihat, entah dengan mata lewat teleskop atau dengan pikiran, ternyata jatah ngintip kita sudah dibatasi. Jagad raya dapat kita amati “hanya” maksimal sejauh 13,5 milyar tahun cahaya.

Kenapa? Karena kalau jaraknya lebih dari itu, cahaya belum sampai ke kita. Masih dalam perjalanan. Lha, umur alam semesta khan baru 13,5 milyar tahun. Kalau mau melihat yang lebih jauh lagi, tunggu barang 0,5 sampai 1 milyar tahun lagi…. Insya Allah, kabar dari yang lebih jauh akan sudah sampai.

Weleh, enteng bener ngomongnya, yak? Lha, jangankan menunggu 0,5 milyar tahun, bisa hidup sampai umur 60 tahun juga sudah syukur….

(Ngomong-ngomong, jatah umur kita kok jadi terasa dikit amat yak? )

May 26, 2006

Memilih antara Benar dengan Benar

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 2:00 pm

Panitia piknik keluarga di sekolah anak saya mengalami kebingungan. Waktu pelaksanaan tinggal beberapa hari lagi, namun mereka belum dapat memutuskan apakah akan menggunakan bus untuk menuju ke lokasi. Para orang tua murid terbelah dalam dua kubu yang berselisih. Satu kubu berpendapat, karena sebagian besar orang tua memiliki mobil, lebih baik pergi dengan mobil sendiri-sendiri. Yang tidak memiliki mobil bisa diatur tumpangannya. Kubu yang lainnya berpendapat, karena acaranya untuk kebersamaan dan keakraban antar wali murid, murid dan guru, sebaiknya menyewa bus dan dibuat acara di dalam bus. Orang tua murid justru sebaiknya dilarang membawa mobil.

"Lagipula, bagaimana rasanya orang tua dan anak-anaknya yang tidak memiliki mobil? Pasti merasa tidak enak karena menumpang. Mungkin malah timbul rasa minder. Jangankan begitu, yang mobilnya jelek juga pasti akan dibanding-bandingkan dengan yang mobilnya bagus. Yang punya mobil juga belum tentu enak karena ada yang menumpang. Di mana kebersamaannya?", tambah mereka berargumen.

Kubu yang tidak setuju dengan penggunaan bus bersikukuh. Mereka berpendapat, jumlah yang ikut bus tidak akan banyak, sehingga jatuhnya biaya per keluarga akan mahal. Melarang orangtua membawa mobil sendiri juga akan menimbulkan penolakan. Mereka tentu lebih bebas kalau membawa mobil sendiri-sendiri, dapat leluasa mampir ke mana-mana setelah acara selesai.

Keputusan apa yang harus diambil?

Situasi di atas seringkali kita temukan dalam hidup, dan sangat sulit untuk diputuskan. Kenapa? Karena merupakan pilihan antara benar dengan benar. Sebagaimana ahli fisika quantum Niels Bohr mengatakan, ”There are two types of truth. In a superficial truth, the opposite is false. In a deep truth, the opposite is also true”.  Kebenaran dapat berlawanan dengan kebenaran lain.

Dalam situasi seperti itu, anda akan membuat keputusan menggunakan nilai-nilai yang anda yakini. Bila anda menilai kebersamaan dan keakraban lebih tinggi dibandingkan efisiensi dan fleksibilitas, anda akan setuju untuk menyewa bus. Dan sebaliknya.

Konflik antara benar dengan benar terjadi di banyak situasi di rumah tangga, kantor dan masyarakat. Beberapa waktu lalu, misalnya, Ketua BAPPENAS Paskah Suzetta mengusulkan agar kendaraan bermotor yang lebih tua tetap dikenai pajak yang lebih rendah. Alasannya: ”Mereka yang memiliki mobil tua adalah mereka yang kurang mampu dibandingkan yang mobilnya baru. Tidak adil bila mereka dibebani pajak yang lebih berat dibanding yang lebih kaya”.

Make sense? Betul. Namun pak Sutiyoso, dkk belum tentu setuju. Jakarta termasuk kota paling terpolusi di dunia. Penyebabnya, antara lain mobil-mobil tua yang asap knalpotnya membuat sesak napas. Belum lagi kalau mogok, bikin macet jalanan. Jakarta harus dibebaskan dari mobil-mobil tua yang tidak layak jalan itu! Terapkan pajak yang lebih besar untuk mereka. Di luar negeri, mereka juga dikenai carbon tax karena pencemaran karbon menimbulkan biaya pengobatan sakit pernapasan yang besar..Kalau merokok saja dikenai cukai dan bila sembarangan didenda, mengapa tidak dilakukan hal yang sama untuk mobil tua?

Ketika memilih kebenaran yang mana akan diambil, anda harus membebaskan diri dari pemikiran bahwa konfliknya ada di luar sana. Yang sedang bertarung adalah konflik dalam diri anda, untuk menimbang nilai mana yang lebih anda sukai, yang membuat hati anda lega. Di situlah perasaan akan berbicara. Namun, bukan semata-mata perasaan yang berjalan tanpa kontrol dari pikiran. Anda juga menyadari, ada orang lain yang memiliki rasa kebenaran yang berbeda dengan anda.

May 25, 2006

Selamat Datang, Demokrasi Berita

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 9:13 pm

Fenomena pembelian MySpace oleh raja media Rupert Murdoch dan pendirian CurrentTV oleh mantan Wapres AS Al Gore menjadi sorotan dalam sebuah kolom di Kompas, kemarin (24/5/06). Intinya, kedua orang beken itu melihat ada arus tren baru di dunia pemberitaan yang harus segera digarap. Arus itu adalah bagian dari gelombang demokratisasi media, di mana konsumen tidak hanya secara pasif mengkonsumsi berita, namun juga aktif membangun komunitas berita di mana mereka menjadi konsumen sekaligus produsen. Murdoch masuk lewat internet dengan membangun imperium blog, Al Gore masuk lewat TV kabel yang 20% beritanya berasal dari pemirsa (diproyeksikan menjadi 50%).

Apakah pertaruhan keduanya merupakan langkah tepat? Kita lihat saja nanti.

Sebagian besar gelombang perubahan yang revolusioner di industri adalah perubahan konsep, bukan semata-mata perubahan teknologi. Biasanya perubahan itu tidak segera diadopsi oleh para pemain besar yang menjadi incumbent. Kaki para pemain lama sudah tertanam terlalu dalam pada produk, model bisnis, dan pasar yang ada sehingga adaptasi terhadap konsep baru nyaris mustahil. (Bagi yang tertarik, bisa membaca ulasan Clayton Christensen mengenai “disruptive innovation”. Posting saya sebelumnya mengenai sukses adalah kegagalan yang tertunda juga mendukung point ini). Cara pandang penguasa pasar juga biasanya telah menjadi terlalu sempit untuk melihat peluang di luar pasar dan produk tradisional mereka (“Marketing myopia”, menurut Theodore Levitt).

Para penantang pasarlah yang membalikkan kondisi dengan sebuah konsep baru. Hal ini karena mereka tidak terbebani dengan investasi besar dalam pola lama, serta tidak terkungkung oleh paradigma lama. Contoh-contoh mengenai hal ini banyak sekali, bertebaran dalam berbagai jenis industri. Beberapa di antaranya:

  • Dulu, Swiss terkenal dengan industri jamnya. Di Swiss juga teknologi jam kristal (quartz) ditemukan. Tapi industri jam di Swiss dulu tidak menganggap quartz sebagai masa depan jam. Mereka menganggap siapa pun dapat menggunakan temuan itu, namun hanya Swiss yang dapat membuat roda gigi mungil dan pegas pengimbangnya. Apa yang kemudian terjadi? Jepang mengambil alih. Teknologi quartz menjadikan jam sangat murah bagi banyak orang. Industri jam Swiss kalah bersaing sampai hanya tinggal meraih 2% pangsa pasar.

Namun demikian, bukan teknologi quartz yang membuat Jepang unggul, melainkan cara pandang orang Jepang yang melihat bahwa fungsi utama arloji bukan sebagai penunjuk waktu, tapi sebagai perhiasan. Akibatnya, jam diletakkan di tangan (wristwatch), bukan di saku baju seperti jam Swiss. Desainnya pun dibuat sangat variatif. Keawetan jam menjadi hal yang tidak lagi diutamakan sehingga ongkos produksi dapat ditekan untuk menghasilkan arloji murah.

Perubahan dalam konsep ini beberapa puluh tahun kemudian juga diadopsi oleh Nokia, yang melihat ponsel bukan sebagai alat komunikasi semata, namun juga sebagai fashion. Motorola atau Ericsson waktu itu boleh unggul dalam teknologi, tapi Nokia lebih dibeli orang karena desain-desainnya yang cool.

  • Ketika Alexander Graham Bell menemukan telepon, orang pertama kali menggunakannya untuk mengecek apakah telegram mereka sudah sampai. ”Halo, maaf mau tanya, apakah telegram saya kemarin sudah sampai? Ok. Terima kasih.” Klik!

Mereka tidak menyadari bahwa melalui telepon mereka tidak perlu lagi bertelegram! Teknologi baru, tapi cara pikir lama. Telepon dapat menyebar ketika orang melihat kegunaannya bukan hanya untuk sekedar mengecek penyampaian telegram.

  • Industri motor di AS sudah lama hancur kalah bersaing dengan Jepang. Tinggal Harley Davidson yang tersisa. Itupun setelah mereka membuat konsep baru yang melihat motor besar sebagai sarana gaya hidup dan komunitas gaul, bukan alat angkut.

Kalau anda lihat desain motor-motor Harley, anda melihat adanya teknologi baru yang digunakan dengan cara pikir lama. Posisi orang naik Harley sama dengan orang naik kuda, tegak dengan kaki-kaki di sadel, setang mirip tali kekang. Dulu waktu mendesain Harley, para insinyurnya masih melihat motor sebagai kuda besi bermesin!

Industri motor Jepang tidak melihat motor sebagai kuda besi, maka yang dihadirkan adalah motor yang lincah, mudah dipakai dan murah.

  • Ketika komputer mulai dikenal masyarakat pada tahun 1950-an, orang-orang hanya memprediksi penggunaannya di pertahanan/militer dan lab ilmu pengetahuan (mis. Astronomi). Tidak ada yang meramalkan penggunaannya untuk bisnis. Bahkan ketika akhirnya komputer dipakai di bisnis (di awal-awal berdirinya IBM), fungsinya hanya untuk mesin hitung (adding machine), antara lain untuk membantu menghitung gaji karyawan.

Revolusi terjadi ketika manusia melihat kegunaan komputer yang lebih luas dari sekedar mempercepat perhitungan. Perubahan konsep berpikir, bukan sekedar perubahan teknologi.

  • Oh ya, jangan lupa, bagaimana kabar ”industri” nomor cantik HP yang marak di tahun 1997-1998? Satu nomor waktu itu harganya ada yang mencapai jutaan rupiah. Itu juga adalah contoh teknologi baru dengan cara pandang lama. Nomor cantik dibutuhkan ketika anda hanya memakai telpon rumah. Kalau anda menelpon dengan telepon rumah, nomor cantik memudahkan anda memencet tombol satu-satu karena anda sudah mengingatnya di kepala. Anda tidak perlu lagi mencari-cari buku catatan no telp yang  entah di mana.

Dengan HP, anda tidak pernah lagi harus memencet nomor satu-satu. Tinggal cari di memori telepon. Nomor cantik atau tidak cantik, tidak ada perbedaan. Apalagi dengan era prabayar yang membuat semua orang mudah berganti-ganti nomor, alangkah susahnya kalau harus menghapal. Selamat tinggal  paradigma lama bahwa nomor telepon harus dihapal. Selamat tinggal nomor cantik!

  • Perubahan konsep terjadi juga dalam dunia penerbangan murah yang dipelopori Southwest, revolusi PC yang dipelopori Apple dan DELL, cara minum kopi ala Starbucks, dll.

Apakah industri berita akan memasuki sebuah perubahan konsep industri yang baru?

Wallahu’alam. Tapi jangan-jangan, ketika menggunakan blog atau meng-upload program berita buatan sendiri melalui TV Kabel (kalau nanti masuk ke Indonesia), kita hanya menggunakan teknologi baru namun masih berpikir dengan cara lama? Saya sendiri masih berpikir bahwa blog adalah seperti majalah dinding  pribadi yang boleh dikomentari. Paradigma masih lama, cuma teknologi yang berubah. Saya merindukan sebuah paradigma baru di mana blog menjadi sebuah konsep komunikasi yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya…

Anda bisa membantu ”mencerahkan” saya?

May 23, 2006

Berwibawa Kalau Diam

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 2:56 pm

Waktu saya menjadi auditor pemerintah beberapa tahun lalu, ada anekdot lucu yang kami alamatkan kepada para auditor tua yang—maaf—agak “telmi”. Seleksi yang tidak terlalu ketat dan diwarnai nepotisme membuat mereka yang hanya berpendidikan pas-pasan dan kurang memiliki daya nalar cukup dapat menduduki posisi-posisi sebagai auditor.

Di lapangan, ketika kami melakukan audit, hal ini seringkali menjadi masalah. Bukan hanya menyangkut kesulitan dalam membagi pekerjaan, tapi juga berkaitan dengan image tim secara keseluruhan.

Kalau dilihat dari penampilan, mereka kebanyakan OK banget: setelan safari licin, sisiran rambut klimis di selingi botak dan uban sana-sini yang cukup mengesankan, tas hitam echolac, dan sepatu kulit Itali. Pokoknya, kalau melihat penampilan mereka, kita bisa keder duluan.

Tapi, itu hanya ”cangkang” atau ”casing” saja. Kalau sudah mulai bicara, barulah ketahuan “isi” mereka. Komentar-komentar mereka yang dangkal, tidak relevan dan naif seringkali membuat miris kami yang mendengarkan. Kami terpaksa seringkali harus “menyelamatkan” pembicaraan.

Dalam anekdot kami, orang-orang itu sebelum berangkat akan kami beri briefing begini: “Pak, sebenarnya Bapak ini sangat berwibawa. Tapi, hanya kalau Bapak diam”. Berwibawa kalau diam.

Dalam hal ini, pepatah ”Diam itu Emas” berlaku. Orang Inggris bahkan punya peribahasa lain: ”Better to be quiet and thought a fool than to talk and be known as one”, lebih baik diam dan dianggap bodoh daripada bicara lantas ketahuan memang demikian….

Jadi saran saya, dalam banyak kesempatan lebih baik anda diam….
Percayalah, anda akan lebih kelihatan berwibawa!

Nasihat buat Ksatria Kantor

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 2:34 pm

Anda saat ini punya pekerjaan?

Beruntunglah anda, karena ada lebih dari 36 juta saudara-saudara anda sebangsa dan setanah air yang menganggur. Lihatlah ke jobs fair, beribu-ribu orang sambil mengepit map lamaran kerja berebut pekerjaan. Di Surabaya beberapa waktu lalu bahkan beberapa orang terinjak-injak mati atau pingsan karena berebut melamar jadi PNS. Baru mau melamar saja sudah bunuh-bunuhan.

Tapi anda juga jangan lengah. Di tempat kerja, anda selalu dituntut untuk dapat mempertahankan pekerjaan anda. Sesama rekan anda mungkin ada yang menginginkan posisi anda. Bos anda pun mungkin sedang bersungut-sungut, merasa telah membayar anda terlalu mahal. Ada orang lain yang mau mengerjakan pekerjaan anda dengan lebih baik dan bayaran lebih murah!

Saya mengibaratkan kehidupan dunia kerja seperti lomba panjat pinang. Orang di bawah mendukung yang di atas karena mereka semua ingin mendapat hadiah-hadiah yang digantungkan. Untuk itu mereka harus bekerja sama. Tapi mereka juga saling menarik celana (kadang-kadang saling melotot karena celananya melorot), bersaing ingin mendapat bagian yang lebih besar.

Sebagai pegawai, ada memiliki risiko besar, karena klien anda hanya satu, bos anda. Kalau klien anda tidak puas, anda kehilangan satu-satunya klien. Anda pun kehilangan seluruh omset penjualan anda.

Anda beruntung bila bos anda sekarang cukup puas dengan jasa anda. Namun, apa yang terjadi bila bos anda diganti? Anda berisiko memiliki klien baru yang belum tentu sepakat dengan jasa anda. Bukan tidak mungkin dia kemudian menganggap jasa anda tidak lagi dibutuhkan! Anda dipaksa membuat jasa baru atau keluar mencari klien lain.

Bagaimana kalau bos anda happy, anda juga aman karena tidak ganti-ganti bos? (ideal, huh?).

Perusahaan anda dapat tiba-tiba dibeli orang. Anda termasuk dalam orang yang tidak diikutkan pasca akuisisi karena dianggap ”orang lama” yang ikut menyumbang kelemahan manajemen lama. Atau sebaliknya, perusahaan anda tiba-tiba mengakuisisi perusahaan lain dan anda tidak diikutkan dalam manajemen pasca akuisisi. Ada orang lain di perusahaan yang diakuisisi yang menduduki posisi yang sama dengan anda. Manajemen lebih terkesan dengannya daripada dengan anda.

Itulah permainannya. Anda tidak akan pernah merasa aman dalam permainan berburu dan mempertahankan pekerjaan.

Orang jawa memiliki terminologi yang lebih bagus mengenai bekerja. Bagi orang jawa, bekerja adalah ”nyambut gawe”. Nyambut = pinjam, gawe= pekerjaan. Seperti ”nyambut arto” = pinjam uang, ”nyambut garwo” = pinjam istri (edan!). Menurut orang jawa, kita diharapkan tidak pernah merasa memiliki pekerjaan. Pekerjaan hanya dipinjamkan ke kita. Karena namanya juga pinjaman, bisa sewaktu-waktu ditarik sama yang punya: bos atau pemilik perusahaan.

Sungguh menakutkan. Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?

Seperti jagoan samurai yang sewaktu-waktu dapat terbunuh dalam duel atau kehilangan tuannya sehingga menjadi ronin gelandangan: selalu asah keterampilan bertarung anda. Anda tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Namun dengan pedang selalu terasah, indra yang tajam dan keterampilan swordsmaship yang prima, anda siap dengan apa pun yang bakal terjadi. Oh ya, jangan lupa, pegang juga moto dari teman-teman kita yang suka naik di atas gerbong KRL: ”Paling-paling, mampus.

"Orang telah menyadari bahwa keamanan kerja telah lenyap, ” kata profesor Homa Bahrami dari Universitas California di Berkeley. Tapi banyak yang tidak menyadari apa yang menggantikannya. Kemudi suatu karir harus berasal dari pegawai itu sendiri, bukan dari perusahaan.” Untuk mendukung pendapatnya, Bahrami mengutip moto yang beredar di perusahaan Apple Computer: ”Perasaan aman dalam pekerjaan anda terletak pada kemampuan kerja anda" 

Nah, apakah anda selalu siap dalam duel dunia kerja..?

(tulisan seorang samurai yang banyak luka dalam duel dunia kerja…. cuma belum mampus saja…)