Selamat Datang, Demokrasi Berita
Fenomena pembelian MySpace oleh raja media Rupert Murdoch dan pendirian CurrentTV oleh mantan Wapres AS Al Gore menjadi sorotan dalam sebuah kolom di Kompas, kemarin (24/5/06). Intinya, kedua orang beken itu melihat ada arus tren baru di dunia pemberitaan yang harus segera digarap. Arus itu adalah bagian dari gelombang demokratisasi media, di mana konsumen tidak hanya secara pasif mengkonsumsi berita, namun juga aktif membangun komunitas berita di mana mereka menjadi konsumen sekaligus produsen. Murdoch masuk lewat internet dengan membangun imperium blog, Al Gore masuk lewat TV kabel yang 20% beritanya berasal dari pemirsa (diproyeksikan menjadi 50%).
Apakah pertaruhan keduanya merupakan langkah tepat? Kita lihat saja nanti.
Sebagian besar gelombang perubahan yang revolusioner di industri adalah perubahan konsep, bukan semata-mata perubahan teknologi. Biasanya perubahan itu tidak segera diadopsi oleh para pemain besar yang menjadi incumbent. Kaki para pemain lama sudah tertanam terlalu dalam pada produk, model bisnis, dan pasar yang ada sehingga adaptasi terhadap konsep baru nyaris mustahil. (Bagi yang tertarik, bisa membaca ulasan Clayton Christensen mengenai “disruptive innovation”. Posting saya sebelumnya mengenai sukses adalah kegagalan yang tertunda juga mendukung point ini). Cara pandang penguasa pasar juga biasanya telah menjadi terlalu sempit untuk melihat peluang di luar pasar dan produk tradisional mereka (“Marketing myopia”, menurut Theodore Levitt).
Para penantang pasarlah yang membalikkan kondisi dengan sebuah konsep baru. Hal ini karena mereka tidak terbebani dengan investasi besar dalam pola lama, serta tidak terkungkung oleh paradigma lama. Contoh-contoh mengenai hal ini banyak sekali, bertebaran dalam berbagai jenis industri. Beberapa di antaranya:
- Dulu, Swiss terkenal dengan industri jamnya. Di Swiss juga teknologi jam kristal (quartz) ditemukan. Tapi industri jam di Swiss dulu tidak menganggap quartz sebagai masa depan jam. Mereka menganggap siapa pun dapat menggunakan temuan itu, namun hanya Swiss yang dapat membuat roda gigi mungil dan pegas pengimbangnya. Apa yang kemudian terjadi? Jepang mengambil alih. Teknologi quartz menjadikan jam sangat murah bagi banyak orang. Industri jam Swiss kalah bersaing sampai hanya tinggal meraih 2% pangsa pasar.
Namun demikian, bukan teknologi quartz yang membuat Jepang unggul, melainkan cara pandang orang Jepang yang melihat bahwa fungsi utama arloji bukan sebagai penunjuk waktu, tapi sebagai perhiasan. Akibatnya, jam diletakkan di tangan (wristwatch), bukan di saku baju seperti jam Swiss. Desainnya pun dibuat sangat variatif. Keawetan jam menjadi hal yang tidak lagi diutamakan sehingga ongkos produksi dapat ditekan untuk menghasilkan arloji murah.
Perubahan dalam konsep ini beberapa puluh tahun kemudian juga diadopsi oleh Nokia, yang melihat ponsel bukan sebagai alat komunikasi semata, namun juga sebagai fashion. Motorola atau Ericsson waktu itu boleh unggul dalam teknologi, tapi Nokia lebih dibeli orang karena desain-desainnya yang cool.
- Ketika Alexander Graham Bell menemukan telepon, orang pertama kali menggunakannya untuk mengecek apakah telegram mereka sudah sampai. ”Halo, maaf mau tanya, apakah telegram saya kemarin sudah sampai? Ok. Terima kasih.” Klik!
Mereka tidak menyadari bahwa melalui telepon mereka tidak perlu lagi bertelegram! Teknologi baru, tapi cara pikir lama. Telepon dapat menyebar ketika orang melihat kegunaannya bukan hanya untuk sekedar mengecek penyampaian telegram.
-
Industri motor di AS sudah lama hancur kalah bersaing dengan Jepang. Tinggal Harley Davidson yang tersisa. Itupun setelah mereka membuat konsep baru yang melihat motor besar sebagai sarana gaya hidup dan komunitas gaul, bukan alat angkut.
Kalau anda lihat desain motor-motor Harley, anda melihat adanya teknologi baru yang digunakan dengan cara pikir lama. Posisi orang naik Harley sama dengan orang naik kuda, tegak dengan kaki-kaki di sadel, setang mirip tali kekang. Dulu waktu mendesain Harley, para insinyurnya masih melihat motor sebagai kuda besi bermesin!
Industri motor Jepang tidak melihat motor sebagai kuda besi, maka yang dihadirkan adalah motor yang lincah, mudah dipakai dan murah.
- Ketika komputer mulai dikenal masyarakat pada tahun 1950-an, orang-orang hanya memprediksi penggunaannya di pertahanan/militer dan lab ilmu pengetahuan (mis. Astronomi). Tidak ada yang meramalkan penggunaannya untuk bisnis. Bahkan ketika akhirnya komputer dipakai di bisnis (di awal-awal berdirinya IBM), fungsinya hanya untuk mesin hitung (adding machine), antara lain untuk membantu menghitung gaji karyawan.
Revolusi terjadi ketika manusia melihat kegunaan komputer yang lebih luas dari sekedar mempercepat perhitungan. Perubahan konsep berpikir, bukan sekedar perubahan teknologi.
-
Oh ya, jangan lupa, bagaimana kabar ”industri” nomor cantik HP yang marak di tahun 1997-1998? Satu nomor waktu itu harganya ada yang mencapai jutaan rupiah. Itu juga adalah contoh teknologi baru dengan cara pandang lama. Nomor cantik dibutuhkan ketika anda hanya memakai telpon rumah. Kalau anda menelpon dengan telepon rumah, nomor cantik memudahkan anda memencet tombol satu-satu karena anda sudah mengingatnya di kepala. Anda tidak perlu lagi mencari-cari buku catatan no telp yang entah di mana.
Dengan HP, anda tidak pernah lagi harus memencet nomor satu-satu. Tinggal cari di memori telepon. Nomor cantik atau tidak cantik, tidak ada perbedaan. Apalagi dengan era prabayar yang membuat semua orang mudah berganti-ganti nomor, alangkah susahnya kalau harus menghapal. Selamat tinggal paradigma lama bahwa nomor telepon harus dihapal. Selamat tinggal nomor cantik!
- Perubahan konsep terjadi juga dalam dunia penerbangan murah yang dipelopori Southwest, revolusi PC yang dipelopori Apple dan DELL, cara minum kopi ala Starbucks, dll.
Apakah industri berita akan memasuki sebuah perubahan konsep industri yang baru?
Wallahu’alam. Tapi jangan-jangan, ketika menggunakan blog atau meng-upload program berita buatan sendiri melalui TV Kabel (kalau nanti masuk ke Indonesia), kita hanya menggunakan teknologi baru namun masih berpikir dengan cara lama? Saya sendiri masih berpikir bahwa blog adalah seperti majalah dinding pribadi yang boleh dikomentari. Paradigma masih lama, cuma teknologi yang berubah. Saya merindukan sebuah paradigma baru di mana blog menjadi sebuah konsep komunikasi yang sama sekali tidak terbayangkan sebelumnya…
Anda bisa membantu ”mencerahkan” saya?