web page hit counter

a beautiful mind

June 14, 2006

Bersiap Diri

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 2:31 pm

"Si pandir yang menyanyi sepanjang musim panas akan menangis sepanjang musim dingin." Demikian bunyi suatu peribahasa Barat yang pernah saya baca. Kelihatannya dalam semua kebudayaan, pentingnya antisipasi terhadap masa depan merupakan kebijaksanaan umum (common wisdom). Dalam bahasa Indonesia, kita biasa mendengar pepatah "sedia payung sebelum hujan" yang dipahami maknanya oleh hampir semua orang. Ada lagi pepatah sejenis, entah aslinya dalam bahasa apa, yang berbunyi: "Galilah sumur sebelum anda kehausan". Pesannya sama: bertindaklah secara antisipatif terhadap kemungkinan-kemungkinan masa depan.

Dalam agama, common wisdom ini juga diingatkan Nabi, yang dilantunkan secara merdu dalam lagu Rayhan: ingat 5 perkara, sebelum datang 5 perkara. Lapang sebelum sempit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, sehat sebelum sakit, dan hidup sebelum mati. Nabi Yusuf diangkat menjadi bendahara Firaun juga karena keahliannya melakukan tindakan antisipatif, menyiapkan stok pangan dalam 7 tahun kemakmuran untuk kebutuhan 7 tahun kekeringan. Cerita Nabi Yusuf yang diangkat dalam kitab suci tersebut mengandung hikmah luar biasa mengenai pentingnya antisipasi masa depan.

Pentingnya tindakan antisipasi juga berlipat ganda karena adanya suatu paradoks mengenainya. Menggali sumur di saat air sedang berlimpah ruah terlihat seperti usaha sia-sia. Orang-orang mungkin akan mencemooh bila anda melakukannya. Memperingatkan mereka bahwa suatu ketika air akan sulit didapat juga belum tentu membawa hasil, apalagi bila seumur hidup mereka tidak pernah mengalaminya. Namun demikian, bila kemudian terjadi musim kemarau panjang , orang baru menyadari perlunya menggali sumur. Padahal pada saat kekeringan seperti itu, tanah lebih sulit digali, energi manusia juga berkurang karena kurang minum, dan cuaca panas menyengat membuat orang cepat lelah. Di situlah terletak paradoks-nya. Persiapan sangat mudah dilakukan ketika anda sedang tidak memerlukannya. Pada saat anda sedang memerlukannya, segalanya sudah menjadi jauh lebih sulit.

Meskipun namanyacommon wisdom, tidak berarti masyarakat secara umum menjalaninya. Seringkali apa yang disebut "knowledge/action gap" terjadi. Mengetahui bahwa sesuatu bagus tidak berarti anda otomatis melakukannya. Merokok itu jelek, namun di Indonesia jutaan orang merokok, menyumbang triliunan rupiah cukai ke kas negara dan triliunan yang tidak terhitung dalam bentuk ongkos biaya kesehatan. Menabung itu bagus, dari kecil kita sudah diajari untuk melakukannya, namun masyarakat kita termasuk sangat sulit menabung. Dalam kacamata para ekonom, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan menabung (marginal propensity to save =mps) yang rendah, jauh dibandingkan Jepang, misalnya. Akibatnya, kita jadi negara yang gemar berhutang untuk menutup kebutuhan kita. Olah raga teratur itu bagus, tapi siapa di antara kita yang melakukannya?

Mengapa tindakan antisipatif tidak selalu dilakukan orang? Dalam kacamata agama, mungkin karena kita terlena dengan hawa nafsu kita. Kita tidak tahan mengekang nafsu kita saat ini sebagai ongkos untuk masa depan yang lebih baik. Keengganan melakukan antisipasi juga karena orang-orang seringkali tidak melihat jauh ke depan, atau tidak meyakini suatu kemungkinan akan terjadi. Tidak semua orang berpikir jauh ke depan.

Ketika ditanyakan mengenai kiat suksesnya, pemain hockey es legendaris Wayne Gretsky menjawab dengan kata-katanya yang banyak dikutip: "It’s not where the puck is, it’s where the puck will be". Pemain-pemain hockey atau sepakbola yang hebat adalah pemain yang bisa mengantisipasi arah bola. Dia tidak terjebak dalam perebutan bola yang sedang berlangsung, tapi bergerak menyongsong ke mana bola akan melaju setelah pergumulan. Makanya, seringkali kita melihat pemain top yang selalu "kebetulan" ada di titik yang pas untuk menggolkan bola.

Demikian juga dalam hidup, orang-orang yang sukses adalah orang yang melakukan tindakan antisipatif mengenai masa depan, baik untuk menyongsong peluang maupun mengatasi risiko. Ketika bencana gempa melanda Yogya-Jateng, orang-orang yang selamat rumahnya adalah yang membangun dengan memperhitungkan risiko bila terjadi gempa. Saya mendengar cerita ada rumah 4 lantai yang begitu cantik namun roboh karena tiang-tiang penyangganya sangat ramping, seperti berbadan Mike Tyson tapi berkaki Elyas Pical. "Nafsu" jangka pendek untuk menghemat material bangunan mengakibatkan biaya besar karena rumah harus dibongkar seluruhnya.

Di perusahaan-perusahaan, saat ini banyak dibentuk fungsi risk management untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang dapat terjadi di masa depan. Untuk risiko keuangan, mereka mengatasinya dalam bentuk asuransi dan hedging dalam portofolio keuangan. Untuk risiko operasional, mereka membentuk suatu mekanisme Site Recovery Plan atau Business Contingency Plan agar perusahaan dapat terus berjalan bila bencana menimpa. Perusahaan-perusahaan papan atas yang bonafid tidak pernah melupakan pentingnya aktivitas "sedia payung sebelum hujan" seperti itu.

Charles Handy, ahli manajemen dari Inggris, mengatakan bahwa saat prestasi perusahaan sedang bagus-bagusnya adalah saat yang tepat untuk melakukan antisipasi bila krisis menimpa. Hal ini karena perusahaan sedang memiliki dana, waktu, dan energi yang cukup untuk melakukan upaya tersebut. Namun, di saat itu pula Perusahaan sedang merasa paling tidak membutuhkannya. Sulit sekali mengingatkan orang-orang yang sukses mengenai bahaya kegagalan. Namun, perusahaan-perusahaan yang well-managed tidak terbuai dengan kesuksesan. Dan itulah yang membedakannya dengan perusahaan kebanyakan.

Dalam skala pribadi, apakah anda sudah menyiapkan segala sesuatu bila sesuatu hal buruk menimpa diri anda di masa depan? Apakah anda juga menyiapkan diri agar dapat menyongsong peluang-peluang yang muncul di masa depan?

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/06/14/bersiap-diri/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.