Memilih antara Benar dengan Benar
Panitia piknik keluarga di sekolah anak saya mengalami kebingungan. Waktu pelaksanaan tinggal beberapa hari lagi, namun mereka belum dapat memutuskan apakah akan menggunakan bus untuk menuju ke lokasi. Para orang tua murid terbelah dalam dua kubu yang berselisih. Satu kubu berpendapat, karena sebagian besar orang tua memiliki mobil, lebih baik pergi dengan mobil sendiri-sendiri. Yang tidak memiliki mobil bisa diatur tumpangannya. Kubu yang lainnya berpendapat, karena acaranya untuk kebersamaan dan keakraban antar wali murid, murid dan guru, sebaiknya menyewa bus dan dibuat acara di dalam bus. Orang tua murid justru sebaiknya dilarang membawa mobil.
"Lagipula, bagaimana rasanya orang tua dan anak-anaknya yang tidak memiliki mobil? Pasti merasa tidak enak karena menumpang. Mungkin malah timbul rasa minder. Jangankan begitu, yang mobilnya jelek juga pasti akan dibanding-bandingkan dengan yang mobilnya bagus. Yang punya mobil juga belum tentu enak karena ada yang menumpang. Di mana kebersamaannya?", tambah mereka berargumen.
Kubu yang tidak setuju dengan penggunaan bus bersikukuh. Mereka berpendapat, jumlah yang ikut bus tidak akan banyak, sehingga jatuhnya biaya per keluarga akan mahal. Melarang orangtua membawa mobil sendiri juga akan menimbulkan penolakan. Mereka tentu lebih bebas kalau membawa mobil sendiri-sendiri, dapat leluasa mampir ke mana-mana setelah acara selesai.
Keputusan apa yang harus diambil?Situasi di atas seringkali kita temukan dalam hidup, dan sangat sulit untuk diputuskan. Kenapa? Karena merupakan pilihan antara benar dengan benar. Sebagaimana ahli fisika quantum Niels Bohr mengatakan, ”There are two types of truth. In a superficial truth, the opposite is false. In a deep truth, the opposite is also true”. Kebenaran dapat berlawanan dengan kebenaran lain.
Dalam situasi seperti itu, anda akan membuat keputusan menggunakan nilai-nilai yang anda yakini. Bila anda menilai kebersamaan dan keakraban lebih tinggi dibandingkan efisiensi dan fleksibilitas, anda akan setuju untuk menyewa bus. Dan sebaliknya.
Konflik antara benar dengan benar terjadi di banyak situasi di rumah tangga, kantor dan masyarakat. Beberapa waktu lalu, misalnya, Ketua BAPPENAS Paskah Suzetta mengusulkan agar kendaraan bermotor yang lebih tua tetap dikenai pajak yang lebih rendah. Alasannya: ”Mereka yang memiliki mobil tua adalah mereka yang kurang mampu dibandingkan yang mobilnya baru. Tidak adil bila mereka dibebani pajak yang lebih berat dibanding yang lebih kaya”.
Make sense? Betul. Namun pak Sutiyoso, dkk belum tentu setuju. Jakarta termasuk kota paling terpolusi di dunia. Penyebabnya, antara lain mobil-mobil tua yang asap knalpotnya membuat sesak napas. Belum lagi kalau mogok, bikin macet jalanan. Jakarta harus dibebaskan dari mobil-mobil tua yang tidak layak jalan itu! Terapkan pajak yang lebih besar untuk mereka. Di luar negeri, mereka juga dikenai carbon tax karena pencemaran karbon menimbulkan biaya pengobatan sakit pernapasan yang besar..Kalau merokok saja dikenai cukai dan bila sembarangan didenda, mengapa tidak dilakukan hal yang sama untuk mobil tua?
Ketika memilih kebenaran yang mana akan diambil, anda harus membebaskan diri dari pemikiran bahwa konfliknya ada di luar sana. Yang sedang bertarung adalah konflik dalam diri anda, untuk menimbang nilai mana yang lebih anda sukai, yang membuat hati anda lega. Di situlah perasaan akan berbicara. Namun, bukan semata-mata perasaan yang berjalan tanpa kontrol dari pikiran. Anda juga menyadari, ada orang lain yang memiliki rasa kebenaran yang berbeda dengan anda.
Setuju banget. Karena itu saya heran kok banyak ormas Islam yang ngotot dengan kebenaran yang dianutnya dan memaksa orang untuk mengikuti apa yang mereka percayai. Ada yang masih ngotot dengan cara ritualnyalah yang benar. Misalnya tahlilan, cara penguburan mayat, shalat taraweh dsb. Tapi yang sekarang lebih banyak adalah ngotot dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antar manusia.
Comment by imam — May 30, 2006 @ 9:57 am