Berpuasa Mengekang Nafsu Belanja
"Expenses rise to meet income", tulis Brian Tracy dalam The 21 Secrets of Self-Made Millionaires. Pengeluaran-pengeluaran kita akan naik mengikuti pendapatan kita. Secara umum, dikenal juga apa yang disebut Hukum Parkinson yang menyatakan bahwa permintaan atas suatu sumber daya akan bertumbuh untuk menyamai tingkat penyediaannya. Dalam contoh yang populer, pekerjaan kita akan terus bertambah sampai waktu kita habis terbagi. Berapa pun waktu yang tersedia, serasa tidak pernah cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan kita. Banyak eksekutif yang stress berat karena tekanan pekerjaan dan tuntutan waktu keluarga yang bersaing merebut waktunya yang hanya 24 jam sehari. Kepadatan lalu lintas kendaraan atau data (bandwith) akan tumbuh terus sampai terjadi kemacetan. Berapa pun bertambah besarnya harddisk kita, data kita akan bertumpuk memenuhinya sampai terasa kurang. (Dulu kapasitas 1 GB sudah luar biasa besar, sekarang 80 GB masih terasa kecil).
Kalau kita tidak memiliki disiplin, kita akan "termakan" oleh Hukum Parkinson. Eksekutif yang hidupnya berimbang adalah mereka yang bisa melakukan manajemen diri agar bisa memilah-milah mana yang penting dan tidak penting dilakukan, mana yang harus dilakukan sendiri dan mana yang harus diserahkan orang lain. Pribadi yang memiliki kondisi keuangan berimbang adalah yang dapat menekan hasrat pengeluarannya agar tidak melebihi pendapatannya.
Salah satu "syetan besar" penggoda iman yang membuat orang lupa diri adalah kartu kredit. Dua orang kawan yang saya kenal sedang main kucing-kucingan dengan debt collector kartu kredit yang mengejar-ngejar seperti hantu di siang bolong. Dua-duanya ibu rumah tangga dengan penghasilan yang mestinya cukup untuk hidup sederhana. Godaan untuk membeli handphone polyphonic, TV layar datar, dan pulang kampung pakai dana tunai kartu kredit membuat mereka lepas kendali. Cicilan dan bunganya yang mencekik leher seperti rentenir (3%-4% per bulan) membuat mereka bergali-lubang tutup-lubang. Bahkan mereka seringkali tidak masuk kantor karena takut diteror debt collector dan kebingungan cari ongkos transport.
Ketika saya ke Hongkong beberapa waktu lalu saya membaca berita koran setempat. Ada bujangan tua yang bunuh diri, loncat dari lantai apartemennya karena sudah kewalahan ditagih debt collector kartu kredit. Dia memiliki beberapa kartu kredit yang cicilannya macet dengan total lebih dari HK$100,000. Ketika polisi membuka paksa apartemennya, ada puluhan barang elektronik bertebaran: TV, handphone, stereo set, alat kesehatan, dll. Banyak di antaranya yang masih terbungkus dalam kardus dan plastik toko, belum dibuka sama sekali! Nafsu belanja yang tidak terkontrol telah membunuhnya.
Beberapa waktu lalu ada wacana bahwa BI akan melakukan kontrol yang lebih ketat dalam penerbitan kartu kredit. Saat ini memang bank-bank sudah sangat jor-joran dalam persaingan bisnis kartu kredit. Betapa tidak, seorang teman yang saya tahu gajinya hanya 1 juta lebih sedikit bisa punya empat kartu dari bank-bank yang berbeda!
Lain kelas menengah, lain kelas bawah. Kemarin malam saya menonton satu berita di TV mengenai seorang kakek tua berumur 60-an yang gantung diri di kamarnya. Dia nekat bunuh diri setelah tahu istrinya menggunakan Bantuan Langsung Tunai yang diterimanya untuk keperluan belanja, bukan untuk mengobati asmanya yang sedang kambuh. Tragis dan memilukan.
Bagaimana melawan hukum Parkinson? Disiplin diri untuk mengekang nafsu. Orang dapat melawan hukum Newton mengenai gravitasi dan bisa terbang sampai ke bulan. Bila melawannya tidak pakai mesin, bisa jadi superman yang dengan entengnya pergi-pulang ke angkasa hanya dengan mengepalkan tangan. Kalau anda bisa melawan hukum Parkinson, anda juga dapat terbang ke level yang lebih tinggi.
Sebentar lagi Romadhon, saatnya ramai-ramai saling mendukung untuk mengekang hawa nafsu. Bila sukses, kita akan terbiasa mengekang diri melawan nafsu makan, minum, sex dan keserakahan. Mestinya, bukan hanya tempat-tempat hiburan yang tutup di bulan puasa, tapi juga mal-mal dan pasar-pasar, agar kita juga dapat menang melawan nafsu belanja dan mengejar materi yang tidak pernah cukup…
met lebaraan..
Comment by aRdho — October 30, 2006 @ 3:04 pm