web page hit counter

a beautiful mind

November 24, 2006

Falsafah Komunikasi Orang Jawa

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 1:19 pm

Jauh sebelum teori-teori komunikasi dikemukakan banyak orang, orang Jawa sudah punya filsafat komunikasi yang cukup baik sebagai pedoman umum, diringkas dalam 3 bait kata-kata yang cekak-aos (padat berisi):

Dupak Bujang

Esem Mentri

Semu Bupati

Berbicara dengan kalangan bawah (bujang) yang berpendidikan rendah, kita harus lugas straight to the point. Bila perlu, kita memerintah mereka dengan men-dupak (menendang). Bahasa-bahasa kiasan atau perintah tidak langsung umumnya tidak akan dipahami. Seorang teman yang membawahi 30-an lebih sopir dan office boy di kantor yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos ternyata lebih disukai anak buahnya dibandingkan manajer sebelumnya yang "serba ngambang" dalam komunikasi.

Berbicara dengan kalangan menengah (mentri), bahasa-bahasa lugas seringkali terasa kurang sopan. Sindiran kecil saja sudah cukup untuk mengingatkan ybs mengenai kesalahan yang terjadi. Dalam melakukan perintah, cara-cara tidak langsung akan lebih disukai untuk menjaga harga diri yang diperintah. Ketika Mbah Kakung saya mengemukakan bahwa cuaca mendung, Mbah Putri segera mafhum apa maksudnya. Dia segera menyambar embernya, keluar mengambil jemuran. Esem (senyum) dapat menyiratkan seribu makna. Senyum dapat berarti gembira, sayang, skeptis, takut, mengejek, atau bahkan marah. Kalangan mentri harus bisa membacanya. (Seperti para menteri di era pak Harto yang harus paham makna dari senyuman the Smiling General itu).

Untuk kalangan yang lebih tinggi (bupati), bahkan semu/pasemon (raut muka) sudah cukup menyiratkan makna. Ketika menyampaikan usulan proyek, misalnya, dari reaksi raut muka atasan bisa diketahui apakah diterima, diragukan atau ditolak. Seperti ahli judi yang jago membaca raut muka lawan (sehingga tahu apakah lawan gembira karena pegang kartu bagus, atau pura-pura gembira karena sebenarnya kartunya jelek), untuk menjadi orang pada level bupati anda juga harus dapat membaca tanda-tanda yang kebanyakan orang tidak memahami. Di tempat bekerja saya, ringkasan laporan kinerja perseroan di seluruh negara Asia biasanya dikirim ke eksekutif level tertentu lewat e-mail tiap tiga bulanan. Kita bisa mafhum, bagian mana dari perusahaan yang sedang bagus, mana yang jelek, walaupun semuanya dibungkus dalam kata-kata berbunga-bunga yang optimistis. Kita harus "read between the lines" untuk bisa menangkap pesan yang tersirat. Ketika satu lini bisnis besar tidak disebut prestasinya, kita mafhum, pasti sedang ada masalah di sana. Ketika satu inisiatif baru ditulis panjang lebar, kita juga mafhum, it’s going to be the next big thing.

Dalam pergaulan sehari-hari, tentu moda komunikasinya bisa beragam, tidak selalu sesuai pakem. Antar bupati pun dapat berkomunikasi dengan cara-cara bujang yang membuat kita terkesiap, seperti presiden Hugo Chavez yang di forum-forum resmi internasional mencaci maki Bush sebagai "setan", "orgil", "pembunuh", bahkan "ass….". Atau, seperti tukang sampah di kompleks saya yang berkomunikasi lewat raut muka, cemberut kalau sedang banyak sampah harus diangkut, senyam-senyum kalau habis dikasih uang rokok…

November 23, 2006

Tentang Kejahatan dan Kebaikan

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 9:51 am

Suka atau tidak, hidup ini seringkali menyodorkan berbagai hal yang jauh dari ideal. Tidak seperti dalam film-film yang jagoannya selalu menang dan penjahatnya mati di akhir cerita, dalam keseharian banyak orang brengsek yang tetap hidup nyaman. Sebaliknya, banyak juga orang baik-baik yang nasibnya tidak kunjung baik. (Si brengsek pembunuh Munir, misalnya, sampai sekarang masih bisa ongkang-ongkang kaki menikmati hidup).

Berbeda dengan di film yang penjahatnya pasti "berantem" dengan jagoan, di keseharian tidak selalu ada yang berani melawan si penjahat. Bahkan, dalam banyak kasus, penjahat itu menguasai kita terus-menerus tanpa dapat dilawan. (Bangsa kita bisa disebut dikuasai para penjahat karena koruptor merajalela tanpa hukuman dan mereka memegang peranan di semua bidang Pemerintahan. Jagoan yang berani melawan mereka banyak yang babak belur dihajar balik)

Tidak seperti dalam film, jagoan dan penjahat dalam dunia nyata juga seringkali sulit dibedakan. Apakah Mr. Bush yang datang ke Bogor adalah jagoan atau penjahat? Bagi Republiken yang masih membelanya, dia adalah "jagoan pembasmi teroris". Namun, bagi sebagian besar umat Islam yang melek politik, dia orang brengsek yang ke(tidak)bijakannya telah mengakibatkan 600 ribu lebih nyawa rakyat Irak melayang. Kombinasi strategi kehumasan yang baik, "lobbying", dan tim hukum yang lihai bisa membuat beberapa penjahat bahkan tercitrakan sebagai "korban kezaliman". Kita dapat dibuat bingung karenanya.

Kejahatan dan kebaikan orang juga seringkali tidak bisa dibaca hitam putih. Jarang ada orang brengsek 100%, dan sebaliknya. Banyak juga yang hidupnya "seimbang", misalnya: naik haji berkali-kali tapi tetap korupsi, "merampok" dari orang lain tapi rajin berderma ke orang miskin, seperti Robin Hood dan Al Capone. Lebih membingungkan lagi sosok seperti George Soros yang sangat rajin menyantuni rakyat miskin di Hungaria dan negara-negara Eropa Timur lainnya, dan mendorong cita-cita luhur "Open Society", namun bikin bangkrut bangsa kita dengan krisis yang memiskinkan puluhan juta rakyat.

Dalam kehidupan sehari-hari, penjahat juga tidak high-profile seperti Mr. Bush. Mereka bisa jadi adalah tetangga kita, atasan kita di kantor dan sanak famili kita. Dia dapat muncul sebagai sosok yang begitu biasa dan tidak berjarak. Adalah tingkah lakunya yang membuat kita mengelus dada dan terkesima. Kok tega ya, dia melakukan hal sejahat itu?

Dalam kisah-kisah di Kitab Suci, drama-drama klasik dan cerita pewayangan, sosok-sosok kegelapan digambarkan tingkah lakunya untuk menjadi cermin bagi kita semua. Dalam kisah Nabi Yusuf, Allah SWT bahkan menceritakan serangkaian keculasan manusia secara rinci. Saudara-saudara Nabi Yusuf yang tega membuangnya karena iri hati dan berbohong kepada ayah, Siti Zulaikha yang tidak tahan terhadap nafsunya dan memfitnah beliau sehingga masuk penjara, dan teman sepenjara Nabi Yusuf yang tidak amanah karena tidak segera menyampaikan kemampuan beliau menafsir mimpi kepada Fir’aun sehingga beliau harus menunggu lebih lama di penjara. Dalam pewayangan, tokoh-tokoh seperti Sengkuni yang licik, Durna yang pilih kasih, dan Burisrawa yang narsistik adalah cerminan karakter buruk sebagian manusia. Mereka ada dalam kisah-kisah. Mereka juga ada pada kehidupan kita kini, saat ini, dan di sini, di sekeliling kita. Mungkin juga kita pernah menjadi tokoh yang memerankannya. Na’udzubillah.

Ada satu buku tidak bermoral yang penasaran saya beli beberapa waktu lalu yang berjudul "What would Machiavelli do?". Diceritakan di situ bahwa untuk menjadi sukses kita harus mengikuti sebaik-baiknya ajaran "Eyang Machiavelli", yaitu: halalkan segala cara!

Diceritakan di situ bagaimana orang-orang macam Martha Stewart, Al Dunlap dan Donald Trump bisa menjadi orang besar karena menerapkan ajaran Machiavelli. Lakukan taktik belah bambu "devide-et-impera", manipulasi orang melalui rasa takut mereka dan bunuh karakter musuh anda agar menang persaingan, demikian nasihatnya. Singkatnya, jadilah brengsek agar sukses. Mr Nice Guy hanya menang dalam film-film. Dalam kesehariannya, mereka menjadi karyawan medioker yang payah macam anda dan saya!

Saya sependapat bahwa banyak orang yang berhasil mendapat kekayaan berlimpah dan sukses dalam karir dengan cara-cara Machiavellian. Saya tahu ada teman yang gemar menghasut, "menggunting kain dalam lipatan" dan pandai menjilat atasan namun karirnya melejit seperti roket. Saya juga pernah punya atasan brengsek yang senang main perempuan, gajinya sebulan tidak habis untuk dimakan setahun, dan outputnya nyaris nol namun dipertahankan karena dia adalah orang dekat pucuk pimpinan. Saya juga tahu ada pimpinan yang brengsek, meminta seluruh perusahaan untuk mengetatkan ikat pinggang, memotong budget sana-sini, menaikkan gaji karyawan ala kadarnya, tapi pengeluaran untuk dirinya sendiri gila-gilaan. Mereka adalah Arya Sengkuni, Pendeta Durna, dan Raja Burisrawa dalam jagad korporat modern.

Dunia memang tidak ideal. Menjadi brengsek dan jahat seringkali diperlukan untuk kaya dan berkuasa. Lebih-lebih bila anda berada dalam lingkungan di mana mereka merajalela. Godaan menjadi brengsek seringkali begitu kuat membuat kita sulit untuk tidak tergoda.

Namun, biarlah kita tidak kaya dan tidak berkuasa, bila syaratnya adalah harus menjadi brengsek. Kita bukan murid Machiavelli. Kita semua ingin menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong (seperti Pramuka), meskipun karenanya cuma jadi begini-begini saja…

November 16, 2006

BIG HAIRY AUDACIOUS GOALS

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 3:16 pm

"Insanity is doing the same thing while expecting to get different results", demikian kata-kata mutiara dari the Alcoholic Anonymous yang sering dikutip orang. Hanya orang gila yang berharap mendapat hasil yang berbeda tapi tetap melakukan hal-hal yang sama. Dalam agama, kita punya petikan ayat yang cukup populer di Al-Qur’an: Innallaha laa yughayiru maa bi qaumin hatta yughayiru maa bi anfusihim. Allah tidak akan mengubah nasib suatu golongan masyarakat kalau mereka tidak mau mengubah diri mereka sendiri (Arra’ad: 13).

Kata-kata mutiara maupun ayat al-Qur’an itu simpel dan sangat mudah dimengerti. Namun, dalam prakteknya sering tidak diterapkan. Saya kerap mendengar teman sesama karyawan yang mengeluh: betapa gaji tidak naik-naik, betapa posisi sudah mentok, betapa Perusahaan dari dulu sampai saat ini tidak peduli. Sebagai teman, saya berempati dengan frustrasi yang dialaminya. Saya juga sering merasa demikian. Namun, logika saya mengatakan ada yang salah dalam dia bereaksi. Kalau merasa stagnan dan Perusahaan sedemikian "kejam", mengapa dia tidak berbuat sesuatu?? Menanggapi keadaan dengan cara yang sama pasti akan mendapatkan hal yang persis sama. Berharap ada perubahan "iklim" Perusahaan sehingga lebih berpihak kepada dia? That’s insane! Hanya orang gila yang selalu menggantungkan diri pada kehendak di luar kendalinya.

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke kantor saya yang lama, sebuah lembaga tinggi negara. Selepas sholat dhuhur di masjid kantor, saya melihat kanan-kiri, barangkali ada kawan lama yang hadir. Pandangan saya terantuk pada wajah yang cukup saya kenal. Dia adalah kolega yang dulu sering jadi teman tidur-tiduran di musholla, setelah diskusi ngalor-ngidul mengenai masalah kantor dan lainnya. Saat itu juga dia sedang tidur-tiduran. Saya mendatangi dan menyalaminya.

"Wah, sudah sukses nih? Kerja di mana sekarang?" , tanyanya dengan muka terkejut. Setelah menjelaskan singkat mengenai "perjalanan karir" saya dari sejak pindah kerja, giliran saya untuk bertanya mengenai "perjalanan karir" dia. Kembali dia mengeluhkan hal-hal yang sama yang saya dengar delapan tahun lalu. Gaji kecil, jabatan mentok, pimpinan "payah". Itulah mengapa dia tidak bersemangat kerja dan suka tidur-tiduran di mesjid. Menunggu nasibnya berubah!

Bagi kita yang mengamati, reaksi dia terhadap nasib hidupnya mungkin menggelikan. Namun, bagi dia, pilihan sikap itu logis sekali. Kenapa tidak kuliah biar karir tidak mentok? Wah, nggak punya uang. Mengapa tidak minta pindah bagian? Wah, sulit adaptasinya. Mengapa tidak ikut kursus-kursus di Perusahaan? Wah, otak sudah sulit diajak yang rumit-rumit. Lagian, nggak ada pengaruhnya. Mengapa tidak mengajukan pensiun saja? Wah, dari mana nyukupin belanja kalau sekarang saja sudah pas-pasan. Jadi? Ya, sudah begini saja… sambil menyelonjorkan kaki bersiap tidur-tiduran lagi. Hopeless….

Itu hanya satu contoh ekstrem. Dalam banyak hal, orang memang sering terjebak dalam kelembaman (inertia) karena berpuas diri dengan apa yang sudah dimiliki. Nasib memang tidak sebagus yang dia inginkan, tapi tidak terlalu parah untuk mendorongnya berubah. Saya sendiri seringkali merasakan itu. Segala sesuatu yang kelihatannya sudah cukup nyaman membuat kita lembam, ogah berubah. Meminjam kata-kata Jim Collins dalam buku "Good to Great", yang menghalangi orang menjadi hebat umumnya adalah karena dia sudah merasa baik. Good is the enemy of great. Karena sudah merasa baik, orang cukup puas diri. Tidak merasa perlu menjadi hebat.

Solusi terhadap rasa puas diri adalah dengan menciptakan sebuah mimpi baru yang besar: BIG HAIRY AUDACIOUS GOAL (BHAG). Suatu mimpi yang membangkitkan gairah, menantang tapi dapat diraih, dan menghasilkan sesuatu yang berharga dalam hidup. Tanpa mimpi baru, orang tidak mau berubah. Sebagaimana perusahaan tanpa visi, hidup tanpa cita-cita juga adalah hidup yang tanpa gairah. Hanya menjalani rutinitas saja.

Teman-teman di bagian sales paling sering dicekoki dengan ceramah-ceramah yang membangkitkan gairah untuk membuat target pribadi dan mencapainya. Para motivator seperti Andri Wongso, James Gwee,Tung Desem, dll bahkan dibayar mahal hanya untuk itu. Stimulasi mental untuk membuat cita-cita yang menggairahkan ini seharusnya bukan monopoli orang sales, dan tidak terbatas pada penjualan atau pencapaian finansial. Kita semua membutuhkannya untuk semua aspek kehidupan.

Kalau anda merasa jenuh, mandeg, atau berpuas diri, maka saatnya membuat sebuah mimpi baru. Saya seringkali takjub dengan efek dari sebuah cita-cita. Ketika berbicara dengan istri mengenai mimpi bersama kami dan bagaimana kami bisa mencapainya, kami berdua tenggelam dalam diskusi yang sentimentil. Ada perdebatan intelektual mengenai banyak hal kecil, namun ketika membicarakan gambar besarnya kami tenggelam dalam keharuan emosional merasakan berat, menantang, dan indahnya cita-cita bila tercapai. Membesarkan anak agar sholeh/ sholehah dan berkembang sepenuh potensinya adalah salah satu contoh mimpi bersama. Kami sering berdebat mengenai detil bagaimana mencapainya dan dalam melakukan keputusan-keputusan, tapi cita-cita BHAG kami mengenai masa depan anak-anak menjadi tali yang erat mengikat kerangka berpikir kami. Juga menjadi penyemangat untuk melakukan aktivitas-aktivitas bersama anak-anak.

Apakah anda sudah memiliki BHAG dalam hidup anda? Wah, perlu itu!

November 14, 2006

5 Lessons from the Constant Gardener

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 11:37 am

Salah satu hobby saya adalah berkebun. Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor atau di akhir pekan, senjata saya adalah gunting, sekop dan sabit. Merumput di pagi hari di tengah embun tanaman dan wangi bunga melati sungguh nikmat sekali. Sambil badan berolah raga, pikiran melayang memikirkan apa saja yang mau dikerjakan hari itu. Mandi pagi pun terasa sangat segar setelah badan dan otak mendapat cukup pemanasan. Secangkir kopi panas seduhan istri tercinta cukup sudah untuk melengkapi kenikmatan hidup di pagi hari.

Banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik dari berkebun. Berikut ada 5 poin yang dapat saya bagi dengan anda semua:

1. Tidak ada tanaman yang sempurna

Halaman rumah kami tidak seberapa luas. Saya dan istri sering berdebat mengenai tanaman apa yang perlu ditanam. Istri saya menyukai tanaman yang dapat dikonsumsi, seperti buah-buahan dan sayuran. Sementara, saya lebih suka tanaman keindahan. Kalau mengikuti saran istri, beringin di depan rumah sudah dicabut dan diganti pohon mangga. Bunga-bunga di belakang rumah diganti pohon katuk, melinjo, lengkeng, jeruk, tomat dan cabai. Wah, seperti di kampung saja! Prinsip saya, buah dan sayuran bisa dibeli, tapi keindahan di halaman rumah tidak ada gantinya.

Umumnya, tanaman memang hanya memiliki satu dari 3 manfaat:

  • menghasilkan keindahan
  • dinikmati buahnya
  • bermanfaat kayu/daunnya

Jarang ada tanaman yang memiliki lebih dari satu manfaat. Tanaman yang indah biasanya tidak berbuah atau berkayu keras. Tanaman yang berbuah atau berkayu keras biasanya tidak indah. Tuhan sudah mengatur perannya masing-masing. Pohon melinjo tidak seindah pohon bugenvil dan pohon mangga daunnya tidak selebat pohon beringin.

Manusia juga seperti tanaman. Ada yang menghasilkan keindahan (muka, suara, gerak tubuh) seperti para bintang film, model dan penyanyi. Ada yang menghasilkan "buah" dari kerja keterampilannya seperti para profesional berbagai bidang. Ada yang hanya dipakai fisiknya saja seperti para atlet dan buruh kasar. Perempuan cantik biasanya tidak menjadi cendekiawan atau berfisik kuat. Profesional umumnya tidak cantik/ganteng atau berfisik kuat. Para atlet dan buruh kasar biasanya tidak ganteng/cantik atau intelek.

Memiliki lebih dari satu "manfaat" adalah pengecualian dan dianggap luar biasa. Agaknya, saat ini hanya Rusia yang memiliki juara dunia tenis yang cantik (Maria Sharapova) dan juara dunia tinju yang doktor/Phd (Vitaly Klitscho). Kombinasi yang jarang. Belum ada atlet yang juara dunia, cantik sekaligus doktor.

Jadi, kalau anda hanya menghasilkan satu manfaat saja dalam hidup, bersyukurlah. Kebanyakan orang seperti anda.

2. Untuk menjadi besar dan bertahan, perlu akar yang kokoh

Pohon beringin depan rumah saya tumbang di hari pertama hujan bulan ini. Banyaknya air yang tertahan di daunnya yang lebat menjadikannya tidak sanggup lagi bertahan dari terpaan angin. Saya memandang dengan sedih ketika pohon kesayangan yang tiap hari dipandang dan dirawat itu tergeletak membujur tak berdaya.

Saya menyesal karena ketika memberi pupuk beberapa minggu sebelumnya, saya membuang akar tunggangnya yang menjalar panjang ke mana-mana. Rupanya, akar itu berfungsi sebagai cengkeraman untuk menjaga pohon tetap berdiri ketika hujan dan angin. Pohon yang lebat juga membutuhkan akar yang lebat dan dalam.

Semakin tinggi posisi kita dan semakin besar tanggung jawab kita, semakin dalam dan luas akar yang kita butuhkan. Dalam organisasi, seringkali orang naik terlalu cepat melebihi kemampuan akarnya untuk menopang. Ketika terjadi pergantian manajemen atau perubahan arus politik kekuasaan yang tidak menguntungkan, dia dapat "tumbang" dengan mudah. Seperti cangkokan atau pohon yang besar dalam pot yang kemudian dipindah ke tanah lapang, ia harus ditopang dengan kayu-kayu. Bagi pemimpin debutan, kayu-kayu itu berupa dukungan moral, politik dan sumber daya oleh para mentor dan sponsornya.

Dalam pendidikan anak, kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai anak bertambah besar tanpa diikuti pertumbuhan "akar" yang baik. Jangan berikan segala sesuatu sebelum dia siap. Oom William Suryajaya memetik pelajaran yang sangat pahit ketika bangunan bisnis yang dibangunnya hancur dalam sekejap karena diberikan ke anaknya sebelum dia siap mengelola. Demikian juga para ABG yang terjerembab dalam salah pergaulan karena menjadi besar tanpa akar akhlak yang kuat. Jadilah besar dengan akar yang kuat.

3. Bila anda seperti rumput, anda harus kuat bertahan hidup

Rumput memiliki risiko hidup yang paling besar. Risiko paling sering adalah rusak karena terinjak-injak. Risiko lainnya adalah kekeringan. Ketika musim kemarau, rumput adalah yang paling dulu kering, di saat yang lainnya masih tetap hijau. Akarnya yang pendek membuatnya tidak memiliki akses ke air. Andalan satu-satunya bagi rumput untuk menghadapi kerasnya tantangan adalah daya survivalnya yang tinggi. Dia tidak mati meskipun telah kering kerontang seolah mati.

Ketika musim hujan, rumput akan kembali hijau. Namun, pada saat yang sama di sekitar tanaman rumput akan muncul berbagai jenis tumbuhan liar yang menyerobot sebagian tempat hidupnya. Bila tidak dibela, rumput kita yang cantik akan terkalahkan oleh tumbuhan liar seperti kerokot, alang-alang, dan pengganggu lainnya. Ternyata di musim hujan ada bahaya bagi rumput yang tidak kalah besar di banding musim kemarau: bahaya persaingan.

Itulah nasib hidup di kalangan bawah, yang rentan terinjak oleh yang kuat dan paling menderita di saat krisis ekonomi. Mereka juga paling mudah terpental dalam persaingan. Tukang bubur ayam di kompleks saya hanya pas-pasan penghasilannya ketika kompleks kami baru dibuka dan orang belum banyak yang tinggal. Begitu sudah ramai dan konsumen banyak mengantri di pagi hari, ada dua tukang bubur ayam lain yang datang mengambil "market share"-nya. Dia kembali pada posisi pas-pasan dengan omzet seperti semula.

Jangan jadi seperti rumput yang gampang terinjak dan penuh persaingan hidup. Namun, bila anda harus demikian, contohlah semangat survival rumput.

4. Ketahui kebutuhannya sebelum merumuskan pemenuhannya

Beberapa tanaman bunga kami terus-menerus meranggas meskipun sudah rajin dipupuk dan disiram. Beberapa bahkan "mati dalam kemakmuran" unsur hara. Ternyata, ketika mereka saya pindahkan ke tempat lain, mereka tumbuh subur dan berbunga lebat. Masalahnya ternyata adalah kekurangan sinar matahari. Dalam kasus lain, ada tanaman yang justru layu karena terlalu banyak sinar matahari.

Seperti juga tanaman, masing-masing individu memiliki kebutuhan dan kecenderungan yang unik. Kalau kita salah memberikan pemenuhan, maka tidak muncul hasil yang diharapkan. Beberapa waktu lalu seorang rekan kerja mengajukan pengunduran diri dari Perusahaan karena merasa kemampuannya tidak bertambah dan kurang ada peluang menambah ilmu. Bagi dia, mengembangkan diri lebih penting daripada kenaikan gaji atau promosi. Di bagian lain Perusahaan, ada rekan lama yang mengundurkan diri karena tawaran gaji yang lebih besar, meskipun dia tahu bahwa untuk jangka panjang mungkin tidak menguntungkannya bagi pengembangan diri. Bagi dia, tambahan uang sekarang lebih dibutuhkan daripada karir jangka panjang.

"Different strokes for different folks", kata Ken Blanchard dalam buku the One Minute Manager. Dalam golf, stik yang berbeda dan kecepatan pukulan berbeda digunakan untuk kondisi permainan yang berbeda. Pendekatan yang berbeda juga perlu dilakukan untuk orang yang berbeda pada situasi yang berbeda.

5. Di balik keindahan dan prestasi, ada kerja keras

Melihat taman yang indah, orang biasanya hanya kagum dan (seringkali) merasa iri ingin memilikinya. Yang seringkali tidak dipahami adalah bahwa butuh ketekunan dan kerja keras untuk memelihara sebuah taman. Kita harus rajin menyiram air, menyiangi tanaman pengganggu, memotong dahan kering, membersihkan daun yang jatuh, memberi pupuk, melakukan rotasi tanaman, membunuh hama (ulat, belalang, semut, dll), dan lainnya.

Di balik organisasi yang rapi, rumah yang tertata, anak-anak yang tumbuh sehat dan sholeh, blog yang bagus dan banyak dikunjungi, ada kerja keras dan ketekunan. Ketika anda melihat penampilan atlet yang hebat di arena, bayangkanlah berapa ribu jam latihan yang telah dijalaninya, Tidak ada yang gratis dalam hidup, kecuali yang diberikan Allah SWT. Anda ingin mendapatkan sesuatu, anda harus siap membayarnya. Semakin besar yang diperoleh, semakin besar harga yang harus dibayar.