<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Sekolah Mahal = Jaminan Sukses?</title>
	<link>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/06/09/sekolah-mahal-jaminan-sukses/</link>
	<description>pikiran yang mengubah anda</description>
	<pubDate>Sat, 02 Jan 2010 17:02:55 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: irwan</title>
		<link>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/06/09/sekolah-mahal-jaminan-sukses/#comment-85</link>
		<pubDate>Sun, 13 Jul 2008 08:50:45 +0100</pubDate>
		<guid>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/06/09/sekolah-mahal-jaminan-sukses/#comment-85</guid>
					<description>Saya baru masukkan anak ke SMPN 2 Ciasuk Kab Tangerang, ada dsp 3.5juta, tapi karena sedang bangun gedung tambah 1 juta lagi. Uang seragam dan buku habis 800an ribu, spp 135 ribu per bulan. Kata komite gak ada dana dari pemda atau pemerintah untuk bangunan maupun operasional, BOS gak jelas katanya cuma 200juta per tahun, yang kalo dihitung2 cuma 26 ribu per anak. 
Karena anak saya termasuk berprestasi, rupanya sekolah punya program kelas unggulan (bilingual), karena itu anak saya ditawari ikut tes lagi, komite presentasikan hal ini, sppnya beda jadi 260 ribu. Karena banyak pertimbangan potensi dan prestasi anak selama ini dan toh cuma spp yang nambah (meski berat apaboleh buat demi anak, anak saya juga mau ikut), akhirnya saya ikutkan juga anak saya tes, dan lolos. Setelah pengumuman, ortu dikumpulkan, katanya sosialisasi program, ternyata mereka minta duit lagi 2 juta (akhirnya setelah debat abis turun 1.85juta), dan spp yang tadinya 260ribu dinaikkan jadi 280ribu. Katanya kelas unggulan ini program diknas, beberapa sekolah di 'paksa' untuk bikin kelas unggulan ini, tapi anehnya seluruh biaya ditanggung siswa. Biaya tambahan 2juta tsb untuk beli AC, infokus, laptop, meja-kursi, bayar pengajar, dll. Komite gak peduli dan gak tanya apakah kami mampu bayar, pokoknya harus bayar. Katanya standar kelas diknas untuk kelas unggulan harus gitu. Yang anehnya, kenapa setelah tes baru dikasih tahu biaya tambahan tsb, padahal waktu pertemuan dengan komite setelah anak saya dinyatakan diterima di sekolah tsb, jelas2 ditulis di bahan yang dipresentasikan komite, dsp + uang bangunan 4,5 juta, spp kelas reguler 135 ribu, kelas bilingual 260 ribu, jadi gak ada gambaran samasekali kalo kelas bilingual dsp beda. Komite berkelit dengan bilang tidak diinfokan kerna minggu sebelumnya belum siap. Aneh, ini bukan program dadakan yang baru terpikir dalam semalam, dan ternyata sudah ada kelas yang sama tahun sebelumnya dengan fasilitas gak selengkap dan gak semahal ini. 
Tampaknya komite sekolah sengaja men set-up begini, karena kalo diinfokan sejak awal kemungkinan banyak yang gak mau ikut, sementara sekolah juga gak mau yang ikut bukan anak2 unggulan tapi asal punya duit aja. Membuat kelas unggulan dengan anak2 yang bukan unggulan akan merepotkan mereka sendiri, karena itu para ortu sengaja dibohongi dengan info yang gak lengkap dan tampak sengaja disembunyikan, supaya bisa menjaring semua anak yang dianggap potensial untuk ikut tes. Sekarang jadi dilematis, setelah anak lolos, secara psikologis gak mungkin anak ditarik lagi hanya karena gak mampu bayar tambahan 2 juta. Kasihan anaknya, akan merasa tertekan, tapi sekarang  ortu yang tertekan harus cari tambahan 2 juta lagi. Saya pikir komite sekolah jahat sekali sengaja menjebak ortu, banyak yang mengeluh tapi gak mampu berbuat apa2, lagi2 takut anak yang jadi korban digencet di sekolah karena menarik diri dari kelas unggulan tsb, atau si anak yang merasa gak difasilitasi sudah berusaha untuk meraih prestasi tapi terpaksa masuk kelas reguler lagi akibat gak punya duit. 
Saya gak tahu apa trik ini juga terjadi di sekolah lain di seluruh negeri ini. Sudah mahal, licik lagi. Entah apa guna komite sekolah ini, dan apa guna adanya Diknas kalo semua biaya termasuk bangunan dan peralatan sekolah harus dibeli ortu siswa. 
Mana janji anggaran pendidikan 20% itu. Mohon pemkab tangerang dan diknas tertibkan sekolah yang sewenang2 ini, kalo perlu kpk turunkan untuk investigasi sekolah2 jahat dan diknas yang entah diapakan dana pendidikan oleh mereka. Mereka gak mikir, anak2 yang berprestasi aja dibeginikan, bagaimana nasib anak2 yang biasa2 saja, mau dibuang kemana mereka ini. Apa para penguasa negeri ini gak mikir, apa mereka mau nyiapin buruh murah masa depan untuk bekerja di pabrik2 para kapitalis???</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Saya baru masukkan anak ke SMPN 2 Ciasuk Kab Tangerang, ada dsp 3.5juta, tapi karena sedang bangun gedung tambah 1 juta lagi. Uang seragam dan buku habis 800an ribu, spp 135 ribu per bulan. Kata komite gak ada dana dari pemda atau pemerintah untuk bangunan maupun operasional, BOS gak jelas katanya cuma 200juta per tahun, yang kalo dihitung2 cuma 26 ribu per anak.<br />
Karena anak saya termasuk berprestasi, rupanya sekolah punya program kelas unggulan (bilingual), karena itu anak saya ditawari ikut tes lagi, komite presentasikan hal ini, sppnya beda jadi 260 ribu. Karena banyak pertimbangan potensi dan prestasi anak selama ini dan toh cuma spp yang nambah (meski berat apaboleh buat demi anak, anak saya juga mau ikut), akhirnya saya ikutkan juga anak saya tes, dan lolos. Setelah pengumuman, ortu dikumpulkan, katanya sosialisasi program, ternyata mereka minta duit lagi 2 juta (akhirnya setelah debat abis turun 1.85juta), dan spp yang tadinya 260ribu dinaikkan jadi 280ribu. Katanya kelas unggulan ini program diknas, beberapa sekolah di &#8216;paksa&#8217; untuk bikin kelas unggulan ini, tapi anehnya seluruh biaya ditanggung siswa. Biaya tambahan 2juta tsb untuk beli AC, infokus, laptop, meja-kursi, bayar pengajar, dll. Komite gak peduli dan gak tanya apakah kami mampu bayar, pokoknya harus bayar. Katanya standar kelas diknas untuk kelas unggulan harus gitu. Yang anehnya, kenapa setelah tes baru dikasih tahu biaya tambahan tsb, padahal waktu pertemuan dengan komite setelah anak saya dinyatakan diterima di sekolah tsb, jelas2 ditulis di bahan yang dipresentasikan komite, dsp + uang bangunan 4,5 juta, spp kelas reguler 135 ribu, kelas bilingual 260 ribu, jadi gak ada gambaran samasekali kalo kelas bilingual dsp beda. Komite berkelit dengan bilang tidak diinfokan kerna minggu sebelumnya belum siap. Aneh, ini bukan program dadakan yang baru terpikir dalam semalam, dan ternyata sudah ada kelas yang sama tahun sebelumnya dengan fasilitas gak selengkap dan gak semahal ini.<br />
Tampaknya komite sekolah sengaja men set-up begini, karena kalo diinfokan sejak awal kemungkinan banyak yang gak mau ikut, sementara sekolah juga gak mau yang ikut bukan anak2 unggulan tapi asal punya duit aja. Membuat kelas unggulan dengan anak2 yang bukan unggulan akan merepotkan mereka sendiri, karena itu para ortu sengaja dibohongi dengan info yang gak lengkap dan tampak sengaja disembunyikan, supaya bisa menjaring semua anak yang dianggap potensial untuk ikut tes. Sekarang jadi dilematis, setelah anak lolos, secara psikologis gak mungkin anak ditarik lagi hanya karena gak mampu bayar tambahan 2 juta. Kasihan anaknya, akan merasa tertekan, tapi sekarang  ortu yang tertekan harus cari tambahan 2 juta lagi. Saya pikir komite sekolah jahat sekali sengaja menjebak ortu, banyak yang mengeluh tapi gak mampu berbuat apa2, lagi2 takut anak yang jadi korban digencet di sekolah karena menarik diri dari kelas unggulan tsb, atau si anak yang merasa gak difasilitasi sudah berusaha untuk meraih prestasi tapi terpaksa masuk kelas reguler lagi akibat gak punya duit.<br />
Saya gak tahu apa trik ini juga terjadi di sekolah lain di seluruh negeri ini. Sudah mahal, licik lagi. Entah apa guna komite sekolah ini, dan apa guna adanya Diknas kalo semua biaya termasuk bangunan dan peralatan sekolah harus dibeli ortu siswa.<br />
Mana janji anggaran pendidikan 20% itu. Mohon pemkab tangerang dan diknas tertibkan sekolah yang sewenang2 ini, kalo perlu kpk turunkan untuk investigasi sekolah2 jahat dan diknas yang entah diapakan dana pendidikan oleh mereka. Mereka gak mikir, anak2 yang berprestasi aja dibeginikan, bagaimana nasib anak2 yang biasa2 saja, mau dibuang kemana mereka ini. Apa para penguasa negeri ini gak mikir, apa mereka mau nyiapin buruh murah masa depan untuk bekerja di pabrik2 para kapitalis???
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
