web page hit counter

a beautiful mind

August 9, 2006

Spiderman dan Bush

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 6:40 pm

“With great power comes great responsibility”, demikian kata Spiderman alias Peter Parker. Dia menolak untuk diam saja ketika kejahatan merajalela, meski dengan menentang kejahatan itu dia membahayakan dirinya sendiri. Seperti kita semua, Spiderman juga tentu berkeinginan menjadi seperti orang kebanyakan: hidup tenang, enak dan nyaman. Tapi dia memilih tidak menjalani hidup seperti itu di saat dia memiliki kemampuan untuk berbuat lebih.

Filsafat Spiderman ini sungguh mengena. Segala yang kita punya tidak datang tanpa tanggung jawab. Kalau anda kaya, anda punya tanggung jawab lebih dibandingkan tetangga-tetangga anda karena kekayaan anda itu. Bila ada orang miskin di sekitar yang terlunta-lunta atau kelaparan, anda lah yang paling bertanggung jawab membantu. Kalau anda punya kekuasaan, anda memiliki tanggung jawab lebih dibandingkan orang-orang yang di bawah posisi anda untuk mendayagunakan kekuasaan itu untuk kemajuan bersama. Apa pun kelebihan anda, anda memiliki tanggung jawab lebih karena memilikinya.

Sayangnya, filsafat Spiderman yang demikian gamblang itu tidak selalu dimengerti dan dijalankan. Banyak pihak-pihak yang lebih kaya, lebih kuat dan lebih pandai tidak menggunakan kelebihannya secara bertanggung jawab. Mereka memilih hidup nyaman dengan kelebihan-kelebihan mereka. Mereka mau “power” tapi tidak mau “responsibility”-nya, seperti menjadi spiderman yang mau hidup nyaman dengan segala kelebihannya.

Dunia ini mengalami ketimpangan besar karena para spiderman di dunia ini hanya mementingkan kenyamanan hidup masing-masing. Amerika Serikat dan negara-negara kaya di G-8 yang memiliki kekayaan (PDB) separuh PDB dunia tidak berusaha dengan kekayaan mereka itu menjadikan dunia lebih sejahtera. Ketimpangan justru dari tahun ke tahun semakin menjadi-jadi. Kalau di tahun 1960 pendapatan seperlima penduduk termiskin di negara-negara miskin dibandingkan seperlima penduduk terkaya di negara-negara kaya adalah 1: 30, di tahun 1995 menjadi 1:74, dan di tahun 2006 ini mungkin sudah mencapai 1: 80. Sementara pendapatan per kapita di negara-negara maju mencapai lebih dari 20.000 dollar per tahun, lebih dari separuh penduduk dunia hidup dengan hanya 2 dollar sehari. Dunia akan lebih baik bila negara-negara kaya menyadari bahwa di balik kekayaan mereka ada tanggung jawab atas hartanya itu untuk menjadikan dunia lebih makmur. Beberapa aktivis sosial di tanah air mendengung-dengungkan perlunya mempromosikan “kewajiban asasi manusia” (KAM) sebagai penyeimbang “hak asasi manusia”(HAM). Kewajiban asasi manusia adalah menggunakan kemampuannya untuk memakmurkan bumi ini bagi seluruh ummat manusia. Bagi yang mampu finansial, KAM-nya adalah berzakat. Bila PBB dan LSM-LSM di seluruh dunia ini mendengung-dengungkan KAM segetol mereka mengkampanyekan HAM, insya Allah jutaan rakyat miskin di negara-negara miskin akan terbantu. Hutang negara-negara dunia ketiga yang menggunung juga mungkin akan dihapus karena mereka dikategorikan “ghorimin” yang berhak mendapat zakat.

Dunia juga akan lebih baik bila negara-negara pemegang veto PBB menggunakan hak vetonya itu untuk memajukan perdamaian dunia yang berkeadilan. Saat ini AS paling mengobral vetonya untuk memajukan kepentingannya sendiri. Apa pun yang menguntungkan dia dan sekutunya Israel akan didorong supaya diamini semua orang. Sebaliknya, bahkan ketika semua dunia mengutuk kebrutalan Israel, Amerika siap sedia untuk mem-veto setiap resolusi yang merugikan sekutunya itu. Egoisme besar seperti ini sungguh tidak pantas dilakukan oleh bangsa yang paling kaya, paling maju dan paling kuat dari seluruh bangsa lain saat ini. Dengan kekayaan, kemajuan dan kekuatan itu melekat tanggung jawab untuk mengangkat bangsa-bangsa lain menuju kondisi yang lebih baik, bukannya justru digunakan untuk mengokohkan hegemoni atas bangsa-bangsa lain. Kepentingan nasional, bahkan kepentingan segelintir elit pemegang kuasa di AS lebih dikedepankan daripada kepentingan menata dunia yang lebih berkeadilan dan berkemakmuran.

 Presiden Bush harus belajar dari Spiderman dalam menggunakan kekuatannya. Ratusan milyar dollar uang pajak AS dihabiskan untuk menghancurkan infrastruktur dan mencabut ribuan nyawa rakyat Afghanistan, Irak, Palestina dan Lebanon. Uang dan teknologi yang sama sebenarnya bisa dipakai untuk memajukan negara-negara miskin, menghapus hutang-hutang mereka dan mendorong kelestarian lingkungan hidup. Tidak salah bila Johan Galtung meramalkan, hari-hari imperium AS sedang dalam hitungan. Spiderman yang menggunakan kekuatannya hanya untuk diri sendiri dan konco-konconya akan menjadi Spiderman yang banyak musuh dan ditinggalkan banyak orang. Cepat atau lambat, dia akan kehilangan kepemimpinan dan respek dari orang-orang. Dia tidak lagi berhak menyandang segala kekuatannya dan gelar superhero…

August 3, 2006

Menjual Wanita

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 1:29 pm

Ada tulisan menarik dari Mario Gagho mengenai sebuah saluran TV di India yang sedang ngetop. Televisi itu, NDTV, adalah TV India pertama yang go-public dan sahamnya terjual laris. Rating pemirsanya tentu luar biasa. Yang menarik adalah bahwa penyiar TV di NDTV itu hampir semuanya tidak cantik, berbeda dengan TV-TV lain yang umumnya menonjolkan presenter yang cantik-cantik. Ternyata, tanpa mengandalkan kecantikan presenternya NDTV dapat menjadi TV yang digemari penonton dan bahkan mendapatkan penghargaan sebagai TV dengan laporan investigasi terbaik di tahun 2004.

Di negara kita, kecantikan seperti sudah menjadi standar mutlak bagi para penyiar TV. Bahkan MetroTV, misalnya, penyiarnya terkenal cantik-cantik. Konon seorang mantan penyiarnya yang sekarang berjilbab-pun tidak boleh menjadi presenter lagi, karena (mungkin) dengan berjilbab dia jadi tidak menarik lagi.(Well, itu relatif!). Pemilihan presenter wanita-wanita muda yang cantik itu–meskipun beberapa suaranya "cempreng" seperti speaker bocor– merupakan strategi pemasaran MetroTV karena mayoritas penontonnya memang laki-laki dewasa. Ibu-ibu dan anak-anak yang umumnya tidak tertarik dengan karut-marut berita politik dan ekonomi tentu lebih memilih saluran lain. (Misalnya, SCTV yang beberapa presenternya,ehm, adalah pria ganteng….). 

Pilihan NDTV untuk lebih menitikberatkan pada keterampilan para penyiarnya daripada kecantikannya tentu merupakan suatu terobosan yang patut diacungi jempol. Ternyata, tanpa "menjual" fisik wanita, NDTV tetap dapat menjadi TV yang terbaik di mata penonton.

Saya jadi ingat ketika beberapa tahun lalu terbang menggunakan Air India. Sungguh suatu pengalaman yang tidak terlupakan ketika saya menyadari bahwa para pramugari yang melayani di Air India banyak yang sudah tua. Dalam pikiran saya sebelumnya, pramugari selalu muda, tinggi dan menarik. Saya sendiri dilayani oleh seorang ibu yang cukup tambun dan sudah beruban dengan baju sarinya yang khas.

"Veg or non-veg?" , tanyanya dengan keramahan biasa-biasa saja. Rupanya sangat jamak bagi orang India untuk menanyakan apakah kita vegetarian atau bukan. Ketika dia menyajikan makanan dan menuangkan teh susu ("cai" dan "dood") dari pegunungan Darjeeling yang khas, pelayanannya mengingatkan saya pada ibu saya di kampung. Kalau saya pulang kampung, dengan penuh kasih Ibu saya pasti menyeduhkan teh hangat di pagi hari. Bagi saya, sang pramugari seperti ibu saya di atas awan. Hangat, penuh kasih dan terhormat.

Sungguh berbeda reaksinya bila kita dilayani oleh pramugari Cathay, SIA atau Garuda yang muda-muda dan cantik. Ketika dilayani, sama sekali tidak terlintas gambaran ibu saya yang penuh cinta dalam melayani anak-anaknya. Bahkan, mungkin terlintas "pikiran nakal" ketika seorang pramugari muda dengan balutan rok span pendek ketat menundukkan badan untuk menyorongkan cangkir teh. Kehangatan seorang ibu tidak terwakili oleh para wanita muda itu. 

Kita memiliki pilihan, apakah kita akan "menjual" wanita dari aspek keindahan tubuh dan wajahnya atau sosok keibuan, intelektualitas dan keterampilannya. Menjadikan kecantikan dan kemudaan sebagai kriteria awal untuk seleksi penyiar, pramugari, sekretaris, dan lainnya berarti menutup peluang bagi sebagian besar wanita. Seolah-olah, bila anda wanita dan anda tidak cantik, pilihan anda sungguh terbatas. Bagi para presenter dan pramugari cantik itu, masa jual mereka juga terbatas. Ketika menjadi tua dan tidak menarik, mereka harus mengucapkan sayonara terhadap pekerjaan yang selama ini telah digelutinya. Habis manis, sepah dibuang. Kecantikan dan kemudaan adalah nilai jual mereka yang utama.