web page hit counter

a beautiful mind

June 26, 2006

Libur Tlah Tiba

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 10:12 am

Liburan sekolah sudah tiba. Anak-anak sudah merengek minta liburan ke tempat nenek. Kali ini giliran mertua saya di Situbondo, Jawa Timur, untuk melepas kangen dengan cucu-cucunya. Sudah tiga tahun ini mereka tidak pergi ke sana.

Setiap liburan ke kampung, pasti timbul nostalgia masa kecil. Setiap tempat di mana kita tinggal cukup lama pasti menyimpan sejumlah kenangan yang tidak dapat hilang. Memori memang tidak pernah hilang, ia hanya tertumpuk di sudut-sudut ingatan kita, menunggu momen, kata-kata dan peristiwa yang tepat untuk muncul kembali. Seperti kawan lama yang selalu setia.

Pada liburan yang lalu anak-anak saya ajak pulang ke rumah orang tua saya di Kroya, sebuah kecamatan kecil di pantai selatan Jawa Tengah. Sebelum liburan itu, saya sering menceritakan masa kecil saya kepada mereka di saat-saat senggang menjelang tidur. Mereka sangat tertarik dengan kisah-kisah masa kecil saya. Meskipun tidak pintar bercerita, saya mencoba sebisa mungkin melakukannya dengan gaya bahasa yang mudah dipahami, sambil berusaha menanamkan nilai-nilai kepada mereka. Bercerita adalah cara paling mudah untuk mengajari nilai-nilai.

Agaknya cerita-cerita itu merangsang minat mereka untuk pulang kampung ke tempat nenek mereka. Mungkin untuk meng-crosscheck cerita-cerita saya dengan nenek mereka atau dengan ”situs sejarahnya”. Ibu saya yang memang pandai bercerita menambahi cerita saya dengan bumbu-bumbu humornya yang membuat anak-anak tertawa. Bahkan, cerita masa kecil saya menjadi bahan olok-olokan mereka yang justru membuat bangga.

Namun, seringkali sulit untuk membuktikan ”kebenaran” cerita saya kepada anak-anak karena dunia kecil saya ternyata sudah banyak yang punah. Anak-anak kecil di kampung saya sudah tidak lagi bermain seperti yang dulu saya lakukan. Mereka sudah terkena imbas modernisasi yang mengguyur mereka dengan permainan-permainan impor seperti playstation, bey blade, b-daman dan lainnya. Tidak ada beda antara mainan mereka dengan mainan anak-anak saya yang ”anak Jakarte”.

Saya sungguh bersyukur atas kekayaan jenis permainan di masa kecil, yang membuatnya menjadi kenangan manis. Ada puluhan jenis permainan yang biasa kami lakukan yang tidak tergantikan oleh permainan modern saat ini yang miskin variasi dan kreativitas namun mahal harganya.

Di musim kemarau seperti ini, dulu kami main ke sawah di pinggir kota atau di tempat nenek saya untuk mencari belalang dan jangkrik. Kami memerangkap belalang dengan jaring dan plastik untuk dimasukkan ke dalam botol-botol. Belalang sawah yang kecil adalah makanan lezat bila disangan (digoreng tanpa minyak). Rasanya gurih sekali untuk lidah kami yang jarang makan enak. Jangkrik yang kami cari adalah ”jangkrik sungu” jantan untuk diadu dan didengarkan suaranya. Warnanya dua macam, merah kecoklatan dan hitam. Jangkrik jantan sayapnya memiliki pola seperti benang-benang timbul yang melingkar-lingkar, berbeda dengan yang betina yang berpola kotak-kotak wajik. Sebenarnya, di depan sekolah juga biasanya berderet orang-orang yang menjual jangkrik aduan dalam kotak-kotak berkaca dan bumbung bambu.  Namun, mencari jangkrik memberikan keasyikan tersendiri karena kesulitan menemukan dan menangkapnya di sela-sela retakan tanah sawah. Bila mendapatkan yang besar dan selalu menang dalam aduan, bangganya bukan main.

Di kampung nenek saya, mencari udang adalah aktivitas hunting lain yang tak kalah mengasyikkan. Di musim kemarau, air sungai akan menjadi bening dan agak dangkal. Udang-udang sungai yang cukup banyak biasanya bersembunyi di corong-corong pelepah pohon bambu. Kami tinggal menutup ujung corong dan mengangkatnya untuk menangkapnya. Di musim hujan, udang sulit ditangkap karena arus yang lebih deras dan air sungai yang coklat menyulitkan pencarian. Kerang sungai adalah buruan yang muncul di musim hujan. Kita hanya perlu menyelam dan mencari-carinya di dasar sungai. Biasanya populasi mereka terkumpul di satu tempat.

Pertengahan musim hujan setelah musim panen pertama adalah musim berburu belut. Dengan menggunakan petromaks merek storm king kami berombongan menembus kegelapan malam persawahan, mencari belut-belut yang pada tengah malam itu sudah tidur telentang di pematang-pematang sawah. Bunyi kodok dan serangga malam bersaut-sautan menjadi musik tengah malam yang riuh. Anak yang besar kebagian menenteng petromaks dan menangkap buruan. Saya yang kecil biasanya hanya jadi asisten memegang ember berisi hasil tangkapan dan sekali-sekali ikut meng-KO belut yang masih keasyikan tidur. Sekali pukul dengan punggung golok, belut dibuat tak berkutik. Kalau nasib sedang baik, dalam satu malam kami dapat menenteng satu ember belut.

Memancing adalah aktivitas lain yang tidak kalah menarik. Memancing di rawa-rawa dan di muara sungai membutuhkan teknik yang berbeda. Di rawa-rawa, ikan yang diincar adalah ikan gabus dan sepat siam. Ikan gabus harus dipancing dengan umpan hidup karena ia adalah ikan karnivora. Kami biasanya menggunakan bancet (anak katak kecil) yang dimental-mentalkan di atas permukaan air. Ikan gabus akan menyambarnya bila tertarik dan merasa aman.

Memancing di muara sungai harus menggunakan hitung-hitungan. Tidak boleh sembarang waktu. Ikan akan banyak melewati sungai ketika air laut pasang yang waktunya bervariasi mengikuti siklus bulan purnama. Ketika pasang, mereka akan mengikuti air yang bergerak dari hilir ke hulu sungai. Ketika surut, mereka kembali ke laut. Di luar saat pasang dan surut, memancing di muara tidak menghasilkan apa-apa. Ikan sidat, boso, dan bang-bangan adalah ikan payau yang lezat yang biasa kami dapat di muara.

Memancing di teluk membutuhkan sarana dan umpan memancing yang berbeda lagi karena ikan yang diincar lebih besar-besar. Kami pernah mendapat ikan pari dan kiper yang besar di teluk pantai Logending. Butuh ketekunan dan keuletan bila kita ”berduel” dengan ikan laut. Kehebohan suasana ketika ayah saya bergelut dengan ikan kiper besar tangkapannya masih saya kenang sampai sekarang.

Keasyikan memancing di alam bebas seperti itu tidak tergantikan oleh memancing di kolam ikan yang sekarang marak di pinggir-pinggir kota. Bagi saya, memancing di kolam piaraan tidak ada keasyikannya. Tidak alamiah dan kurang menantang.

Selain berburu binatang dan memancing, di pekarangan kami dapat membuat berbagai permainan. ”Kereta” dari pelepah pohon pinang yang diseret beramai-ramai adalah salah satunya. Kami akan bergiliran menaikinya sampai merasa puas. Terompet dari daun pepaya, seruling dari batang padi dan ”sten gun” dari pelepah pisang bisa menjadi sarana bermain yang asyik.

Dari pohon nangka di samping rumah saya dulu, kami biasa membuat mahkota dari daun nangka yang diikat dengan lidi muda. Kami merangkai daun-daun itu sedemikian rupa sehingga diameter lingkarnya pas dengan kepala anak yang mengenakannya. Ayah yang dulu masih muda biasa membelah pelepah daun kelapa yang kering di depan rumah, menjadikannya bilah-bilah untuk kayu bakar. Kami mengambil beberapa bilah itu dan mengikatnya dengan tali rafia atau ijuk. Bilah dengan tali itu lalu diselempangkan ke pundak dan diapit diantara paha menjadi kuda lumping. Dengan tabuhan kaleng-kaleng dan botol bekas, kami menari-nari seperti pemain kuda lumping dengan mahkotanya. Di dalam hati kami membayangkan asyiknya menjadi seorang pangeran yang naik kuda berputar-putar. Mungkin karena keasyikan itu, suatu kali pernah Ibu berteriak ketakutan karena mendapati saya seperti benar-benar ”mendem” (sebutan untuk pemain kuda lumping yang trance). Mata saya melotot dan tidak bereaksi terhadap panggilan. Anak-anak yang lainnya bubar dan saya dibopong ayah saya untuk ditenangkan di bale-bale rumah.

Bermain perang-perangan dengan sumpit bambu, berburu tupai dan burung manyar dengan ketapel, beradu gasing buatan sendiri dari pohon jambu biji, beradu layangan dan mencari rumput untuk kelinci-kelinci piaraan adalah selingan-selingan indah lainnya yang mengisi masa kecil saya. Kebahagiaan-kebahagiaan masa kecil itu tidak membutuhkan banyak uang, namun secara tidak langsung bermanfaat mendidik kreativitas, kerjasama, solidaritas, persaingan, tanggung jawab dan ketabahan dalam menghadapi kekalahan.

Ketika pulang ke kampung halaman, tidak lagi saya jumpai orang-orang yang menjual jangkrik di depan sekolah. Mencari jangkrik dan belalang mungkin sudah tidak menarik lagi. Sungai, muara dan sawah sudah overfishing: ikan-ikan, belut dan udang tidak sempat berkembang biak sudah ramai-ramai diambil. Sungai kecilku sudah tidak menarik lagi karena debit airnya jauh berkurang akibat pemukiman di bukit telah mengurangi pohon-pohon penahan air. Orang-orang yang serakah menggunakan accu dipunggung untuk menyetrum udang-udang dan anak ikan. Kerang sungai sudah lama tidak dijumpai. Rumpun bambu kecil untuk sumpit mungkin juga sudah tidak ada lagi yang menanam. Tupai dan burung-burung manyar sudah jarang terlihat. Pengalaman masa kecilku tidak lagi dapat diulang.

Anak-anak tidak butuh uang untuk berbahagia. Anak-anak yang bermain dengan mobil-mobilan impor seharga 500 ribu tidak lebih bahagia 500 kali lipat dibandingkan yang bermain mobil-mobilan dari kulit jeruk bali buatan sendiri. Gasing buatan China tidak mengajarkan kreativitas sebesar bonggol pohon jambu. Sungai dan sawah tidak kalah memberikan tantangan dibandingkan amazon, timezone, dan zone-zone lain yang marak di mall-mall. Menyantap belalang goreng tangkapan sendiri jauh lebih nikmat dan sehat daripada fried chicken dan junk food lainnya.

Waktu memang tidak bisa diputar balik. Anak-anak saya tidak hidup di zaman saya. Tapi, salahkah saya bila menginginkan mereka bahagia dengan beragam permainan, tanpa harus menguras kantong saya?

Anakmu Bukan Anakmu

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 9:39 am

Kamis lalu Pak Marzuki Usman, mantan menteri dan ketua BAPEPAM, hadir dalam leadership forum yang diselenggarakan di kantor saya. Beliau memaparkan analisis SWOT Indonesia menghadapi persaingan global. Gaya bahasanya yang seperti bertutur cerita dan diselingi humor membuat materi yang serius menjadi enak diikuti. Dari presentasinya itu, ada satu hal yang berkesan buat saya, yaitu mengenai era perdagangan bebas 2020 yang tinggal 14 tahun lagi. Era di mana anak-anak kita akan masuk dunia kerja.

Dunia macam apa yang akan dihadapi anak-anak kita saat itu? Pasca 2020, pergerakan orang, barang dan uang lintas negara akan menjadi bebas tanpa hambatan. Pajak bea masuk dan hambatan-hambatan non-tarif ditiadakan. Peraturan yang berlaku untuk tenaga kerja asing akan sama dengan tenaga kerja domestik, tidak ada diskriminasi. Lalu lintas uang antar negara yang saat ini sudah demikian mudah, akan berjalan jauh lebih cepat.

Terus terang, saya agak sulit membayangkannya. Apakah kedaulatan ekonomi suatu negara menjadi tidak relevan lagi saat itu? Saya mencoba memahami masa depan itu dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekarang. Masa depan adalah kelanjutan dari masa lalu dan sekarang. Dari segi mobilitas manusia lintas negara, memang saat ini gejalanya sudah tampak. Dulu, ekspatriat yang kita kenal adalah bule-bule yang menjadi eksekutif puncak di perusahaan multinasional. Sekarang, ”ekspat coklat” dari India dan Filipina banyak yang bekerja di posisi-posisi menengah dan tinggi yang dulunya diisi orang-orang kita. Gaji mereka tidak terpaut banyak dari kita, namun kemampuannya bisa jauh lebih tinggi. Sewaktu saya diwawancara untuk masuk kantor saya sekarang sebagai head of internal audit, saingan saya adalah seorang filipino. Entah mengapa, manajemen akhirnya memilih saya. (Penjelasan paling masuk akal barangkali adalah karena saya lebih murah daripada si filipino, meskipun dia sudah ”banting harga”). Saat ini, ada dua ”ekspat coklat” dari India dan Burma yang bekerja di kantor saya. Di kantor sebelumnya sebagai konsultan, dua bos saya adalah ”ekspat coklat” keturunan India dari Amerika, sementara rekan saya seorang flemish (Belgia) yang gajinya mengikuti standar Indonesia.

Mungkin di era AFTA nanti, jumlah ”ekspat coklat” yang mengisi posisi-posisi menengah dan bawah akan lebih banyak lagi. Saya membayangkan nanti akan banyak orang Malaysia, Singapura dan Thailand yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta kita. Perusahaan-perusahaan mereka sudah banyak yang masuk ke sini, dari sektor agrikultur, perbankan, sampai industri hiburan. Di sektor perdagangan, orang-orang China daratan akan banyak hadir karena produk mereka yang membanjir ke sini akan membutuhkan saluran distribusi dan pelayanan yang lebih baik. Di tahun 2020, PDB China akan lebih besar dari Amerika bila dihitung berdasar Purchasing Power Parity. Barang-barang China akan lebih merajai dunia dibanding saat ini.

Bagaimana dengan orang Indonesia menjadi ekspat di luar negeri? Saat ini puluhan ribu saudara-saudara kita sudah menjadi ”ekspat” di luar negeri. Sayangnya, paling banyak masih sebagai TKW Pembantu atau TKI di Malaysia. Kampung nenek saya di pesisir selatan Jawa Tengah sudah kehabisan stok pembantu umur 18-35 tahun. Sebagian besar mereka sudah hidup di Hongkong, Taiwan, Singapura dan Timur Tengah sebagai ”ekspat”. Kondisi ini tak terbayangkan 30 tahun lalu, ketika jalur impian kerja orang kampung masih ke Jakarta. Saat ini, bekerja di Jakarta dengan pendapatan hanya sepersepuluhnya upah Hongkong adalah pilihan terakhir buat mereka. Saya harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapat pembantu dari kampung orang tua saya.

Sekarang semakin banyak juga kelas menengah kita yang bekerja di luar negeri. Teman-teman saya ada yang menjadi guru TK dan sales engineer di AS, aktuaris di Singapura, drilling superintendent di Qatar, staff ADB di Filipina, supir di Saudi, dan dosen di Malaysia. Dengan komunikasi dan transportasi yang makin mudah, di mana pun kita berada, jaraknya terasa dekat. Dengan internet kita bisa berkomunikasi dengan murah dan mudah. Melalui blog saya yang sederhana ini, saya dapat berkomunikasi dengan teman-teman Indonesia yang menyebar dari Pakistan, Belanda, Jerman, AS dan Inggris sampai ke Semarang dan Yogyakarta. Belum lagi bila memanfaatkan kemudahan-kemudahan lain untuk komunikasi interaktif yang bersifat real-time seperti instant messaging dan internet telephony. Ibu saya yang sederhana dapat menghubungi anak-anaknya yang menyebar di Aceh, Yogya dan Jakarta kapan saja hanya dengan memencet tombol handphone yang dibeli seharga 600 ribu rupiah.

Liberalisasi perdagangan juga mulai terasa di setiap sudut kehidupan. Barang-barang China membanjir, dari peniti, mainan anak-anak sampai buah-buahan. Dijajakan oleh supermarket, kaki lima, maupun asongan yang melompat dari bis ke bis. Harganya super murah, sampai sulit membayangkan berapa untungnya. Retailer asing juga merambah pasar-pasar kita, dari hypermarket sampai toko 24 jam. Bank-bank, stasiun TV, perusahaan telekomunikasi, pabrik semen, perkebunan dan perusahaan rokok sudah dikuasai asing. Pom-pom bensin dari Shell, BP dan Petronas mulai masuk. Sekolah-sekolah berlisensi dari Turki, Singapura dan Australia sudah beroperasi. Properti di Singapura, Australia dan Mekah dipamerkan dan diborong orang-orang kaya kita. Orang-orang dari Negeria dan negara Afrika lainnya keluar masuk Tanah Abang membeli pakaian berkodi-kodi (selain ada juga yang “nyambi” jualan sabu dan ekstasi). Pasar kita sudah menjadi pasar internasional.

Apa makna dari gejala ini? Dunia sedang berubah cepat. Antisipasi masa depan sangat diperlukan agar kita dapat mengambil kesempatan dan tidak terlibas karena perubahan itu. Anak-anak kita akan hidup pada era yang tidak sama dengan era kita, sebagaimana penyair Kahlil Gibran mengungkapkan dalam bait-bait puisinya:

Your children are not your children:
They are the sons and daughters of life’s longing for itself
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you
You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts
You may have their bodies, but not their souls
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams
You may strive to be like them, but seek not to make them like you
For life goes not backward nor tarries with yesterday

Mudah-mudahan, anak-anak kita akan siap sedia dalam mengarungi hidup yang berbeda dari zaman kita. Hidup di mana dunia adalah kampung kecil, jarak menjadi pendek dan persaingan semakin ketat. Namun, juga dunia yang kita harapkan lebih baik dengan kualitas hidup yang lebih sehat. Dunia di mana Indonesia yang kita cintai sudah bebas dari kekerdilan berpikir dan keculasan moral. Indonesia yang maju dan beradab, sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Indonesia yang dihargai bangsa lain karena keahlian-keahliannya dan-–jauh lebih penting—karena kejujuran tindak-tanduknya. Bukan lagi Indonesia yang nomor satu dalam korupsi, kejahatan kartu kredit (carding), pembabatan hutan dan perusakan lingkungan. Semoga. Amien.

June 19, 2006

Rekor Nama

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 8:56 am

Saya tidak tahu, apakah sudah dicatat dalam rekor MURI nama paling pendek dan paling panjang di Indonesia. Kalau belum, ada peluang bagi anda untuk mengejar rekor itu! Anda bisa merancang sedemikian rupa sehingga nama anak anda paling pendek atau paling panjang, lalu daftarkan ke Jaya Suprana, bos jamu cerdas dan kocak yang mengelola MURI.

Mungkin nama terpendek yang paling umum di Indonesia adalah Titik. Kalau dieja dengan normal, ada 5 digit huruf. Tapi, kalau dieja dengan tanda baca, cuma satu digit. Bisa saja anak perempuan anda dinamakan Titik dengan cara penulisan . lalu daftarkan ke MURI. (Cuma nanti di KTP dan ijazah, orang bisa bingung karena disangkanya di kolom nama masih kosong. Kalau begitu, titiknya diperbesar saja biar jelas).

Teman sekantor di Pemerintahan dulu ada yang bernama sangat pendek, hanya 3 huruf: OHA. Enaknya, cepat dihapal dan ditulis. Tidak enaknya, orang sering menganggapnya hanya sebagai nama panggilan. Dia selalu diminta nama lengkapnya. Padahal, ya itu sudah nama lengkapnya!

Nama terpanjang yang saya kenal adalah teman saya di SMA dulu, yang terdiri 27 huruf dan 6 kata: ARYO ANGKA ASA ARAS AJI SAJIANTO. Kalau berhubungan dengan bank atau asuransi yang harus mencantumkan nama lengkap, bagian IT Perusahaan itu mungkin harus menambah digit di sistem untuk mengakomodasi namanya. Mungkin KTP-nya juga harus dua lembar, yang satu lembar khusus berisi lampiran nama lengkapnya. Saya yakin, nama teman saya itu belum yang terpanjang. Anda masih punya peluang mengalahkannya dan mendaftarkan ke MURI.

Pangeran Diponegoro dulu juga punya nama sangat panjang: Sultan Abdul Hamid Erucokro Amirul Mukminin Sayidin Panotogomo Khalifatullah Ing Tanah Jowo. Tujuh puluh sembilan digit! Tapi itu gelar, bukan nama.

Konsultan Pemberian Nama

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 8:43 am

Di bulan ini banyak sekali saudara dan teman-teman yang melahirkan atau sudah hamil tua. Adik perempuan dan tante saya minggu lalu hanya selang sehari melahirkan. Ada cukup banyak juga tetangga dan rekan kerja yang sudah atau akan melahirkan dalam bulan-bulan ini. Kalender teman saya yang paling rajin memantau data ulang tahun juga penuh, hampir setiap hari di bulan Juni-Juli ini ada yang merayakan ulang tahun. (Saya curiga, jangan-jangan di bulan Juni sampai Agustus paling banyak terjadi kelahiran. Anak yang lahir di Juni-Agustus berarti ”dibuat” pada bulan September- November, yaitu musim penghujan. Hipotesa saya, di musim penghujan orang cenderung lebih produktif ”membikin anak”, aktivitas yang sehat, produktif dan enak dilakukan di saat dingin….. Sementara itu, di bulan ini saya kira terjadi penurunan ”produktivitas” karena kemarau dan piala dunia).

Salah satu yang bikin pusing ketika baru memiliki anak adalah memberi nama. Entah mengapa, saya dan istri seringkali dimintai pendapat atau usulan mengenai nama anak. Mungkin karena sudah berpengalaman memberi nama atau dianggap banyak memiliki ide atau alasan yang lain. Entahlah. Tapi, sejujurnya setiap kali diminta mencarikan nama, kami sungguh pusing tujuh keliling. Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan: selera dan aspirasi orang tua, tren nama yang sedang in, kecocokan, keindahan, keunikan, kaidah-kaidah masyarakat dan agama, dan lain-lain. Banyak sekali faktornya. Memberi nama lebih merupakan seni daripada ilmu dan sangat personal sifatnya.

Sulitnya, kalau kita ke toko buku atau mencari inspirasi di internet, sedikit sekali referensi yang ada mengenai ”teknik dan seni” memberi nama anak. Kalau pun ada, biasanya hanya memberi contoh-contoh nama dan maknanya. Hampir tidak ada yang mengupas mengenai bagaimana memilih yang sesuai. Ibaratnya, kita hanya disodori daftar menu makanan, bukan ilmu memilih makanan yang cocok. Tidak ada bedanya dengan kalau kita melihat nama-nama di Yellow Pages.

Mengingat pentingnya nama, kelihatannya perlu semacam riset dan pedoman praktis pemberian nama. Pasti banyak orang yang merasa tertolong karenanya. Bagi anda yang kreatif, mungkin dapat membuat website khusus mengenai ini yang berisi database nama-nama untuk inspirasi, mengecek keunikan, most frequently used, menyediakan konsultasi khusus bagi orang yang masih bingung, melacak tren, tips-tips, statistik dan lainnya.. Pasti akan banyak orang tua yang sedang kebingungan mencari nama anak yang mendatanginya. (Dan akhirnya, perusahaan popok bayi, susu, dan lainnya yang ingin beriklan di tempat anda).

Anda juga dapat mendorong agar keahlian memberi nama menjadi disiplin ilmu baru. Siapa tahu suatu ketika akan ada pasar untuk jasa konsultasi pemberian nama anak. Anda juga dapat mulai menyusun ”body of knowledge” untuk para calon ahli konsultan itu. Dulu, misalnya, orang tidak berpikir bahwa mencukur rambut bisa menjadi satu disiplin keahlian, meskipun tukang cukur dari zaman baheula sudah ada. Sekarang, hair consultant sudah dianggap sebagai suatu profesi.

Saya membayangkan ada percakapan dari klien seperti ini, ”Pak, saya butuh alternatif nama untuk anak laki-laki saya. Saya dari keluarga muslim, ingin yang ada nuansa muslimnya, tapi tidak terlalu kental. Saya juga ingin ada unsur jawanya atau Indonesia. Nama terdiri dari 3 kata, di awali huruf C karena dua anak saya sudah diawali huruf A dan B, cukup unik, tapi tidak aneh. Kalau bisa tidak ada lebih dari 10 orang di Indonesia yang pernah menggunakannya. Coba di-search di database Bapak”. Seperti seorang arsitek, setelah menerima order seperti itu anda melakukan proses kreatif mencari nama untuk klien anda.

So, konsultan dalam pemberian nama anak, kenapa tidak?

Orang mungkin bersedia membayar beberapa puluh ribu rupiah untuk konsultasi nama anaknya. Untuk sebuah”nama cantik” yang sangat cocok mungkin ada tambahan bonus beberapa ribu ekstra. Tidak ada hadiah yang lebih berharga dibandingkan nama untuk seorang anak. Hadiah lain akan hilang dan musnah, namun nama akan melekat bersamanya, selamanya…

June 15, 2006

Bingung Menyekolahkan Anak?

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 6:00 pm

Anis, teman dari Yogya, bertanya apakah lebih baik menyekolahkan anak di TK/SD favorit atau di TK/SD yang biasa-biasa saja? Sulit juga menjawabnya.

Tulisan saya mengenai pilihan sekolah sebenarnya dipicu oleh komentar Imam Rasyidi di bilik ngedumelnya. Menurut saya, ada beberapa variabel yang perlu dipertimbangkan:

Stamina

Pendidikan anak membutuhkan stamina keuangan yang cukup besar. Untuk itu, kita harus pandai mengukur kemampuan diri. Ibaratnya lari, menyekolahkan anak seperti berlari marathon. Kalau kita terlalu semangat sprint di awal, kita dapat kehabisan nafas pada menit-menit berikutnya. Kalau kita punya uang 20 juta, misalnya, apakah akan kita pakai untuk menyekolahkan anak di SD favorit, atau uang itu ditabung dalam bentuk asuransi pendidikan untuk keperluannya di pendidikan tinggi? Dengan mengasumsikan tingkat bunga rata-rata 15%, uang 20 juta itu bila ditabung akan menjadi 107 juta lebih di saat dia masuk perguruan tinggi.

Namun demikian, penghematan dari segi uang itu dapat berarti sedikit pengorbanan dalam kualitas pendidikan dasar anak. Idealnya memang kita bisa menyekolahkan anak di sekolah yang top dari kecil sampai perguruan tinggi. Namun, tidak semua kita memiliki kemampuan seperti itu dan harus memilih, mana yang harus dikorbankan.

Kalau kita mengacu pada penelitian DR William Danko dan DR Thomas Stanley mengenai 638 miliuner di Amerika Serikat, kesuksesan finansial mereka bukan berasal dari kemampuan akademis. Mereka rata-rata bukan siswa dengan nilai A. Namun demikian, mereka merasakan manfaat bersekolah dan banyak belajar di dalamnya, bukan pada mata inti pelajaran akademis, tapi mengenai bagaimana berdisiplin dan memiliki keteguhan hati.

Selanjutnya, DR Danko & Stanley mencatat bahwa pada kelompok miliuner yang agak "kurang cerdas" (nilai SAT kurang dari 1000):

  • 72% mengatakan bahwa kesuksesan finansial mereka disebabkan oleh perjuangan untuk menghilangkan cap "rata-rata atau kurang mampu".
  • 93% mengatakan kerja keras lebih penting dari bakat intelektual tinggi dalam mencapai cita-cita.
  • Sebagian besar merasa yang penting dari sekolah adalah mengajari untuk mengalokasikan waktu dan membuat penilaian akurat mengenai orang.

Sebagian besar para miliuner itu juga menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri yang murah. (Sementara, kelas menengah yang jauh kurang mampu dari mereka menyekolahkan anak-anaknya di sekolah swasta yang mahal.) So? Apa yang perlu diperoleh dari sekolah bukan sebatas kepandaian akademis, namun gemblengan mental untuk disiplin, ulet dan kerja keras. Dan sekolah favorit belum tentu menyediakan "kurikulum" mental seperti itu yang lebih baik.

Konsistensi.

Sebagai orang tua, kita diharapkan adil kepada anak. Saya ingat ibu saya yang bersikeras untuk menguliahkan adik perempuan saya, meskipun pada saat itu keuangan keluarga sedang sangat berat karena dua adiknya juga pada saat yang sama masih kuliah. Biasanya, anak perempuan dalam kondisi seperti itu dikalahkan. Namun ibu saya berujar, " Saya tidak mau disalahkan karena tidak adil. Semua anak harus mendapat kesempatan sekolah yang sama, bagaimana pun beratnya". Dia memang ibuku yang bijaksana.

Seorang teman saya ada yang mulai merasakan beratnya menyekolahkan anak, karena SPP tiap tahun terus mengalami kenaikan, akhirnya hanya sanggup menyekolahkan anak pertamanya saja di sekolah favorit swasta. Adik-adiknya disekolahkan di SD negeri. Saya melihat bahwa dia tidak konsisten dan mungkin dipersepsikan tidak adil oleh anak-anaknya yang disekolahkan di negeri.

Karena itu, bila anda punya anak lebih dari satu (atau merencanakan lebih dari 1), anda harus berpikir apakah anda akan dapat konsisten/adil ke semua anak dan konsisten untuk terus berada pada jalur biaya tinggi. Jangan nanti begitu dirasa berat, di tengah jalan anak-anak anda dipindahkan ke sekolah yang lebih murah karena anda "kehabisan nafas".

Ada teman yang menyiasati dengan menyekolahkan anak di sekolah negeri tapi menambahkan les-les di sore hari, dari les agama sampai musik. Les-les sangat menjamur ditawarkan di kota besar. Tinggal pilih mana yang sesuai dengan bakat anak anda. Keuntungan dari les adalah dia dapat diteruskan/dihentikan sesuai "kesehatan kantong" anda. Bila perlu, anda dan istri mengajari sendiri anak-anak dengan pelajaran ekstra di rumah.

Nilai-Nilai

Penting tidaknya menyekolahkan di tempat favorit juga tergantung nilai-nilai yang anda pegang. Ada orang yang menyekolahkan anaknya di tempat mahal agar gengsinya naik. "Jeng, sekolah anaknya di mana? Wah, hebat ya… bisa sekolah di situ. Si anu yang dirjen itu dan si itu yang dirut anu juga anaknya disekolahkan di situ, lho…" Begitu mungkin gunjingan ibu-ibu arisan membanding-bandingkan anaknya (untuk "mengukur" teman bicaranya).

Ada juga teman yang bekerja di bagian sales yang menganggap bersekolah di sekolah bergengsi meningkatkan network dia. Dengan aktif dalam persatuan orang tua murid atau Komite Sekolah, dia mengenal banyak orang yang dapat diprospek atau menjadi referral untuk penjualan produk-produknya.

Teman saya yang bekerja di satu TV swasta lain lagi. Dia berpendapat bahwa nilai belajar tidak dapat diukur dengan uang. Selama dia mampu saat ini, dia akan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Komentarnya ketika saya mengeluhkan biaya sekolah yang tinggi:

"Hen, coba kamu bandingkan dirimu dengan orang tuamu. Dulu orang tuamu menyekolahkan kamu mungkin sampai menghabiskan lebih dari 50% pendapatan bulanan mereka. Mungkin juga dengan berhutang sana-sini demi kamu. Biaya sekolah anakmu mahal, tapi apakah sudah mencapai 50% pendapatanmu? Mungkin baru 10%-20% saja. Jadi, dibandingkan orang tuamu, bebanmu masih relatif ringan sekali"

Betul juga. Jadi, gimana dong? Terserah anda sebagai orang tua untuk menimbang-nimbang.

June 14, 2006

Bersiap Diri

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 2:31 pm

"Si pandir yang menyanyi sepanjang musim panas akan menangis sepanjang musim dingin." Demikian bunyi suatu peribahasa Barat yang pernah saya baca. Kelihatannya dalam semua kebudayaan, pentingnya antisipasi terhadap masa depan merupakan kebijaksanaan umum (common wisdom). Dalam bahasa Indonesia, kita biasa mendengar pepatah "sedia payung sebelum hujan" yang dipahami maknanya oleh hampir semua orang. Ada lagi pepatah sejenis, entah aslinya dalam bahasa apa, yang berbunyi: "Galilah sumur sebelum anda kehausan". Pesannya sama: bertindaklah secara antisipatif terhadap kemungkinan-kemungkinan masa depan.

Dalam agama, common wisdom ini juga diingatkan Nabi, yang dilantunkan secara merdu dalam lagu Rayhan: ingat 5 perkara, sebelum datang 5 perkara. Lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum mati. Nabi Yusuf diangkat menjadi bendahara Firaun juga karena keahliannya melakukan tindakan antisipatif, menyiapkan stok pangan dalam 7 tahun kemakmuran untuk kebutuhan 7 tahun kekeringan. Cerita Nabi Yusuf yang diangkat dalam kitab suci tersebut mengandung hikmah luar biasa mengenai pentingnya antisipasi masa depan.

Pentingnya tindakan antisipasi juga berlipat ganda karena adanya suatu paradoks mengenainya. Menggali sumur di saat air sedang berlimpah ruah terlihat seperti usaha sia-sia. Orang-orang mungkin akan mencemooh bila anda melakukannya. Memperingatkan mereka bahwa suatu ketika air akan sulit didapat juga belum tentu membawa hasil, apalagi bila seumur hidup mereka tidak pernah mengalaminya. Namun demikian, bila kemudian terjadi musim kemarau panjang , orang baru menyadari perlunya menggali sumur. Padahal pada saat kekeringan seperti itu, tanah lebih sulit digali, energi manusia juga berkurang karena kurang minum, dan cuaca panas menyengat membuat orang cepat lelah. Di situlah terletak paradoks-nya. Persiapan sangat mudah dilakukan ketika anda sedang tidak memerlukannya. Pada saat anda sedang memerlukannya, segalanya sudah menjadi jauh lebih sulit.

Meskipun namanyacommon wisdom, tidak berarti masyarakat secara umum menjalaninya. Seringkali apa yang disebut "knowledge/action gap" terjadi. Mengetahui bahwa sesuatu bagus tidak berarti anda otomatis melakukannya. Merokok itu jelek, namun di Indonesia jutaan orang merokok, menyumbang triliunan rupiah cukai ke kas negara dan triliunan yang tidak terhitung dalam bentuk ongkos biaya kesehatan. Menabung itu bagus, dari kecil kita sudah diajari untuk melakukannya, namun masyarakat kita termasuk sangat sulit menabung. Dalam kacamata para ekonom, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menabung (marginal propensity to save =mps) yang rendah, jauh dibandingkan Jepang, misalnya. Akibatnya, kita jadi negara yang gemar berhutang untuk menutup kebutuhan kita. Olah raga teratur itu bagus, tapi siapa di antara kita yang melakukannya?

Mengapa tindakan antisipatif tidak selalu dilakukan orang? Dalam kacamata agama, mungkin karena kita terlena dengan hawa nafsu kita. Kita tidak tahan mengekang nafsu kita saat ini sebagai ongkos untuk masa depan yang lebih baik. Keengganan melakukan antisipasi juga karena orang-orang seringkali tidak melihat jauh ke depan, atau tidak meyakini suatu kemungkinan akan terjadi. Tidak semua orang berpikir jauh ke depan.

Ketika ditanyakan mengenai kiat suksesnya, pemain hockey es legendaris Wayne Gretsky menjawab dengan kata-katanya yang banyak dikutip: "It’s not where the puck is, it’s where the puck will be". Pemain-pemain hockey atau sepakbola yang hebat adalah pemain yang bisa mengantisipasi arah bola. Dia tidak terjebak dalam perebutan bola yang sedang berlangsung, tapi bergerak menyongsong ke mana bola akan melaju setelah pergumulan. Makanya, seringkali kita melihat pemain top yang selalu "kebetulan" ada di titik yang pas untuk menggolkan bola.

Demikian juga dalam hidup, orang-orang yang sukses adalah orang yang melakukan tindakan antisipatif mengenai masa depan, baik untuk menyongsong peluang maupun mengatasi risiko. Ketika bencana gempa melanda Yogya-Jateng, orang-orang yang selamat rumahnya adalah yang membangun dengan memperhitungkan risiko bila terjadi gempa. Saya mendengar cerita ada rumah 4 lantai yang begitu cantik namun roboh karena tiang-tiang penyangganya sangat ramping, seperti berbadan Mike Tyson tapi berkaki Elyas Pical. "Nafsu" jangka pendek untuk menghemat material bangunan mengakibatkan biaya besar karena rumah harus dibongkar seluruhnya.

Di perusahaan-perusahaan, saat ini banyak dibentuk fungsi risk management untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang dapat terjadi di masa depan. Untuk risiko keuangan, mereka mengatasinya dalam bentuk asuransi dan hedging dalam portofolio keuangan. Untuk risiko operasional, mereka membentuk suatu mekanisme Site Recovery Plan atau Business Contingency Plan agar perusahaan dapat terus berjalan bila bencana menimpa. Perusahaan-perusahaan papan atas yang bonafid tidak pernah melupakan pentingnya aktivitas "sedia payung sebelum hujan" seperti itu.

Charles Handy, ahli manajemen dari Inggris, mengatakan bahwa saat prestasi perusahaan sedang bagus-bagusnya adalah saat yang tepat untuk melakukan antisipasi bila krisis menimpa. Hal ini karena perusahaan sedang memiliki dana, waktu, dan energi yang cukup untuk melakukan upaya tersebut. Namun, di saat itu pula Perusahaan sedang merasa paling tidak membutuhkannya. Sulit sekali mengingatkan orang-orang yang sukses mengenai bahaya kegagalan. Namun, perusahaan-perusahaan yang well-managed tidak terbuai dengan kesuksesan. Dan itulah yang membedakannya dengan perusahaan kebanyakan.

Dalam skala pribadi, apakah anda sudah menyiapkan segala sesuatu bila sesuatu hal buruk menimpa diri anda di masa depan? Apakah anda juga menyiapkan diri agar dapat menyongsong peluang-peluang yang muncul di masa depan?

June 9, 2006

Sekolah Mahal = Jaminan Sukses?

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 4:17 pm

Pagi ini istri saya mengeluhkan biaya daftar ulang sekolah anak-anak yang begitu mahal. Untuk ketiga anak kami yang masih di TK dan SD, kami harus mengeluarkan biaya daftar ulang hampir 5 juta rupiah. Jumlah yang tidak sedikit , lebih-lebih di saat biaya hidup semakin tinggi akhir-akhir ini. Kenaikan pendapatan rumah tangga tidak bisa mengejar laju inflasi tahun ini yang mencapai hampir 20 persen.

Saya jadi berpikir kembali apakah nilai (value) dari menyekolahkan anak di sekolah-sekolah mahal setara dengan biayanya. Apakah tidak sebaiknya mereka bersekolah di SD negeri saja yang murah? Mertua saya beragumen, bapak dan ibunya saja dulu sekolah di SD kampung, toh juga bisa "jadi orang".

Memang tidak ada jaminan bahwa menyekolahkan anak di sekolah mahal akan meningkatkan peluang sukses mereka. Saya juga tidak pernah membaca statistik dengan bukti empiris hubungan antara sekolah mahal dan tingkat kesuksesan anak di masa depannya.

Logika awam mengajarkan bahwa sekolah di sekolah favorit memberikan anak bekal yang lebih banyak untuk berhasil. Oleh karena itu, berapa pun biaya yang dikenakan sekolah-sekolah favorit itu, jumlah muridnya terus bertambah. Sesuai hukum ekonomi: bila konsumen tidak peka terhadap perubahan harga maka produsen cenderung menaikkan harga untuk memaksimalkan keuntungan. Banyak sekolah kemudian menjadi lembaga pengejar laba. Lembaga yang harusnya not-for-profit menjadi profit seeking. Dengan berkedok yayasan, mereka mengeruk keuntungan bagi segelintir pengurus dan pendirinya.

Sulit untuk mengetahui batas apakah suatu lembaga sekolah sudah mulai memasuki orientasi bisnis. Pengelolaan keuangan di suatu sekolah juga umumnya tidak transparan bagi publik atau wali murid untuk melihat secara utuh keuangannya. Mengingat strategisnya fungsi pendidikan, mungkin perlu regulasi lebih rinci dari Pemerintah berikut lembaga pengawasnya untuk memastikan lembaga-lembaga pendidikan itu berjalan sesuai misinya: mencerdaskan bangsa, bukan untuk bisnis mengejar laba bagi pengurus dan investornya.

Dari segi pelajaran, SD swasta favorit memang lebih baik dibandingkan sekolah negeri karena kelengkapan sarana, kompetensi guru dan metode belajar yang lebih bagus, dan lainnya. Namun, pintar dalam pelajaran dan keterampilan ekstra-kurikuler hanya satu hal. Untuk berhasil dalam hidup, kita butuh bekal yang jauh lebih banyak. Kemandirian, kepekaan sosial, ketangguhan menghadapi masalah, keterampilan mengatasi permasalahan hidup, dan lain-lain juga dibutuhkan. Di sinilah anak-anak yang bersekolah di sekolah umum yang serba terbatas dan berasal dari berbagai latar belakang dapat unggul.

Beberapa waktu lalu pak RT di lingkungan saya membanggakan anaknya yang kelas 4 di sebuah SD Negeri yang pergi-pulang sekolah naik angkot sendiri. Bahkan, ketika angkot mogok karena harga BBM naik beberapa waktu lalu, dia berjalan kaki hampir 5 km pulang ke rumah! Sungguh anak yang tangguh untuk ukuran usianya.

Saya hanya bertanya dalam hati, apakah anak saya yang terbiasa nyaman dengan antar jemput kendaraan, belajar di tempat ber-AC dan sudah meminta dibelikan handphone agar seperti teman-temannya, akan sanggup bersaing dengan anak-anak yang dibesarkan seperti anak pak RT. Ataukah saya perlu menempa dia dengan pengalaman hidup seperti anak pak RT?

Keteguhan dan ketabahan menghadapi tantangan adalah juga keterampilan hidup yang penting untuk sukses. Banyak riset menyebutkan, keteguhan (resilience) lebih menentukan kesuksesan dibandingkan kemampuan. Dan kita tahu, keteguhan adalah hasil dari tempaan pengalaman- pengalaman pahit.

Di sinilah letak paradox kehidupan. Orang-orang yang dibesarkan dalam segala keterbatasan memiliki keteguhan yang baik untuk bersaing, namunkurang memiliki sarana untuk maju. Sementara, orang-orang yang dibesarkan dengan berbagai fasilitas umumnya menjadi orang yang kurang tangguh dalam hidup. Padahal, keberhasilan menuntut dua hal: kecukupan sarana dan ketangguhan untuk mewujudkannya.