web page hit counter

a beautiful mind

June 26, 2006

Anakmu Bukan Anakmu

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 9:39 am

Kamis lalu Pak Marzuki Usman, mantan menteri dan ketua BAPEPAM, hadir dalam leadership forum yang diselenggarakan di kantor saya. Beliau memaparkan analisis SWOT Indonesia menghadapi persaingan global. Gaya bahasanya yang seperti bertutur cerita dan diselingi humor membuat materi yang serius menjadi enak diikuti. Dari presentasinya itu, ada satu hal yang berkesan buat saya, yaitu mengenai era perdagangan bebas 2020 yang tinggal 14 tahun lagi. Era di mana anak-anak kita akan masuk dunia kerja.

Dunia macam apa yang akan dihadapi anak-anak kita saat itu? Pasca 2020, pergerakan orang, barang dan uang lintas negara akan menjadi bebas tanpa hambatan. Pajak bea masuk dan hambatan-hambatan non-tarif ditiadakan. Peraturan yang berlaku untuk tenaga kerja asing akan sama dengan tenaga kerja domestik, tidak ada diskriminasi. Lalu lintas uang antar negara yang saat ini sudah demikian mudah, akan berjalan jauh lebih cepat.

Terus terang, saya agak sulit membayangkannya. Apakah kedaulatan ekonomi suatu negara menjadi tidak relevan lagi saat itu? Saya mencoba memahami masa depan itu dengan apa yang terjadi di masa lalu dan sekarang. Masa depan adalah kelanjutan dari masa lalu dan sekarang. Dari segi mobilitas manusia lintas negara, memang saat ini gejalanya sudah tampak. Dulu, ekspatriat yang kita kenal adalah bule-bule yang menjadi eksekutif puncak di perusahaan multinasional. Sekarang, ”ekspat coklat” dari India dan Filipina banyak yang bekerja di posisi-posisi menengah dan tinggi yang dulunya diisi orang-orang kita. Gaji mereka tidak terpaut banyak dari kita, namun kemampuannya bisa jauh lebih tinggi. Sewaktu saya diwawancara untuk masuk kantor saya sekarang sebagai head of internal audit, saingan saya adalah seorang filipino. Entah mengapa, manajemen akhirnya memilih saya. (Penjelasan paling masuk akal barangkali adalah karena saya lebih murah daripada si filipino, meskipun dia sudah ”banting harga”). Saat ini, ada dua ”ekspat coklat” dari India dan Burma yang bekerja di kantor saya. Di kantor sebelumnya sebagai konsultan, dua bos saya adalah ”ekspat coklat” keturunan India dari Amerika, sementara rekan saya seorang flemish (Belgia) yang gajinya mengikuti standar Indonesia.

Mungkin di era AFTA nanti, jumlah ”ekspat coklat” yang mengisi posisi-posisi menengah dan bawah akan lebih banyak lagi. Saya membayangkan nanti akan banyak orang Malaysia, Singapura dan Thailand yang bekerja di perusahaan-perusahaan swasta kita. Perusahaan-perusahaan mereka sudah banyak yang masuk ke sini, dari sektor agrikultur, perbankan, sampai industri hiburan. Di sektor perdagangan, orang-orang China daratan akan banyak hadir karena produk mereka yang membanjir ke sini akan membutuhkan saluran distribusi dan pelayanan yang lebih baik. Di tahun 2020, PDB China akan lebih besar dari Amerika bila dihitung berdasar Purchasing Power Parity. Barang-barang China akan lebih merajai dunia dibanding saat ini.

Bagaimana dengan orang Indonesia menjadi ekspat di luar negeri? Saat ini puluhan ribu saudara-saudara kita sudah menjadi ”ekspat” di luar negeri. Sayangnya, paling banyak masih sebagai TKW Pembantu atau TKI di Malaysia. Kampung nenek saya di pesisir selatan Jawa Tengah sudah kehabisan stok pembantu umur 18-35 tahun. Sebagian besar mereka sudah hidup di Hongkong, Taiwan, Singapura dan Timur Tengah sebagai ”ekspat”. Kondisi ini tak terbayangkan 30 tahun lalu, ketika jalur impian kerja orang kampung masih ke Jakarta. Saat ini, bekerja di Jakarta dengan pendapatan hanya sepersepuluhnya upah Hongkong adalah pilihan terakhir buat mereka. Saya harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapat pembantu dari kampung orang tua saya.

Sekarang semakin banyak juga kelas menengah kita yang bekerja di luar negeri. Teman-teman saya ada yang menjadi guru TK dan sales engineer di AS, aktuaris di Singapura, drilling superintendent di Qatar, staff ADB di Filipina, supir di Saudi, dan dosen di Malaysia. Dengan komunikasi dan transportasi yang makin mudah, di mana pun kita berada, jaraknya terasa dekat. Dengan internet kita bisa berkomunikasi dengan murah dan mudah. Melalui blog saya yang sederhana ini, saya dapat berkomunikasi dengan teman-teman Indonesia yang menyebar dari Pakistan, Belanda, Jerman, AS dan Inggris sampai ke Semarang dan Yogyakarta. Belum lagi bila memanfaatkan kemudahan-kemudahan lain untuk komunikasi interaktif yang bersifat real-time seperti instant messaging dan internet telephony. Ibu saya yang sederhana dapat menghubungi anak-anaknya yang menyebar di Aceh, Yogya dan Jakarta kapan saja hanya dengan memencet tombol handphone yang dibeli seharga 600 ribu rupiah.

Liberalisasi perdagangan juga mulai terasa di setiap sudut kehidupan. Barang-barang China membanjir, dari peniti, mainan anak-anak sampai buah-buahan. Dijajakan oleh supermarket, kaki lima, maupun asongan yang melompat dari bis ke bis. Harganya super murah, sampai sulit membayangkan berapa untungnya. Retailer asing juga merambah pasar-pasar kita, dari hypermarket sampai toko 24 jam. Bank-bank, stasiun TV, perusahaan telekomunikasi, pabrik semen, perkebunan dan perusahaan rokok sudah dikuasai asing. Pom-pom bensin dari Shell, BP dan Petronas mulai masuk. Sekolah-sekolah berlisensi dari Turki, Singapura dan Australia sudah beroperasi. Properti di Singapura, Australia dan Mekah dipamerkan dan diborong orang-orang kaya kita. Orang-orang dari Negeria dan negara Afrika lainnya keluar masuk Tanah Abang membeli pakaian berkodi-kodi (selain ada juga yang “nyambi” jualan sabu dan ekstasi). Pasar kita sudah menjadi pasar internasional.

Apa makna dari gejala ini? Dunia sedang berubah cepat. Antisipasi masa depan sangat diperlukan agar kita dapat mengambil kesempatan dan tidak terlibas karena perubahan itu. Anak-anak kita akan hidup pada era yang tidak sama dengan era kita, sebagaimana penyair Kahlil Gibran mengungkapkan dalam bait-bait puisinya:

Your children are not your children:
They are the sons and daughters of life’s longing for itself
They come through you but not from you,
And though they are with you, yet they belong not to you
You may give them your love but not your thoughts,
For they have their own thoughts
You may have their bodies, but not their souls
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams
You may strive to be like them, but seek not to make them like you
For life goes not backward nor tarries with yesterday

Mudah-mudahan, anak-anak kita akan siap sedia dalam mengarungi hidup yang berbeda dari zaman kita. Hidup di mana dunia adalah kampung kecil, jarak menjadi pendek dan persaingan semakin ketat. Namun, juga dunia yang kita harapkan lebih baik dengan kualitas hidup yang lebih sehat. Dunia di mana Indonesia yang kita cintai sudah bebas dari kekerdilan berpikir dan keculasan moral. Indonesia yang maju dan beradab, sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Indonesia yang dihargai bangsa lain karena keahlian-keahliannya dan-–jauh lebih penting—karena kejujuran tindak-tanduknya. Bukan lagi Indonesia yang nomor satu dalam korupsi, kejahatan kartu kredit (carding), pembabatan hutan dan perusakan lingkungan. Semoga. Amien.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/06/26/anakmu-bukan-anakmu/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.