Menjual Wanita
Ada tulisan menarik dari Mario Gagho mengenai sebuah saluran TV di India yang sedang ngetop. Televisi itu, NDTV, adalah TV India pertama yang go-public dan sahamnya terjual laris. Rating pemirsanya tentu luar biasa. Yang menarik adalah bahwa penyiar TV di NDTV itu hampir semuanya tidak cantik, berbeda dengan TV-TV lain yang umumnya menonjolkan presenter yang cantik-cantik. Ternyata, tanpa mengandalkan kecantikan presenternya NDTV dapat menjadi TV yang digemari penonton dan bahkan mendapatkan penghargaan sebagai TV dengan laporan investigasi terbaik di tahun 2004.
Di negara kita, kecantikan seperti sudah menjadi standar mutlak bagi para penyiar TV. Bahkan MetroTV, misalnya, penyiarnya terkenal cantik-cantik. Konon seorang mantan penyiarnya yang sekarang berjilbab-pun tidak boleh menjadi presenter lagi, karena (mungkin) dengan berjilbab dia jadi tidak menarik lagi.(Well, itu relatif!). Pemilihan presenter wanita-wanita muda yang cantik itu–meskipun beberapa suaranya "cempreng" seperti speaker bocor– merupakan strategi pemasaran MetroTV karena mayoritas penontonnya memang laki-laki dewasa. Ibu-ibu dan anak-anak yang umumnya tidak tertarik dengan karut-marut berita politik dan ekonomi tentu lebih memilih saluran lain. (Misalnya, SCTV yang beberapa presenternya,ehm, adalah pria ganteng….).
Pilihan NDTV untuk lebih menitikberatkan pada keterampilan para penyiarnya daripada kecantikannya tentu merupakan suatu terobosan yang patut diacungi jempol. Ternyata, tanpa "menjual" fisik wanita, NDTV tetap dapat menjadi TV yang terbaik di mata penonton.
Saya jadi ingat ketika beberapa tahun lalu terbang menggunakan Air India. Sungguh suatu pengalaman yang tidak terlupakan ketika saya menyadari bahwa para pramugari yang melayani di Air India banyak yang sudah tua. Dalam pikiran saya sebelumnya, pramugari selalu muda, tinggi dan menarik. Saya sendiri dilayani oleh seorang ibu yang cukup tambun dan sudah beruban dengan baju sarinya yang khas.
"Veg or non-veg?" , tanyanya dengan keramahan biasa-biasa saja. Rupanya sangat jamak bagi orang India untuk menanyakan apakah kita vegetarian atau bukan. Ketika dia menyajikan makanan dan menuangkan teh susu ("cai" dan "dood") dari pegunungan Darjeeling yang khas, pelayanannya mengingatkan saya pada ibu saya di kampung. Kalau saya pulang kampung, dengan penuh kasih Ibu saya pasti menyeduhkan teh hangat di pagi hari. Bagi saya, sang pramugari seperti ibu saya di atas awan. Hangat, penuh kasih dan terhormat.
Sungguh berbeda reaksinya bila kita dilayani oleh pramugari Cathay, SIA atau Garuda yang muda-muda dan cantik. Ketika dilayani, sama sekali tidak terlintas gambaran ibu saya yang penuh cinta dalam melayani anak-anaknya. Bahkan, mungkin terlintas "pikiran nakal" ketika seorang pramugari muda dengan balutan rok span pendek ketat menundukkan badan untuk menyorongkan cangkir teh. Kehangatan seorang ibu tidak terwakili oleh para wanita muda itu.
Kita memiliki pilihan, apakah kita akan "menjual" wanita dari aspek keindahan tubuh dan wajahnya atau sosok keibuan, intelektualitas dan keterampilannya. Menjadikan kecantikan dan kemudaan sebagai kriteria awal untuk seleksi penyiar, pramugari, sekretaris, dan lainnya berarti menutup peluang bagi sebagian besar wanita. Seolah-olah, bila anda wanita dan anda tidak cantik, pilihan anda sungguh terbatas. Bagi para presenter dan pramugari cantik itu, masa jual mereka juga terbatas. Ketika menjadi tua dan tidak menarik, mereka harus mengucapkan sayonara terhadap pekerjaan yang selama ini telah digelutinya. Habis manis, sepah dibuang. Kecantikan dan kemudaan adalah nilai jual mereka yang utama.
Terima kasih atas kunjungannya pak, tema menjual wanita ini menarik, saya sepakat pak
Comment by Anggara — August 7, 2006 @ 4:25 pm