Work Hard, Play/Pray Hard
Beberapa waktu yang lalu pernah saya berbicara dengan rekan kerja saya yang sudah berposisi cukup tinggi di Perusahaan, seorang Assistant Vice President yang berusia mid-forty dengan dua anak. Setelah lama ngobrol mengenai berbagai hal di Perusahaan, kami akhirnya berdiskusi mengenai kenaikan gaji yang jumlahnya tidak seberapa dibandingkan inflasi yang demikian tinggi. Dia mengeluhkan betapa gaji dia tidak cukup untuk menutup berbagai pengeluaran. Bahkan, salah satu yang dia sedihkan, cita-citanya untuk menyekolahkan anaknya di sebuah SMA swasta favorit kelas atas di Jakarta tidak kesampaian karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membayar biaya masuk. Saya geli dalam hati mendengarkan keluhannya. Seorang AVP mengeluhkan kesulitan menyekolahkan anak karena gajinya yang terlalu ‘kecil’!
Kawan itu saat ini sudah menjadi Vice President. Entah apakah dia juga masih mengeluh mengenai gajinya yang ‘kecil’ bila saya sentil untuk berdiskusi lagi mengenai hal itu.
Besar-kecil penghasilan memang relatif. Rekan saya itu menganggap gajinya kecil karena membandingkan dengan aspirasi gaya hidupnya yang lebih tinggi. Mungkin juga dia membandingkan dengan teman-temannya di perusahaan lain yang memiliki jabatan setara namun bisa menyekolahkan anaknya di sekolah favorit incarannya. Padahal, bagi kebanyakan kita jumlah yang diterimanya tiap bulan pastilah cukup membuat ngiler.
Kecuali bagi beberapa gelintir orang yang superkaya, barangkali kita tidak akan pernah merasa penghasilan kita cukup besar. Berapa pun peningkatan penghasilan kita, keinginan dan gaya hidup kita akan naik mengikuti peningkatan tersebut. Seolah-olah, ’titik keseimbangan’ baru tercapai bila pengeluaran kita sudah sama atau lebih besar dari pendapatan.
Pada tahun 1998 saya pernah mengalami lompatan penghasilan yang cukup besar. Penghasilan saya meningkat hampir 5 kali lipat ketika saya berpindah dari tempat kerja lama ke tempat kerja baru. Tiba-tiba saya seperti OKB (orang kaya baru). Beberapa barang elektronik yang selama ini menjadi angan-angan langsung dibeli, belanja harian istri ditingkatkan sehingga setiap ke pasar berbagai belanjaan akan memenuhi isi kulkas. ’Rasa sukses’ membuat saya semakin percaya diri dan optimistis menghadapi masa depan. Gaya hidup pun berubah, dari ’setengah-miskin’ menjadi ’kelas menengah’. Sejak itulah penghasilan baru yang 5 kali lipat itu terasa kecil kembali dan sering merasa kurang dibandingkan aspirasi pengeluaran yang telah meningkat.
Kita hanya akan merasa cukup kalau kita bisa hidup di bawah kemampuan kita. Untuk itu, selain upaya untuk meningkatkan penghasilan kita, keterampilan menekan pengeluaran dan keinginan-keinginan sangat diperlukan. Ibarat petinju, selain pintar memukul kita juga harus pandai bertahan. Petinju yang hanya pintar memukul akan kalah bila mengabaikan pertahanannya. Demikian juga bila kita hanya pandai cari uang tapi tidak pintar membelanjakannya. Kita tidak akan pernah merasa cukup.
Seperti difatwakan Kiyosaki dan para pakar personal finance, kita memang harus mengupayakan agar tidak semua pendapatan habis dibelanjakan. Idealnya, 10% atau lebih dari penghasilan ditabung untuk berbagai keperluan masa mendatang dan untuk investasi yang menghasilkan. Berapa pun penghasilan anda saat ini, bila anda disiplin, anda bisa melakukannya.
Tetangga saya dulu yang berprofesi jadi tukang pijat saja bisa memiliki tabungan di bumbung bambu penyangga bilik rumahnya yang hanya dicongkel ketika sudah penuh. Tanpa disiplin, bahkan seorang AVP pun bisa tidak memiliki tabungan dan harus berhutang sana-sini.
Menarik untuk dicermati bahwa orang-orang yang kaya menurut survey Prof Thomas Stanley & William Danko di AS kebanyakan adalah orang-orang yang hidup ’way below their means’, jauh dari kemampuannya. Bahkan diceritakan ada pemilik sebuah tower apartemen kelas menengah yang melepas satu-satunya unit yang dia huni sendiri karena tidak kuat mengikuti gaya hidup penghuninya yang terlalu ’wah’ buatnya.
Tiga bulan lalu saya bertemu dengan seorang wanita pemilik belasan rumah besar yang kebanyakan disewakan ke orang-orang asing. Dia adalah ibu dari seorang pejabat yang cukup dekat dengan presiden SBY. Kami bertemu untuk membicarakan mengenai perpanjangan sewa salah satu rumahnya di Kemang. Yang menarik, penampilannya sangat sederhana, seperti para pensiunan janda (warakawuri) yang saya lihat antri di BRI mengambil santunan pensiunnya. Baju, sendal dan tas tangannya tidak baru dan tidak mahal. Mukanya tanpa make-up atau polesan apa pun. Ia datang dengan mobil kijang lama bersama agen property-nya. Padahal, sewa rumahnya yang akan kita perpanjang tiga tahun itu besarnya lebih dari 160.000 dollar.
Dalam istilah orang Texas yang dikutip prof Stanley, kalangan menengah seringkali bertampang ‘big hat, no cattle’. Mereka tampil parlente dengan topi besar, tapi sebenarnya tidak punya seekor ternak pun. Sementara pemilik ranch dengan ratusan sapinya justru bertampang lusuh mirip koboi beneran. Orang sering salah terka siapa tuan siapa jongos.
Kita juga sebaiknya tidak bekerja terus-menerus untuk mengejar ambisi pengeluaran kita. Orang barat punya falsafah ‘work hard, play hard’. Bekerja keras selama beberapa bulan, ambil cuti panjang untuk rehat dan bersenang-senang. Hal ini hanya bisa dilakukan bila kita rajin menabung. Seorang satpam di Australia bisa menabung untuk berlibur panjang di Bali. Para backpacker di Jalan Jaksa kebanyakan adalah turis pas-pasan yang tidak punya penghasilan tinggi di negaranya, tapi punya disiplin untuk menekan pengeluarannya agar bisa ’play hard’.
Bagi kita di Indonesia, kita bisa juga mengikuti falsafah itu. Atau, bahkan lebih baik lagi, ‘work hard, pray hard’.
Sebentar lagi bulan puasa. Umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadahnya dan mengurangi aktivitas duniawinya di bulan ini dengan banyak ibadah di masjid (i’tikaf) untuk refleksi dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Saatnya bagi umat Islam untuk sebulan melakukan ‘pray hard’. Banyak pemilik bisnis yang tutup dan eksekutif yang cuti selama bulan Romadhon untuk fokus beribadah. Penghasilan sebelas bulan sudah cukup untuk hidup 12 bulan. Biarlah yang satu bulan digunakan untuk recharge energi, menekuri dan mengevaluasi jalan hidup, dan mendekatkan diri kepada Ilahi.
Namun, kebanyakan kita ternyata tidak bisa menjalankan work hard, play/pray hard ini. Sebagian karena kita tidak memiliki cukup penghasilan, bahkan untuk hidup sederhana sampai akhir bulan. Sebagian besar karena tidak memiliki disiplin untuk menekan keinginan-keinginan kita agar dapat hidup di bawah kemampuan kita. Alih-alih pray hard, di bulan Romadhon bisnis justru lebih digenjot. Bukan masjid yang penuh, tapi justru mal-mal dan pasar yang demikian padat menyemut menjelang lebaran. Sebelas bulan ternyata tidak cukup untuk work hard . Umat Islam tidak pernah merasa cukup materi untuk dapat melakukan pray hard. Atau karena memang mereka tidak pernah work so hard sehingga perlu play/pray hard?
YES…Penghasilan Meninggi …Pengeluaran Lebih Tinggi…Karena gaya hidup MENANJAK TINGGI…! Tahun 2004 - 2005 saya di-promote 2 kali sehingga masuk ke wilayah mid management. Tahun pertengahan tahun 2005 hampir2 saja masuk ke wilayah General Manager dan Direksi tetapi saya lebih memilih pindah kantor waktu itu. Ketika pindah kantor masuk lagi ke wilayah Mid Management.Apa yg terjadi dari rantaian promosi ini ???…Ternyata Saya merasa jadi orang yg menurut hendro tadi…SUKSES…jalan terasa lapang…dan menikmati wilayah baru yg bernama…Kelas Menengah. Setelah 2 tahun berada di wilayah Mid-Class ini akhirnya saya sadar telah kehilangan ideologi revolusioner yg berbasis kelas bawah.Apalagi Ramadhan 1427 ini…tetap saja saya sibuk bekerja…tanpa punya waktu yg cukup utk bertafakkur..??? Artinya sebenarnya saya tetap saja kelas bawah…dengan penghasilan yg agak menengah…atau menengah yg agak ke bawah…Memang susah jadi kelas menengah…Tidak Punya uang terlalu banyak tapi mencoba bergaya ke atas…Anyway…JANGAN PERNAH JADI KELAS MENENGAH…Nanggung Sich…!!!
Comment by Epy — October 20, 2006 @ 9:16 am
Posting yang bagus. Pengeluaran akan mengikuti tren penghasilan. Bulan Puasa seyogyanya menjadi ajang kita untuk bisa lebih mengendalikan hawa nafsu, termasuk nafsu belanja.
Lam kenal, dan Selamat Idul Fitri 1427 H, meski agak telat. Baru masuk ke blog ini, bos…:-)
Comment by Arman — November 10, 2006 @ 4:12 pm
Salam kenal juga buat Arman Saleh dan teman-teman baru yang menyempatkan diri menyambangi blog saya. Selamat Idul Fitri (masih syawal, tho?), mohon maaf lahir batin. Saya juga baru sempat menengok blog kesayangan ini, setelah disibukkan dengan berbagai keperluan.
Comment by pikroh — November 14, 2006 @ 11:51 am