Menyikapi Kekalahan
Hari Minggu kemarin saya membawa kedua anak saya Azzam (10 th) dan Thoriq (5 th) untuk mengikuti lomba adu gasing bey-blade di satu pusat perbelanjaan di Depok. Mereka sudah berlatih sangat keras untuk menghadapi event yang mereka tunggu-tunggu itu. Sudah tiga hari panci alumunium yang cukup besar di dapur dijadikan ajang latihan mereka. Aturannya, gasing yang keluar dari panci di anggap kalah. Di hari Sabtu bahkan suara gasing mendesing di permukaan panci terdengar gemerincing ribut sekali dari siang sampai hampir jam 10 malam. Yang kecil tidak mau kalah dari yang besar. Bahkan, begitu bangun pagi jam 5 si kecil Thoriq langsung menyambar gasingnya untuk berlatih lagi. Persiapannya luar biasa sekali.
Jam 2 sore, kedua anak saya sudah siap berlaga. Ada puluhan anak lain yang ikut berlomba, di kelompokkan dalam 3 grup kompetisi. Si kecil Thoriq kebagian berhadapan dengan anak besar, sekitar usia kelas 5 SD. Pertandingannya seru sekali. Dengan mimiknya yang tegang dia mengalahkan musuhnya yang jauh lebih besar! Dua kali gasingnya menyentak keluar gasing lawan. Saya bangga sekali. Dia tersenyum setelah melewati pertandingan pertamanya yang menegangkan itu.
Di babak selanjutnya, dia ternyata harus berhadapan dengan kakaknya yang telah berhasil menang WO dari lawannya. Saya sempat protes ke Panitia karena menempatkan kakak-adik pada posisi berhadapan. Apa daya, keputusan Panitia tidak dapat diubah. Mereka tetap harus saling mengalahkan. Pertandingannya sendiri cukup seru. Setelah seri 1-1, di tanding ketiga gasing Thoriq terpental dari arena sebelum sempat beradu. Tangisnya pun pecah. Dia sulit menerima kenyataan harus kalah dari kakaknya dengan cara seperti itu. Dia protes karena gasingnya jatuh ke luar arena dengan sendirinya, bukan karena ditumbur.
Saya harus menenangkannya di pinggir arena, ditonton kerumunan orang yang kelihatannya juga ikut simpati mendengar lolong tangis kekalahannya. Mata saya pun berkaca-kaca, mengingat persiapannya yang luar biasa keras, sangat wajar bila dia sangat kecewa. Lebih pahit lagi karena dia harus kalah melawan kakaknya.
Seperti diungkapkan Daniel Goleman, pakar kecerdasan emosional, rasa pilu, kecewa dan sedih adalah normal. Anak-anak tidak boleh dilarang mengungkapkan perasaan itu. Kita hanya boleh mengarahkan agar ekspresinya tepat. Mengelola emosi memang butuh latihan dan anak yang masih kecil seperti dia tentu masih dalam tahap awal mengenal dan mengelola emosi-emosinya.
Hari itu, dengan uang 25 ribu saya telah mengajarkan kepada anak saya arti sebuah kekalahan. Pahit dan menyesakkan. Mudah-mudahan pengalaman itu akan menjadi bekalnya di usianya yang lebih matang. Petinju yang baik adalah petinju yang tidak hanya mampu menyarangkan pukulan, tapi juga yang tahan bila dipukul. Kemampuan menyerap kekalahan dan kegagalan adalah ibarat kemampuan petinju menerima pukulan. Ia sama pentingnya dengan kemampuan untuk mencapai keberhasilan.
Saya masih sering melihat orang tua yang membentak anaknya untuk berhenti menangis, seolah-olah anaknya telah bersalah karena memiliki rasa sedih dan marah. Bahkan di kalangan masyarakat kampung, anak-anak yang menangis seringkali dipukuli ibunya agar tidak "bikin malu" orang tuanya. Anak-anak itu dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa emosi-emosi tertentu tidak boleh dimiliki atau harus disangkal. Dia menjadi "musuh" perasaannya. Ketika perasaan itu terlalu besar untuk dimusuhi, dia akan kehilangan kendali. Tidak jarang ada anak yang menangis berteriak-teriak dalam waktu lama, bahkan setelah orangtuanya memukulinya supaya berhenti menangis. Atau ada anak yang meluapkan kemarahannya dengan merusak barang-barang tanpa merasa takut lagi pada siapa pun.
Pagi tadi ketika menonton pertandingan final Piala Dunia antara Perancis melawan Italia, saya sangat kecewa ketika bintang idola saya Zinedine Zidane "menanduk" dada Marco Materazzi dengan kepala plontosnya. Bahkan kalaupun benar Materazzi telah menghina dia atau bertindak terlalu kasar, tindakannya menyeruduk seperti itu sungguh memalukan. Sayang sekali karir sepakbolanya yang harusnya berakhir manis ternoda oleh kelakuan tidak terpuji seperti itu. Dia dikalahkan oleh emosinya. Saya yakin hal itu akan membuahkan penyesalan yang dalam baginya.
Bahkan seorang Zidane yang setua itu dan sehebat itu tidak mampu mengelola emosinya di saat dia paling membutuhkannya. Kecewa dan marah adalah normal, tapi tidak berarti boleh bertindak kasar ke orang lain. Mudah-mudahan anak saya kelak akan lebih bijak daripada Zidane bila dihadapkan pada situasi seperti itu..!
saya sekarang sedang berusaha melawan emosi yang sedang saya rasakan sekarang. tadi siang, di sekolah, saya dipukul teman sekelas saya yang kelihatannya benci pada saya, sebelumnya pada pelajaran terakhir, yaitu pelajaran olahraga yang bebas sampai pulang sekolah, dia tampak kesal karena kakinya yang ingin menendang bola itu malah menendang kaki saya, tetapi dia berkata kalau saya menendang kakinya. lalu saat pulang sekolah, dia mengajak bicara saya baik-baik. tetapi saat kami berdua diam saja, tiba-tiba dia memukul muka saya dengan sangat keras. saya tidak membalas nya karena saya tahu saya sudah kelas 3 smp dan pernah saat kelas 2 saya bertengkar dengannya, tetapi saat kelas 2 saya dikeroyok oleh teman-temannya juga. lalu saya keluar dengan perasaan kesal dan marah, sampai akhirnya saya berada di sini dan menceritakan semua ini pada anda.
Comment by jefri — February 28, 2007 @ 2:12 pm