Zidane Husnul Khotimah?
“Ketika mengakhiri karier sepak bolanya di klub kaya raya Spanyol, Real Madrid, di Stadion Santiago Bernabeu pada 7 Mei 2006, Zinedine Zidane mendapat penghormatan terakhir dalam arti yang sebenar-benarnya, bak “standing ovation” dalam sebuah akhir konser. Penghormatan luar biasa penonton Madrid pun membuat Zidane menitikkan air mata ketika meninggalkan lapangan. Belum lagi kostum khusus yang dikenakan kolega-kolega Real Madrid ketika melawan Villareal CF sore itu, bertuliskan “Zidane 2001-2006” di bawah logo klub, membuatnya semakin haru.” (Kompas hal. 12, 16 Juli 2006)
Demikian indah akhir karir sepakbola Zidane di Real Madrid! Sebuah akhir yang sangat manis dan akan dikenang olehnya dan oleh orang-orang yang mencintainya. Adalah impian semua orang untuk dapat mengakhiri akhir pengabdian dengan manis seperti itu. Bukan hanya itu, bahkan kita ingin mengakhiri hidup kita yang sebentar ini dengan cara semanis itu. Ketika kita lahir, kita menangis dan orang-orang yang kita cintai tertawa. Ketika kita mati kelak, kita ingin orang-orang menangisi kepergian kita dan kita tertawa haru meninggalkan mereka. Kita bahkan menitikkan air mata karena tertawa tidak lagi cukup untuk mengekspresikan kebahagiaan yang demikian besar.
Titik akhir dari suatu karir atau babak kehidupan merupakan hal yang sangat menentukan. Baik dan buruk penilaian atas ikhtiar kita ditentukan olehnya. Seperti para siswa SMA yang selama 3 tahun belajar ditentukan sukses tidaknya oleh beberapa menit Ujian Nasional, demikianlah juga kehidupan. Dalam agama, baik dan buruk hidup kita ditentukan di detik- detik akhir menjelang nyawa putus dari raga. Husnul khotimah adalah akhir yang baik di mana di detik-detik itu kita bisa meninggalkan dunia fana ini secara elegan, berpamitan dengan baik dan tersenyum menyambut pertemuan dengan Sang Khalik. Suul khatimah–naudzubillah kita berlindung darinya–adalah bila kita mengakhiri hidup ini dengan tidak siap dan cara yang tidak elegan. Dulu ada seorang mantan menteri yang nafas terakhirnya berhembus di atas perut seorang pelacur. Masya Allah, demikian aib akhir hidupnya untuk diceritakan.
Di literatur manajemen, ada kata-kata mutiara yang bagus dari D Michael Abrashoff, mantan komandan kapal USS Benfold yang melegenda karena kemampuannya menjadikan kapal itu dari yang terburuk menjadi yang terbaik pengelolaannya di jajaran AL Amerika Serikat hanya dalam waktu 20 bulan: "When you lead your ship, will you leave to tears, or cheers?". Pemimpin yang baik adalah bila dia dapat mengakhiri perpisahan karirnya dengan tangisan orang-orang karena kepergiannya, bukan kegembiraan karena merasa telah bebas darinya.
Dalam konteks itu, apa yang dilakukan Zidane di 3 menit terakhir dari karir sepakbolanya yang panjang dengan menanduk Marco Materazzi sungguh disayangkan. Tindakan itu membuat rapor akhir karirnya ternoda. FIFA sedang melakukan pemeriksaan yang dapat mengakibatkan dicabutnya kembali penghargaan Bola Emas (Golden Ball) dari tangannya. Mudah-mudahan noda itu tidak dianggap terlalu besar untuk memupus prestasi gemilangnya di Piala Dunia kemarin. Dalam bahasa teman saya, mudah-mudahan Zidane tidak dinilai suul khotimah dalam mengakhiri karir bolanya.
Mungkin terasa tidak adil untuk menilai suatu karir panjang atau kehidupan seseorang hanya dari momen-momen terakhirnya. Namun demikianlah kehidupan. Mungkin ada pesan tersembunyi dari Allah bahwa karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan mengakhiri hidup atau karir kita, maka kita harus berusaha selalu dalam posisi yang terbaik. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat sesamanya, setiap menit, setiap detik.
Ya.. itu lah kehidupan…
Banyak juga yg brengsek sepanjang hidupnya…
lalu di akhir hidupnya dia berbuat yg baik.. berkorban…
maka stlh mati… dikenanglah jasa2nya…
Tapi menurut saya… mgkn orang msk sorga dari suatu amalan yg terikhlas dari hidupnya, dan itu adalah amalan yg tidak disadari dan tidak pernah diperhitungkan oleh nya.
Dimas P P
dimas_pp@yahoo.com
http://www.smartmarkreader.com
Comment by Dimas P P — December 29, 2007 @ 5:09 pm