web page hit counter

a beautiful mind

September 21, 2006

Berpuasa Mengekang Nafsu Belanja

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 11:09 am

"Expenses rise to meet income", tulis Brian Tracy dalam The 21 Secrets of Self-Made Millionaires. Pengeluaran-pengeluaran kita akan naik mengikuti pendapatan kita. Secara umum, dikenal juga apa yang disebut Hukum Parkinson yang menyatakan bahwa permintaan atas suatu sumber daya akan bertumbuh untuk menyamai tingkat penyediaannya. Dalam contoh yang populer, pekerjaan kita akan terus bertambah sampai waktu kita habis terbagi. Berapa pun waktu yang tersedia, serasa tidak pernah cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan kita. Banyak eksekutif yang stress berat karena tekanan pekerjaan dan tuntutan waktu keluarga yang bersaing merebut waktunya yang hanya 24 jam sehari. Kepadatan lalu lintas kendaraan atau data (bandwith) akan tumbuh terus sampai terjadi kemacetan. Berapa pun bertambah besarnya harddisk kita, data kita akan bertumpuk memenuhinya sampai terasa kurang. (Dulu kapasitas 1 GB sudah luar biasa besar, sekarang 80 GB masih terasa kecil).

Kalau kita tidak memiliki disiplin, kita akan "termakan" oleh Hukum Parkinson. Eksekutif yang hidupnya berimbang adalah mereka yang bisa melakukan manajemen diri agar bisa memilah-milah mana yang penting dan tidak penting dilakukan, mana yang harus dilakukan sendiri dan mana yang harus diserahkan orang lain. Pribadi yang memiliki kondisi keuangan berimbang adalah yang dapat menekan hasrat pengeluarannya agar tidak melebihi pendapatannya.

Salah satu "syetan besar" penggoda iman yang membuat orang lupa diri adalah kartu kredit. Dua orang kawan yang saya kenal sedang main kucing-kucingan dengan debt collector kartu kredit yang mengejar-ngejar seperti hantu di siang bolong. Dua-duanya ibu rumah tangga dengan penghasilan yang mestinya cukup untuk hidup sederhana. Godaan untuk membeli handphone polyphonic, TV layar datar, dan pulang kampung pakai dana tunai kartu kredit membuat mereka lepas kendali. Cicilan dan bunganya yang mencekik leher seperti rentenir (3%-4% per bulan) membuat mereka bergali-lubang tutup-lubang. Bahkan mereka seringkali tidak masuk kantor karena takut diteror debt collector dan kebingungan cari ongkos transport.

Ketika saya ke Hongkong beberapa waktu lalu saya membaca berita koran setempat. Ada bujangan tua yang bunuh diri, loncat dari lantai apartemennya karena sudah kewalahan ditagih debt collector kartu kredit. Dia memiliki beberapa kartu kredit yang cicilannya macet dengan total lebih dari HK$100,000. Ketika polisi membuka paksa apartemennya, ada puluhan barang elektronik bertebaran: TV, handphone, stereo set, alat kesehatan, dll. Banyak di antaranya yang masih terbungkus dalam kardus dan plastik toko, belum dibuka sama sekali! Nafsu belanja yang tidak terkontrol telah membunuhnya.

Beberapa waktu lalu ada wacana bahwa BI akan melakukan kontrol yang lebih ketat dalam penerbitan kartu kredit. Saat ini memang bank-bank sudah sangat jor-joran dalam persaingan bisnis kartu kredit. Betapa tidak, seorang teman yang saya tahu gajinya hanya 1 juta lebih sedikit bisa punya empat kartu dari bank-bank yang berbeda!

Lain kelas menengah, lain kelas bawah. Kemarin malam saya menonton satu berita di TV mengenai seorang kakek tua berumur 60-an yang gantung diri di kamarnya. Dia nekat bunuh diri setelah tahu istrinya menggunakan Bantuan Langsung Tunai yang diterimanya untuk keperluan belanja, bukan untuk mengobati asmanya yang sedang kambuh. Tragis dan memilukan.

Bagaimana melawan hukum Parkinson? Disiplin diri untuk mengekang nafsu. Orang dapat melawan hukum Newton mengenai gravitasi dan bisa terbang sampai ke bulan. Bila melawannya tidak pakai mesin, bisa jadi superman yang dengan entengnya pergi-pulang ke angkasa hanya dengan mengepalkan tangan. Kalau anda bisa melawan hukum Parkinson, anda juga dapat terbang ke level yang lebih tinggi.

Sebentar lagi Romadhon, saatnya ramai-ramai saling mendukung untuk mengekang hawa nafsu. Bila sukses, kita akan terbiasa mengekang diri melawan nafsu makan, minum, sex dan keserakahan. Mestinya, bukan hanya tempat-tempat hiburan yang tutup di bulan puasa, tapi juga mal-mal dan pasar-pasar, agar kita juga dapat menang melawan nafsu belanja dan mengejar materi yang tidak pernah cukup…

September 13, 2006

Work Hard, Play/Pray Hard

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 12:17 pm

Beberapa waktu yang lalu pernah saya berbicara dengan rekan kerja saya yang sudah berposisi cukup tinggi di Perusahaan, seorang Assistant Vice President yang berusia mid-forty dengan dua anak. Setelah lama ngobrol mengenai berbagai hal di Perusahaan, kami akhirnya berdiskusi mengenai kenaikan gaji yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan inflasi yang demikian tinggi. Dia mengeluhkan betapa gaji dia tidak cukup untuk menutup berbagai pengeluaran. Bahkan, salah satu yang dia sedihkan, cita-citanya untuk menyekolahkan anaknya di sebuah SMA swasta favorit kelas atas di Jakarta tidak kesampaian karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya masuk. Saya geli dalam hati mendengarkan keluhannya. Seorang AVP mengeluhkan kesulitan menyekolahkan anak karena gajinya yang terlalu ‘kecil’!

Kawan itu saat ini sudah menjadi Vice President. Entah apakah dia juga masih mengeluh mengenai gajinya yang ‘kecil’ bila saya sentil untuk berdiskusi lagi mengenai hal itu.

Besar-kecil penghasilan memang relatif. Rekan saya itu menganggap gajinya kecil karena membandingkan dengan aspirasi gaya hidupnya yang lebih tinggi. Mungkin juga dia membandingkan dengan teman-temannya di perusahaan lain yang memiliki jabatan setara namun bisa menyekolahkan anaknya di sekolah favorit incarannya. Padahal, bagi kebanyakan kita jumlah yang diterimanya tiap bulan pastilah cukup membuat ngiler.

Kecuali bagi beberapa gelintir orang yang superkaya, barangkali kita tidak akan pernah merasa penghasilan kita cukup besar. Berapa pun peningkatan penghasilan kita, keinginan dan gaya hidup kita akan naik mengikuti peningkatan tersebut. Seolah-olah, ’titik keseimbangan’ baru tercapai bila pengeluaran kita sudah sama atau lebih besar dari pendapatan.

Pada tahun 1998 saya pernah mengalami lompatan penghasilan yang cukup besar. Penghasilan saya meningkat hampir 5 kali lipat ketika saya berpindah dari tempat kerja lama ke tempat kerja baru. Tiba-tiba saya seperti OKB (orang kaya baru). Beberapa barang elektronik yang selama ini menjadi angan-angan langsung dibeli, belanja harian istri ditingkatkan sehingga setiap ke pasar berbagai belanjaan akan memenuhi isi kulkas. ’Rasa sukses’ membuat saya semakin percaya diri dan optimistis menghadapi masa depan. Gaya hidup pun berubah, dari ’setengah-miskin’ menjadi ’kelas menengah’. Sejak itulah penghasilan baru yang 5 kali lipat itu terasa kecil kembali dan sering merasa kurang dibandingkan aspirasi pengeluaran yang telah meningkat.

Kita hanya akan merasa cukup kalau kita bisa hidup di bawah kemampuan kita. Untuk itu, selain upaya untuk meningkatkan penghasilan kita, keterampilan menekan pengeluaran dan keinginan-keinginan sangat diperlukan. Ibarat petinju, selain pintar memukul kita juga harus pandai bertahan. Petinju yang hanya pintar memukul akan kalah bila mengabaikan pertahanannya. Demikian juga bila kita hanya pandai cari uang tapi tidak pintar membelanjakannya. Kita tidak akan pernah merasa cukup.

Seperti difatwakan Kiyosaki dan para pakar personal finance, kita memang harus mengupayakan agar tidak semua pendapatan habis dibelanjakan. Idealnya, 10% atau lebih dari penghasilan ditabung untuk berbagai keperluan masa mendatang dan untuk investasi yang menghasilkan. Berapa pun penghasilan anda saat ini, bila anda disiplin, anda bisa melakukannya.

Tetangga saya dulu yang berprofesi jadi tukang pijat saja bisa memiliki tabungan di bumbung bambu penyangga bilik rumahnya yang hanya dicongkel ketika sudah penuh. Tanpa disiplin, bahkan seorang AVP pun bisa tidak memiliki tabungan dan harus berhutang sana-sini.

Menarik untuk dicermati bahwa orang-orang yang kaya menurut survey Prof Thomas Stanley & William Danko di AS kebanyakan adalah orang-orang yang hidup ’way below their means’, jauh dari kemampuannya. Bahkan diceritakan ada pemilik sebuah tower apartemen kelas menengah yang melepas satu-satunya unit yang dia huni sendiri karena tidak kuat mengikuti gaya hidup penghuninya yang terlalu ’wah’ buatnya.

Tiga bulan lalu saya bertemu dengan seorang wanita pemilik belasan rumah besar yang kebanyakan disewakan ke orang-orang asing. Dia adalah ibu dari seorang pejabat yang cukup dekat dengan presiden SBY. Kami bertemu untuk membicarakan mengenai perpanjangan sewa salah satu rumahnya di Kemang. Yang menarik, penampilannya sangat sederhana, seperti para pensiunan janda (warakawuri) yang saya lihat antri di BRI mengambil santunan pensiunnya. Baju, sendal dan tas tangannya tidak baru dan tidak mahal. Mukanya tanpa make-up atau polesan apa pun. Ia datang dengan mobil kijang lama bersama agen property-nya. Padahal, sewa rumahnya yang akan kita perpanjang tiga tahun itu besarnya lebih dari 160.000 dollar.

Dalam istilah orang Texas yang dikutip prof Stanley, kalangan menengah seringkali bertampang ‘big hat, no cattle’. Mereka tampil parlente dengan topi besar, tapi sebenarnya tidak punya seekor ternak pun. Sementara pemilik ranch dengan ratusan sapinya justru bertampang lusuh mirip koboi beneran. Orang sering salah terka siapa tuan siapa jongos.

Kita juga sebaiknya tidak bekerja terus-menerus untuk mengejar ambisi pengeluaran kita. Orang barat punya falsafah ‘work hard, play hard’. Bekerja keras selama beberapa bulan, ambil cuti panjang untuk rehat dan bersenang-senang. Hal ini hanya bisa dilakukan bila kita rajin menabung. Seorang satpam di Australia bisa menabung untuk berlibur panjang di Bali. Para backpacker di Jalan Jaksa kebanyakan adalah turis pas-pasan yang tidak punya penghasilan tinggi di negaranya, tapi punya disiplin untuk menekan pengeluarannya agar bisa ’play hard’.

Bagi kita di Indonesia, kita bisa juga mengikuti falsafah itu. Atau, bahkan lebih baik lagi, ‘work hard, pray hard’.

Sebentar lagi bulan puasa. Umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadahnya dan mengurangi aktivitas duniawinya di bulan ini dengan banyak ibadah di masjid (i’tikaf) untuk refleksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saatnya bagi umat Islam untuk sebulan melakukan ‘pray hard’. Banyak pemilik bisnis yang tutup dan eksekutif yang cuti selama bulan Romadhon untuk fokus beribadah. Penghasilan sebelas bulan sudah cukup untuk hidup 12 bulan. Biarlah yang satu bulan digunakan untuk recharge energi, menekuri dan mengevaluasi jalan hidup, dan mendekatkan diri kepada Ilahi.

Namun, kebanyakan kita ternyata tidak bisa menjalankan work hard, play/pray hard ini. Sebagian karena kita tidak memiliki cukup penghasilan, bahkan untuk hidup sederhana sampai akhir bulan. Sebagian besar karena tidak memiliki disiplin untuk menekan keinginan-keinginan kita agar dapat hidup di bawah kemampuan kita. Alih-alih pray hard, di bulan Romadhon bisnis justru lebih digenjot. Bukan masjid yang penuh, tapi justru mal-mal dan pasar yang demikian padat menyemut menjelang lebaran. Sebelas bulan ternyata tidak cukup untuk work hard . Umat Islam tidak pernah merasa cukup materi untuk dapat melakukan pray hard. Atau karena memang mereka tidak pernah work so hard sehingga perlu play/pray hard?