<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Demokratisasi Perusahaan</title>
	<link>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/07/11/demokratisasi-perusahaan/</link>
	<description>pikiran yang mengubah anda</description>
	<pubDate>Mon, 11 Aug 2008 13:39:43 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: Dimas P P</title>
		<link>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/07/11/demokratisasi-perusahaan/#comment-69</link>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 17:31:35 +0000</pubDate>
		<guid>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/07/11/demokratisasi-perusahaan/#comment-69</guid>
					<description>Menurut saya, Demokratisasi Perusahaan perlu dilihat secara mendalam. Belum tentu lebih baik.
Pertimbangannya adalah sbb:
1. Demokratisasi slm ini sdh berjalan di level pemilik/ pemegang saham. Perlu diketahui juga bahwa nilai hak suara tiap2 pemilik tidak sama, tergantung %tase kepemilikannya.
2. Pemilik lah yang merupakan bisnis owner dan resiko adalah 100% tanggungan pemilik. klo sampai rugi, pemiliklah yang digantung, disita harga bendanya, dan di blacklist. Karyawan tentu tidak akan turut menanggung resiko.
3. Pemilik merasa resiko dpt ditekan jk perusahaan 100% dalam kendali dan genggamannya.
4. Perlu diingat bahwa Organisasi dapat Maju bilamana Visi, Misi, Arah tujuan nya Selaras. Bygkan jika perusahaan punya banyak visi dan tujuan, tentu tak terarah.
5. Demokrasi di perusahaan akan cocok bilamana di Koperasi dimana sebenarnya itu adalah kongsi pemilik, dimana pemilik turut bekerja. Hal ini terjd jg diperusahaan yg baru didirikan/ start-up company.
6. Bahkan dikoperasi pun, Karyawan dikebiri hak demokrasi nya. Saya dulu kuliah di itb, kokesma/koperasi mahasiswa memiliki beberapa unit usaha (kantin, toko) yg memiliki karyawan, Hak karyawan tersebut hanya Gaji saja, tidak ada hak managerial.
7. Demokratisasi perusahaan cocok untuk Perusahaan Berbasis Utama SDM Tinggi.Klo pabrik konveksi dengan jmlh karyawan 10.000 dengan jenjang pendidikan level2 SD dan SMP, maka saat diskusi pasti gak nyambung banget, apalagi membahas strategi arah perusahaan.

Tp saya pun tidak setuju pada arah globalisasi yg terus menekan para pekerja. Untuk sebatang rokok senilai Rp700 perbatang, pekerja hanya dapat beberapa rupiah. Sungguh tidak adil juga. Itulah guna nya peraturan dan perundang2an, sifatnya melindungi pada sektor2 yg rentan.

Dimas P P
dimas_pp@yahoo.com
http://www.smartmarkreader.com

++Wah, ini komentar yang saya tunggu! Menjadikan wacana seperti ini berkembang dan mencerahkan kita semua yang terlibat dalam diskusi. Memang ada plus-minusnya demokratisasi perusahaan di tangan karyawan. Di semco, st luke bisa demokrasi karena karyawan adalah pemegang saham. Mereka ikut menanggung risiko modal. Tapi, bagaimana pun model korporasi seperti sekarang mungkin bukanlah yang ideal. Studi dari Gallup yang terkenal di akhir 1990-an menunjukkan kurang dari 30% karyawan tidak merasa terlibat &quot;engage&quot; dengan pekerjaannya. Mereka hanya datang sekedar memenuhi kewajiban. Mungkin bila perusahaan itu adalah sekaligus miliknya dan dia punya kewenangan ikut ngatur, akan lain ceritanya. ++</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Menurut saya, Demokratisasi Perusahaan perlu dilihat secara mendalam. Belum tentu lebih baik.<br />
Pertimbangannya adalah sbb:<br />
1. Demokratisasi slm ini sdh berjalan di level pemilik/ pemegang saham. Perlu diketahui juga bahwa nilai hak suara tiap2 pemilik tidak sama, tergantung %tase kepemilikannya.<br />
2. Pemilik lah yang merupakan bisnis owner dan resiko adalah 100% tanggungan pemilik. klo sampai rugi, pemiliklah yang digantung, disita harga bendanya, dan di blacklist. Karyawan tentu tidak akan turut menanggung resiko.<br />
3. Pemilik merasa resiko dpt ditekan jk perusahaan 100% dalam kendali dan genggamannya.<br />
4. Perlu diingat bahwa Organisasi dapat Maju bilamana Visi, Misi, Arah tujuan nya Selaras. Bygkan jika perusahaan punya banyak visi dan tujuan, tentu tak terarah.<br />
5. Demokrasi di perusahaan akan cocok bilamana di Koperasi dimana sebenarnya itu adalah kongsi pemilik, dimana pemilik turut bekerja. Hal ini terjd jg diperusahaan yg baru didirikan/ start-up company.<br />
6. Bahkan dikoperasi pun, Karyawan dikebiri hak demokrasi nya. Saya dulu kuliah di itb, kokesma/koperasi mahasiswa memiliki beberapa unit usaha (kantin, toko) yg memiliki karyawan, Hak karyawan tersebut hanya Gaji saja, tidak ada hak managerial.<br />
7. Demokratisasi perusahaan cocok untuk Perusahaan Berbasis Utama SDM Tinggi.Klo pabrik konveksi dengan jmlh karyawan 10.000 dengan jenjang pendidikan level2 SD dan SMP, maka saat diskusi pasti gak nyambung banget, apalagi membahas strategi arah perusahaan.</p>
	<p>Tp saya pun tidak setuju pada arah globalisasi yg terus menekan para pekerja. Untuk sebatang rokok senilai Rp700 perbatang, pekerja hanya dapat beberapa rupiah. Sungguh tidak adil juga. Itulah guna nya peraturan dan perundang2an, sifatnya melindungi pada sektor2 yg rentan.</p>
	<p>Dimas P P<br />
<a href="mailto:dimas_pp@yahoo.com">dimas_pp@yahoo.com</a><br />
<a >http://www.smartmarkreader.com</a></p>
	<p>++Wah, ini komentar yang saya tunggu! Menjadikan wacana seperti ini berkembang dan mencerahkan kita semua yang terlibat dalam diskusi. Memang ada plus-minusnya demokratisasi perusahaan di tangan karyawan. Di semco, st luke bisa demokrasi karena karyawan adalah pemegang saham. Mereka ikut menanggung risiko modal. Tapi, bagaimana pun model korporasi seperti sekarang mungkin bukanlah yang ideal. Studi dari Gallup yang terkenal di akhir 1990-an menunjukkan kurang dari 30% karyawan tidak merasa terlibat &#8220;engage&#8221; dengan pekerjaannya. Mereka hanya datang sekedar memenuhi kewajiban. Mungkin bila perusahaan itu adalah sekaligus miliknya dan dia punya kewenangan ikut ngatur, akan lain ceritanya. ++
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
