Pelajaran dari Kung Fu Boy
Ada satu cerita di komik anak-anak “Kung Fu Boy’ yang masih saya ingat karena memberikan analogi berharga mengenai kemerdekaan pikiran.
Diilustrasikan dalam komik itu seekor belalang yang dikurung di dalam kotak kayu kecil. Kemudian, kotak di buka. Belalang pun melompat keluar. Namun, yang mengherankan, lompatan belalang ternyata pendek-pendek, tidak lebih tinggi dari atap kotak kayu.
Sang Suhu berkata, “Lihat lah belalang itu. Meskipun sudah bebas, dia masih terkungkung oleh pikirannya bahwa lompatannya dibatasi oleh kotak. Pikiran itulah yang membatasinya."
Tahun 1994, saya pergi ke Way Kambas di Lampung. Saya melihat ada seekor gajah kecil yang kakinya diikat rantai besi, namun rantai itu tidak diikatkan ke pohon. Dia sebenarnya bebas pergi, namun tidak juga beranjak dari pohon itu. Karena heran, saya bertanya ke pawang yang ada di situ, ”Pak, itu gajah nggak lolos nanti?” Siapa tahu, mungkin si pawang lupa mengikatkannya ke pohon.
"Nggak pak, aman", katanya sambil nyengir. Dia merasa pasti bahwa gajah itu tidak akan ke mana-mana.
Si gajah sebenarnya telah bebas, tapi pikiran bahwa rantai yang mengikatnya tidak mungkin dapat dilepaskan membuatnya tidak berusaha pergi. Pikiran itu terpola dari “pengalamannya” sebelumnya, ketika dia meronta-ronta namun tidak berhasil.
Kita bukan belalang atau gajah, namun seringkali seperti mereka. Terbelenggu oleh pikiran kita sendiri.
I recently came across your blog and have been reading along.
Comment by buddha statue — July 20, 2009 @ 1:35 pm