web page hit counter

a beautiful mind

June 9, 2006

Sekolah Mahal = Jaminan Sukses?

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 4:17 pm

Pagi ini istri saya mengeluhkan biaya daftar ulang sekolah anak-anak yang begitu mahal. Untuk ketiga anak kami yang masih di TK dan SD, kami harus mengeluarkan biaya daftar ulang hampir 5 juta rupiah. Jumlah yang tidak sedikit , lebih-lebih di saat biaya hidup semakin tinggi akhir-akhir ini. Kenaikan pendapatan rumah tangga tidak bisa mengejar laju inflasi tahun ini yang mencapai hampir 20 persen.

Saya jadi berpikir kembali apakah nilai (value) dari menyekolahkan anak di sekolah-sekolah mahal setara dengan biayanya. Apakah tidak sebaiknya mereka bersekolah di SD negeri saja yang murah? Mertua saya beragumen, bapak dan ibunya saja dulu sekolah di SD kampung, toh juga bisa "jadi orang".

Memang tidak ada jaminan bahwa menyekolahkan anak di sekolah mahal akan meningkatkan peluang sukses mereka. Saya juga tidak pernah membaca statistik dengan bukti empiris hubungan antara sekolah mahal dan tingkat kesuksesan anak di masa depannya.

Logika awam mengajarkan bahwa sekolah di sekolah favorit memberikan anak bekal yang lebih banyak untuk berhasil. Oleh karena itu, berapa pun biaya yang dikenakan sekolah-sekolah favorit itu, jumlah muridnya terus bertambah. Sesuai hukum ekonomi: bila konsumen tidak peka terhadap perubahan harga maka produsen cenderung menaikkan harga untuk memaksimalkan keuntungan. Banyak sekolah kemudian menjadi lembaga pengejar laba. Lembaga yang harusnya not-for-profit menjadi profit seeking. Dengan berkedok yayasan, mereka mengeruk keuntungan bagi segelintir pengurus dan pendirinya.

Sulit untuk mengetahui batas apakah suatu lembaga sekolah sudah mulai memasuki orientasi bisnis. Pengelolaan keuangan di suatu sekolah juga umumnya tidak transparan bagi publik atau wali murid untuk melihat secara utuh keuangannya. Mengingat strategisnya fungsi pendidikan, mungkin perlu regulasi lebih rinci dari Pemerintah berikut lembaga pengawasnya untuk memastikan lembaga-lembaga pendidikan itu berjalan sesuai misinya: mencerdaskan bangsa, bukan untuk bisnis mengejar laba bagi pengurus dan investornya.

Dari segi pelajaran, SD swasta favorit memang lebih baik dibandingkan sekolah negeri karena kelengkapan sarana, kompetensi guru dan metode belajar yang lebih bagus, dan lainnya. Namun, pintar dalam pelajaran dan keterampilan ekstra-kurikuler hanya satu hal. Untuk berhasil dalam hidup, kita butuh bekal yang jauh lebih banyak. Kemandirian, kepekaan sosial, ketangguhan menghadapi masalah, keterampilan mengatasi permasalahan hidup, dan lain-lain juga dibutuhkan. Di sinilah anak-anak yang bersekolah di sekolah umum yang serba terbatas dan berasal dari berbagai latar belakang dapat unggul.

Beberapa waktu lalu pak RT di lingkungan saya membanggakan anaknya yang kelas 4 di sebuah SD Negeri yang pergi-pulang sekolah naik angkot sendiri. Bahkan, ketika angkot mogok karena harga BBM naik beberapa waktu lalu, dia berjalan kaki hampir 5 km pulang ke rumah! Sungguh anak yang tangguh untuk ukuran usianya.

Saya hanya bertanya dalam hati, apakah anak saya yang terbiasa nyaman dengan antar jemput kendaraan, belajar di tempat ber-AC dan sudah meminta dibelikan handphone agar seperti teman-temannya, akan sanggup bersaing dengan anak-anak yang dibesarkan seperti anak pak RT. Ataukah saya perlu menempa dia dengan pengalaman hidup seperti anak pak RT?

Keteguhan dan ketabahan menghadapi tantangan adalah juga keterampilan hidup yang penting untuk sukses. Banyak riset menyebutkan, keteguhan (resilience) lebih menentukan kesuksesan dibandingkan kemampuan. Dan kita tahu, keteguhan adalah hasil dari tempaan pengalaman- pengalaman pahit.

Di sinilah letak paradox kehidupan. Orang-orang yang dibesarkan dalam segala keterbatasan memiliki keteguhan yang baik untuk bersaing, namunkurang memiliki sarana untuk maju. Sementara, orang-orang yang dibesarkan dengan berbagai fasilitas umumnya menjadi orang yang kurang tangguh dalam hidup. Padahal, keberhasilan menuntut dua hal: kecukupan sarana dan ketangguhan untuk mewujudkannya.

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/06/09/sekolah-mahal-jaminan-sukses/trackback/

  1. Mas Hendro, makasih ya dah mampir ke blog Jermanku, belum sempet update, masih agak2 padet nih mas.. Btw, salam kenal dan blognya bagus banget, aku mau baca2 dulu ya..

    Comment by Tina — June 11, 2006 @ 11:53 pm

  2. tulisan yg menarik. jadi, kesimpulannya gimana Mas? Di sekolah favorit yg mahal-mahal apa sekolah biasa saja… kami juga lagi bingung nih, mau masukin anak ke playgroup. Mana di Bantul lagi, yg kondisi sedang gak karu-karuan…..

    Comment by anis — June 14, 2006 @ 12:00 pm

  3. Saya baru masukkan anak ke SMPN 2 Ciasuk Kab Tangerang, ada dsp 3.5juta, tapi karena sedang bangun gedung tambah 1 juta lagi. Uang seragam dan buku habis 800an ribu, spp 135 ribu per bulan. Kata komite gak ada dana dari pemda atau pemerintah untuk bangunan maupun operasional, BOS gak jelas katanya cuma 200juta per tahun, yang kalo dihitung2 cuma 26 ribu per anak.
    Karena anak saya termasuk berprestasi, rupanya sekolah punya program kelas unggulan (bilingual), karena itu anak saya ditawari ikut tes lagi, komite presentasikan hal ini, sppnya beda jadi 260 ribu. Karena banyak pertimbangan potensi dan prestasi anak selama ini dan toh cuma spp yang nambah (meski berat apaboleh buat demi anak, anak saya juga mau ikut), akhirnya saya ikutkan juga anak saya tes, dan lolos. Setelah pengumuman, ortu dikumpulkan, katanya sosialisasi program, ternyata mereka minta duit lagi 2 juta (akhirnya setelah debat abis turun 1.85juta), dan spp yang tadinya 260ribu dinaikkan jadi 280ribu. Katanya kelas unggulan ini program diknas, beberapa sekolah di ‘paksa’ untuk bikin kelas unggulan ini, tapi anehnya seluruh biaya ditanggung siswa. Biaya tambahan 2juta tsb untuk beli AC, infokus, laptop, meja-kursi, bayar pengajar, dll. Komite gak peduli dan gak tanya apakah kami mampu bayar, pokoknya harus bayar. Katanya standar kelas diknas untuk kelas unggulan harus gitu. Yang anehnya, kenapa setelah tes baru dikasih tahu biaya tambahan tsb, padahal waktu pertemuan dengan komite setelah anak saya dinyatakan diterima di sekolah tsb, jelas2 ditulis di bahan yang dipresentasikan komite, dsp + uang bangunan 4,5 juta, spp kelas reguler 135 ribu, kelas bilingual 260 ribu, jadi gak ada gambaran samasekali kalo kelas bilingual dsp beda. Komite berkelit dengan bilang tidak diinfokan kerna minggu sebelumnya belum siap. Aneh, ini bukan program dadakan yang baru terpikir dalam semalam, dan ternyata sudah ada kelas yang sama tahun sebelumnya dengan fasilitas gak selengkap dan gak semahal ini.
    Tampaknya komite sekolah sengaja men set-up begini, karena kalo diinfokan sejak awal kemungkinan banyak yang gak mau ikut, sementara sekolah juga gak mau yang ikut bukan anak2 unggulan tapi asal punya duit aja. Membuat kelas unggulan dengan anak2 yang bukan unggulan akan merepotkan mereka sendiri, karena itu para ortu sengaja dibohongi dengan info yang gak lengkap dan tampak sengaja disembunyikan, supaya bisa menjaring semua anak yang dianggap potensial untuk ikut tes. Sekarang jadi dilematis, setelah anak lolos, secara psikologis gak mungkin anak ditarik lagi hanya karena gak mampu bayar tambahan 2 juta. Kasihan anaknya, akan merasa tertekan, tapi sekarang ortu yang tertekan harus cari tambahan 2 juta lagi. Saya pikir komite sekolah jahat sekali sengaja menjebak ortu, banyak yang mengeluh tapi gak mampu berbuat apa2, lagi2 takut anak yang jadi korban digencet di sekolah karena menarik diri dari kelas unggulan tsb, atau si anak yang merasa gak difasilitasi sudah berusaha untuk meraih prestasi tapi terpaksa masuk kelas reguler lagi akibat gak punya duit.
    Saya gak tahu apa trik ini juga terjadi di sekolah lain di seluruh negeri ini. Sudah mahal, licik lagi. Entah apa guna komite sekolah ini, dan apa guna adanya Diknas kalo semua biaya termasuk bangunan dan peralatan sekolah harus dibeli ortu siswa.
    Mana janji anggaran pendidikan 20% itu. Mohon pemkab tangerang dan diknas tertibkan sekolah yang sewenang2 ini, kalo perlu kpk turunkan untuk investigasi sekolah2 jahat dan diknas yang entah diapakan dana pendidikan oleh mereka. Mereka gak mikir, anak2 yang berprestasi aja dibeginikan, bagaimana nasib anak2 yang biasa2 saja, mau dibuang kemana mereka ini. Apa para penguasa negeri ini gak mikir, apa mereka mau nyiapin buruh murah masa depan untuk bekerja di pabrik2 para kapitalis???

    Comment by irwan — July 13, 2008 @ 8:50 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.