web page hit counter

a beautiful mind

July 17, 2006

Mr Snake and Mrs Big Ego

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 9:04 am

Sekian tahun yang lalu saya pernah membaca sebuah buku mengenai corporate bestiary. Diceritakan dalam buku sederhana yang setengah komik itu mengenai macam-macam “binatang” yang hidup dalam dunia korporasi. Binatang-binatang itu digambarkan seperti dalam mitologi untuk menggambarkan karakternya. Ada binatang yang bernama the job hopper misalnya, yang dilukiskan seperti belalang yang suka berpindah dari pohon ke pohon. The vanishing secretary dilukiskan sebagai bison betina cantik yang terancam punah.The mediocre employee digambarkan seperti bekicot lamban namun paling bertahan lama karena strateginya untuk selalu cari aman. Meskipun tidak pernah menang, dia tidak pernah kalah sehingga dapat terus hidup dalam cangkangnya.

Buku itu cukup menghibur dan sedikit mencerahkan. Di buku Leading Change tulisan John Kotter dari Harvard Business School yang lebih serius, saya mendapatkan dua jenis ”binatang” kantor yang lain, yaitu The Snakes dan The Big Egos. Gambaran dua binatang kantor temuan Kotter ini sangat mengesankan saya karena saya kemudian berkesempatan mengamatinya secara langsung di habitatnya. Sebelum menemukannya dengan mata kepala sendiri, tulisan Kotter itu kurang bermakna bagi saya.

The Snake alias ular berbisa adalah orang yang mengatakan si B kalau si A itu bicara begini- begitu sehingga si B naik pitam dan melabrak si A. Di lain kesempatan, si A diberitahu kalau si B bicara begitu-begini sehingga marah dan semakin meradang-radang hubungannya dengan A. Dia adalah provokator lihai dan licin yang menangguk keuntungan dari konflik orang lain. Mengadu domba adalah caranya untuk melemahkan pengaruh orang-orang yang dianggap pesaingnya, seperti Belanda dulu yang melaksanakan politik Devide-et-Impera antar penguasa di Nusantara untuk melanggengkan penjajahannya. Dilakukan dengan eksekusi yang prima dan situasi kejumudan yang mendukung, strategi ini dapat menjadi sangat efektif.

The Big Ego adalah orang yang egonya besar sekali, sampai-sampai memenuhi ruangan. Dalam pekerjaan, dia paling suka mengatur dan memborong semua sumber daya yang diperlukan, seolah-olah hanya pekerjaannya yang paling penting. Apa saja yang dari dia atau untuk dia adalah nomor satu, orang lainnya hanya jadi ”pelengkap penderita”. Mulutnya bisa sangat manis bila sedang membutuhkan, namun dia bisa meledak secara menakutkan bila tidak mendapat yang diingini. Rayuan dan umpatan vulgar adalah senjata alamiahnya. Di lingkungan kerja yang kebanyakan diisi binatang jinak, big egos bisa merajalela. Apalagi bila pemimpin di atasnya adalah orang pragmatis yang hanya butuh hasil (jangka pendek), toleransi terhadap kelakuannya lebih besar dibanding keluhan-keluhan dari para binatang jinak yang bersikap silent majority. Big egos biasanya paling pintar mengemas sehingga hasil kerjanya dapat sangat terlihat, digelembungkan nilainya dan diperbesar kredit poin untuknya sehingga pencapaian yang biasa-biasa saja dapat terlihat luar biasa.

Prof John Kotter menganggap dua binatang itu paling merusak dalam pembentukan tim. Dia bahkan mengatakan bahwa bila ada dua binatang itu, seorang pemimpin harus mengucapkan selamat berpisah terhadap transformasi bisnis yang hendak dilakukan.

Sebagaimana disinggung di atas, sebagai petualang di rimba korporat yang penuh semak belukar dan binatang-binatang (buas, jinak, indah maupun menyeramkan), saya cukup beruntung berhasil menemukan dua binatang langka di atas hidup di habitat aslinya. Meskipun sempat terpatuk oleh si ular berbisa beberapa kali serta dicakar dan ”dikuyo-kuyo” oleh Big egos, alhamdulillah sampai saat ini masih selamat. Pengalaman itu sungguh sangat menakjubkan dan berharga untuk menghadapi perjalanan masa depan yang mudah-mudahan masih panjang. Seperti Rob Breddel atau Jeff Corwin yang ahli binatang-binatang di tayangan dunia fauna TV swasta, saya semakin pede karena sekarang ciri-ciri, kekuatan dan kelemahan binatang-binatang itu sudah terbaca.

Dengan ular kita harus berhati-hati mengekspos diri, salah mengucapkan kata-kata bisa ”dipelintirnya” menjadi bahan bakar permusuhan dan sarana pembunuhan karakter kita. Kita juga harus hati-hati mencerna ucapannya yang penuh bisa, salah-salah memaknai maka akan menjadi racun hubungan kita dengan orang lain. Seorang pawang akan memegang ekor ular tinggi-tinggi untuk menetralisir ancaman mulutnya yang berbisa. Senjata di mulutnya itu sangat dahsyat sehingga perlu dijauhkan dari badan. Saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri seorang Mr Snake yang dapat membunuh seorang kerbau besar yang mengamuk setelah terkena bisanya. Sang kerbau dapat dikalahkannya karena justru semakin mengamuk, semakin cepat bisa racun membusukkan badannya.

Menghadapi Mrs Big ego sedikit lebih gampang. Mrs Big ego hanya mengandalkan kekuatan kasar dan gonggongan kerasnya. Tidak seperti Mr. Snake, dia biasanya tidak terlalu pintar bermanuver. Pemahamannya atas situasi dan dinamika interaksi juga umumnya lemah. Kelemahan ini biasanya yang diolah secara piawai oleh Mr. Snake sehingga dia terprovokasi untuk menyerang sana sini dan menyalak-nyalak sampai lelah. Mrs Big ego perlu diberi asupan makanan ego yang cukup namun proporsional dengan kebutuhannya agar tidak menjadi buas. Dia harus diberi batasan-batasan mengenai wilayah kekuasaannya dan sekali-sekali dipentung bila melewati batas. Dia juga harus disibukkan dengan mainan-mainan, agar tidak mengganggu orang lain. Mrs Big ego mengaitkan harga dirinya dengan kesibukan, bila dia tidak sibuk maka dia merasa tidak bermanfaat karena energinya yang berlebih butuh penyaluran. Buatlah kesibukan apa pun agar dia tenang.

Kalau ada pilihan, kita memang harus membuang jauh-jauh atau melemahkan Mr Snake dan Mrs Big Ego secepat mungkin sebelum menjadi penyakit di organisasi. Namun, dalam organisasi kadang kala kita tidak punya banyak pilihan. Meskipun membuat organisasi stagnan karena menjadikan karyawan terbelah dalam kutub-kutub yang bermusuhan dan tidak memiliki sinergi, dalam kepemimpinan yang lemah mereka dapat tetap bertahan dan berkembang. Kalau situasinya sudah sedemikan rupa sehingga Mr Snake dan Mrs Big Ego menjadi sangat dominan di organisasi, pilihan terbaik adalah berhijrah ke tempat lain. Meskipun anda dapat menetralisir ulah mereka, anda akan terjebak dalam lingkungan yang tidak mungkin berkembang. Situasi itu akan membuat anda frustrasi.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/07/17/mr-snake-and-mrs-big-ego/trackback/

  1. jangan-jangan dirimu bisa lolos dr Mr. Snake karena dirimu ‘bekicot yang lamban’… hehe (ular kan tidak makan bekicot)

    ==HP: Mungkin memang begitu. Baru sadar, jangan-jangan selama ini cuma keenakan di cangkang sendiri jadi nggak mau lari ke mana-mana. Aktivitasnya cuma muter saja cari jalan aman di pinggiran… nggak ada kemajuan! Dirimu apa?==

    Comment by khairulu — July 27, 2006 @ 6:57 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.