Berwibawa Kalau Diam
Waktu saya menjadi auditor pemerintah beberapa tahun lalu, ada anekdot lucu yang kami alamatkan kepada para auditor tua yang—maaf—agak “telmi”. Seleksi yang tidak terlalu ketat dan diwarnai nepotisme membuat mereka yang hanya berpendidikan pas-pasan dan kurang memiliki daya nalar cukup dapat menduduki posisi-posisi sebagai auditor.
Di lapangan, ketika kami melakukan audit, hal ini seringkali menjadi masalah. Bukan hanya menyangkut kesulitan dalam membagi pekerjaan, tapi juga berkaitan dengan image tim secara keseluruhan.
Kalau dilihat dari penampilan, mereka kebanyakan OK banget: setelan safari licin, sisiran rambut klimis di selingi botak dan uban sana-sini yang cukup mengesankan, tas hitam echolac, dan sepatu kulit Itali. Pokoknya, kalau melihat penampilan mereka, kita bisa keder duluan.
Tapi, itu hanya ”cangkang” atau ”casing” saja. Kalau sudah mulai bicara, barulah ketahuan “isi” mereka. Komentar-komentar mereka yang dangkal, tidak relevan dan naif seringkali membuat miris kami yang mendengarkan. Kami terpaksa seringkali harus “menyelamatkan” pembicaraan.
Dalam anekdot kami, orang-orang itu sebelum berangkat akan kami beri briefing begini: “Pak, sebenarnya Bapak ini sangat berwibawa. Tapi, hanya kalau Bapak diam”. Berwibawa kalau diam.
Dalam hal ini, pepatah ”Diam itu Emas” berlaku. Orang Inggris bahkan punya peribahasa lain: ”Better to be quiet and thought a fool than to talk and be known as one”, lebih baik diam dan dianggap bodoh daripada bicara lantas ketahuan memang demikian….
Jadi saran saya, dalam banyak kesempatan lebih baik anda diam….
Percayalah, anda akan lebih kelihatan berwibawa!