Libur Tlah Tiba
Liburan sekolah sudah tiba. Anak-anak sudah merengek minta liburan ke tempat nenek. Kali ini giliran mertua saya di Situbondo, Jawa Timur, untuk melepas kangen dengan cucu-cucunya. Sudah tiga tahun ini mereka tidak pergi ke sana.
Setiap liburan ke kampung, pasti timbul nostalgia masa kecil. Setiap tempat di mana kita tinggal cukup lama pasti menyimpan sejumlah kenangan yang tidak dapat hilang. Memori memang tidak pernah hilang, ia hanya tertumpuk di sudut-sudut ingatan kita, menunggu momen, kata-kata dan peristiwa yang tepat untuk muncul kembali. Seperti kawan lama yang selalu setia.
Pada liburan yang lalu anak-anak saya ajak pulang ke rumah orang tua saya di Kroya, sebuah kecamatan kecil di pantai selatan Jawa Tengah. Sebelum liburan itu, saya sering menceritakan masa kecil saya kepada mereka di saat-saat senggang menjelang tidur. Mereka sangat tertarik dengan kisah-kisah masa kecil saya. Meskipun tidak pintar bercerita, saya mencoba sebisa mungkin melakukannya dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, sambil berusaha menanamkan nilai-nilai kepada mereka. Bercerita adalah cara paling mudah untuk mengajari nilai-nilai.
Agaknya cerita-cerita itu merangsang minat mereka untuk pulang kampung ke tempat nenek mereka. Mungkin untuk meng-crosscheck cerita-cerita saya dengan nenek mereka atau dengan ”situs sejarahnya”. Ibu saya yang memang pandai bercerita menambahi cerita saya dengan bumbu-bumbu humornya yang membuat anak-anak tertawa. Bahkan, cerita masa kecil saya menjadi bahan olok-olokan mereka yang justru membuat bangga.
Namun, seringkali sulit untuk membuktikan ”kebenaran” cerita saya kepada anak-anak karena dunia kecil saya ternyata sudah banyak yang punah. Anak-anak kecil di kampung saya sudah tidak lagi bermain seperti yang dulu saya lakukan. Mereka sudah terkena imbas modernisasi yang mengguyur mereka dengan permainan-permainan impor seperti playstation, bey blade, b-daman dan lainnya. Tidak ada beda antara mainan mereka dengan mainan anak-anak saya yang ”anak Jakarte”.
Saya sungguh bersyukur atas kekayaan jenis permainan di masa kecil, yang membuatnya menjadi kenangan manis. Ada puluhan jenis permainan yang biasa kami lakukan yang tidak tergantikan oleh permainan modern saat ini yang miskin variasi dan kreativitas namun mahal harganya.
Di musim kemarau seperti ini, dulu kami main ke sawah di pinggir kota atau di tempat nenek saya untuk mencari belalang dan jangkrik. Kami memerangkap belalang dengan jaring dan plastik untuk dimasukkan ke dalam botol-botol. Belalang sawah yang kecil adalah makanan lezat bila disangan (digoreng tanpa minyak). Rasanya gurih sekali untuk lidah kami yang jarang makan enak. Jangkrik yang kami cari adalah ”jangkrik sungu” jantan untuk diadu dan didengarkan suaranya. Warnanya dua macam, merah kecoklatan dan hitam. Jangkrik jantan sayapnya memiliki pola seperti benang-benang timbul yang melingkar-lingkar, berbeda dengan yang betina yang berpola kotak-kotak wajik. Sebenarnya, di depan sekolah juga biasanya berderet orang-orang yang menjual jangkrik aduan dalam kotak-kotak berkaca dan bumbung bambu. Namun, mencari jangkrik memberikan keasyikan tersendiri karena kesulitan menemukan dan menangkapnya di sela-sela retakan tanah sawah. Bila mendapatkan yang besar dan selalu menang dalam aduan, bangganya bukan main.
Di kampung nenek saya, mencari udang adalah aktivitas hunting lain yang tak kalah mengasyikkan. Di musim kemarau, air sungai akan menjadi bening dan agak dangkal. Udang-udang sungai yang cukup banyak biasanya bersembunyi di corong-corong pelepah pohon bambu. Kami tinggal menutup ujung corong dan mengangkatnya untuk menangkapnya. Di musim hujan, udang sulit ditangkap karena arus yang lebih deras dan air sungai yang coklat menyulitkan pencarian. Kerang sungai adalah buruan yang muncul di musim hujan. Kita hanya perlu menyelam dan mencari-carinya di dasar sungai. Biasanya populasi mereka terkumpul di satu tempat.
Pertengahan musim hujan setelah musim panen pertama adalah musim berburu belut. Dengan menggunakan petromaks merek storm king kami berombongan menembus kegelapan malam persawahan, mencari belut-belut yang pada tengah malam itu sudah tidur telentang di pematang-pematang sawah. Bunyi kodok dan serangga malam bersaut-sautan menjadi musik tengah malam yang riuh. Anak yang besar kebagian menenteng petromaks dan menangkap buruan. Saya yang kecil biasanya hanya jadi asisten memegang ember berisi hasil tangkapan dan sekali-sekali ikut meng-KO belut yang masih keasyikan tidur. Sekali pukul dengan punggung golok, belut dibuat tak berkutik. Kalau nasib sedang baik, dalam satu malam kami dapat menenteng satu ember belut.
Memancing adalah aktivitas lain yang tidak kalah menarik. Memancing di rawa-rawa dan di muara sungai membutuhkan teknik yang berbeda. Di rawa-rawa, ikan yang diincar adalah ikan gabus dan sepat siam. Ikan gabus harus dipancing dengan umpan hidup karena ia adalah ikan karnivora. Kami biasanya menggunakan bancet (anak katak kecil) yang dimental-mentalkan di atas permukaan air. Ikan gabus akan menyambarnya bila tertarik dan merasa aman.
Memancing di muara sungai harus menggunakan hitung-hitungan. Tidak boleh sembarang waktu. Ikan akan banyak melewati sungai ketika air laut pasang yang waktunya bervariasi mengikuti siklus bulan purnama. Ketika pasang, mereka akan mengikuti air yang bergerak dari hilir ke hulu sungai. Ketika surut, mereka kembali ke laut. Di luar saat pasang dan surut, memancing di muara tidak menghasilkan apa-apa. Ikan sidat, boso, dan bang-bangan adalah ikan payau yang lezat yang biasa kami dapat di muara.
Memancing di teluk membutuhkan sarana dan umpan memancing yang berbeda lagi karena ikan yang diincar lebih besar-besar. Kami pernah mendapat ikan pari dan kiper yang besar di teluk pantai Logending. Butuh ketekunan dan keuletan bila kita ”berduel” dengan ikan laut. Kehebohan suasana ketika ayah saya bergelut dengan ikan kiper besar tangkapannya masih saya kenang sampai sekarang.
Keasyikan memancing di alam bebas seperti itu tidak tergantikan oleh memancing di kolam ikan yang sekarang marak di pinggir-pinggir kota. Bagi saya, memancing di kolam piaraan tidak ada keasyikannya. Tidak alamiah dan kurang menantang.
Selain berburu binatang dan memancing, di pekarangan kami dapat membuat berbagai permainan. ”Kereta” dari pelepah pohon pinang yang diseret beramai-ramai adalah salah satunya. Kami akan bergiliran menaikinya sampai merasa puas. Terompet dari daun pepaya, seruling dari batang padi dan ”sten gun” dari pelepah pisang bisa menjadi sarana bermain yang asyik.
Dari pohon nangka di samping rumah saya dulu, kami biasa membuat mahkota dari daun nangka yang diikat dengan lidi muda. Kami merangkai daun-daun itu sedemikian rupa sehingga diameter lingkarnya pas dengan kepala anak yang mengenakannya. Ayah yang dulu masih muda biasa membelah pelepah daun kelapa yang kering di depan rumah, menjadikannya bilah-bilah untuk kayu bakar. Kami mengambil beberapa bilah itu dan mengikatnya dengan tali rafia atau ijuk. Bilah dengan tali itu lalu diselempangkan ke pundak dan diapit diantara paha menjadi kuda lumping. Dengan tabuhan kaleng-kaleng dan botol bekas, kami menari-nari seperti pemain kuda lumping dengan mahkotanya. Di dalam hati kami membayangkan asyiknya menjadi seorang pangeran yang naik kuda berputar-putar. Mungkin karena keasyikan itu, suatu kali pernah Ibu berteriak ketakutan karena mendapati saya seperti benar-benar ”mendem” (sebutan untuk pemain kuda lumping yang trance). Mata saya melotot dan tidak bereaksi terhadap panggilan. Anak-anak yang lainnya bubar dan saya dibopong ayah saya untuk ditenangkan di bale-bale rumah.
Bermain perang-perangan dengan sumpit bambu, berburu tupai dan burung manyar dengan ketapel, beradu gasing buatan sendiri dari pohon jambu biji, beradu layangan dan mencari rumput untuk kelinci-kelinci piaraan adalah selingan-selingan indah lainnya yang mengisi masa kecil saya. Kebahagiaan-kebahagiaan masa kecil itu tidak membutuhkan banyak uang, namun secara tidak langsung bermanfaat mendidik kreativitas, kerjasama, solidaritas, persaingan, tanggung jawab dan ketabahan dalam menghadapi kekalahan.
Ketika pulang ke kampung halaman, tidak lagi saya jumpai orang-orang yang menjual jangkrik di depan sekolah. Mencari jangkrik dan belalang mungkin sudah tidak menarik lagi. Sungai, muara dan sawah sudah overfishing: ikan-ikan, belut dan udang tidak sempat berkembang biak sudah ramai-ramai diambil. Sungai kecilku sudah tidak menarik lagi karena debit airnya jauh berkurang akibat pemukiman di bukit telah mengurangi pohon-pohon penahan air. Orang-orang yang serakah menggunakan accu dipunggung untuk menyetrum udang-udang dan anak ikan. Kerang sungai sudah lama tidak dijumpai. Rumpun bambu kecil untuk sumpit mungkin juga sudah tidak ada lagi yang menanam. Tupai dan burung-burung manyar sudah jarang terlihat. Pengalaman masa kecilku tidak lagi dapat diulang.
Anak-anak tidak butuh uang untuk berbahagia. Anak-anak yang bermain dengan mobil-mobilan impor seharga 500 ribu tidak lebih bahagia 500 kali lipat dibandingkan yang bermain mobil-mobilan dari kulit jeruk bali buatan sendiri. Gasing buatan China tidak mengajarkan kreativitas sebesar bonggol pohon jambu. Sungai dan sawah tidak kalah memberikan tantangan dibandingkan amazon, timezone, dan zone-zone lain yang marak di mall-mall. Menyantap belalang goreng tangkapan sendiri jauh lebih nikmat dan sehat daripada fried chicken dan junk food lainnya.
Waktu memang tidak bisa diputar balik. Anak-anak saya tidak hidup di zaman saya. Tapi, salahkah saya bila menginginkan mereka bahagia dengan beragam permainan, tanpa harus menguras kantong saya?