web page hit counter

a beautiful mind

November 14, 2006

5 Lessons from the Constant Gardener

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 11:37 am

Salah satu hobby saya adalah berkebun. Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor atau di akhir pekan, senjata saya adalah gunting, sekop dan sabit. Merumput di pagi hari di tengah embun tanaman dan wangi bunga melati sungguh nikmat sekali. Sambil badan berolah raga, pikiran melayang memikirkan apa saja yang mau dikerjakan hari itu. Mandi pagi pun terasa sangat segar setelah badan dan otak mendapat cukup pemanasan. Secangkir kopi panas seduhan istri tercinta cukup sudah untuk melengkapi kenikmatan hidup di pagi hari.

Banyak pelajaran hidup yang dapat dipetik dari berkebun. Berikut ada 5 poin yang dapat saya bagi dengan anda semua:

1. Tidak ada tanaman yang sempurna

Halaman rumah kami tidak seberapa luas. Saya dan istri sering berdebat mengenai tanaman apa yang perlu ditanam. Istri saya menyukai tanaman yang dapat dikonsumsi, seperti buah-buahan dan sayuran. Sementara, saya lebih suka tanaman keindahan. Kalau mengikuti saran istri, beringin di depan rumah sudah dicabut dan diganti pohon mangga. Bunga-bunga di belakang rumah diganti pohon katuk, melinjo, lengkeng, jeruk, tomat dan cabai. Wah, seperti di kampung saja! Prinsip saya, buah dan sayuran bisa dibeli, tapi keindahan di halaman rumah tidak ada gantinya.

Umumnya, tanaman memang hanya memiliki satu dari 3 manfaat:

  • menghasilkan keindahan
  • dinikmati buahnya
  • bermanfaat kayu/daunnya

Jarang ada tanaman yang memiliki lebih dari satu manfaat. Tanaman yang indah biasanya tidak berbuah atau berkayu keras. Tanaman yang berbuah atau berkayu keras biasanya tidak indah. Tuhan sudah mengatur perannya masing-masing. Pohon melinjo tidak seindah pohon bugenvil dan pohon mangga daunnya tidak selebat pohon beringin.

Manusia juga seperti tanaman. Ada yang menghasilkan keindahan (muka, suara, gerak tubuh) seperti para bintang film, model dan penyanyi. Ada yang menghasilkan "buah" dari kerja keterampilannya seperti para profesional berbagai bidang. Ada yang hanya dipakai fisiknya saja seperti para atlet dan buruh kasar. Perempuan cantik biasanya tidak menjadi cendekiawan atau berfisik kuat. Profesional umumnya tidak cantik/ganteng atau berfisik kuat. Para atlet dan buruh kasar biasanya tidak ganteng/cantik atau intelek.

Memiliki lebih dari satu "manfaat" adalah pengecualian dan dianggap luar biasa. Agaknya, saat ini hanya Rusia yang memiliki juara dunia tenis yang cantik (Maria Sharapova) dan juara dunia tinju yang doktor/Phd (Vitaly Klitscho). Kombinasi yang jarang. Belum ada atlet yang juara dunia, cantik sekaligus doktor.

Jadi, kalau anda hanya menghasilkan satu manfaat saja dalam hidup, bersyukurlah. Kebanyakan orang seperti anda.

2. Untuk menjadi besar dan bertahan, perlu akar yang kokoh

Pohon beringin depan rumah saya tumbang di hari pertama hujan bulan ini. Banyaknya air yang tertahan di daunnya yang lebat menjadikannya tidak sanggup lagi bertahan dari terpaan angin. Saya memandang dengan sedih ketika pohon kesayangan yang tiap hari dipandang dan dirawat itu tergeletak membujur tak berdaya.

Saya menyesal karena ketika memberi pupuk beberapa minggu sebelumnya, saya membuang akar tunggangnya yang menjalar panjang ke mana-mana. Rupanya, akar itu berfungsi sebagai cengkeraman untuk menjaga pohon tetap berdiri ketika hujan dan angin. Pohon yang lebat juga membutuhkan akar yang lebat dan dalam.

Semakin tinggi posisi kita dan semakin besar tanggung jawab kita, semakin dalam dan luas akar yang kita butuhkan. Dalam organisasi, seringkali orang naik terlalu cepat melebihi kemampuan akarnya untuk menopang. Ketika terjadi pergantian manajemen atau perubahan arus politik kekuasaan yang tidak menguntungkan, dia dapat "tumbang" dengan mudah. Seperti cangkokan atau pohon yang besar dalam pot yang kemudian dipindah ke tanah lapang, ia harus ditopang dengan kayu-kayu. Bagi pemimpin debutan, kayu-kayu itu berupa dukungan moral, politik dan sumber daya oleh para mentor dan sponsornya.

Dalam pendidikan anak, kita juga harus berhati-hati. Jangan sampai anak bertambah besar tanpa diikuti pertumbuhan "akar" yang baik. Jangan berikan segala sesuatu sebelum dia siap. Oom William Suryajaya memetik pelajaran yang sangat pahit ketika bangunan bisnis yang dibangunnya hancur dalam sekejap karena diberikan ke anaknya sebelum dia siap mengelola. Demikian juga para ABG yang terjerembab dalam salah pergaulan karena menjadi besar tanpa akar akhlak yang kuat. Jadilah besar dengan akar yang kuat.

3. Bila anda seperti rumput, anda harus kuat bertahan hidup

Rumput memiliki risiko hidup yang paling besar. Risiko paling sering adalah rusak karena terinjak-injak. Risiko lainnya adalah kekeringan. Ketika musim kemarau, rumput adalah yang paling dulu kering, di saat yang lainnya masih tetap hijau. Akarnya yang pendek membuatnya tidak memiliki akses ke air. Andalan satu-satunya bagi rumput untuk menghadapi kerasnya tantangan adalah daya survivalnya yang tinggi. Dia tidak mati meskipun telah kering kerontang seolah mati.

Ketika musim hujan, rumput akan kembali hijau. Namun, pada saat yang sama di sekitar tanaman rumput akan muncul berbagai jenis tumbuhan liar yang menyerobot sebagian tempat hidupnya. Bila tidak dibela, rumput kita yang cantik akan terkalahkan oleh tumbuhan liar seperti kerokot, alang-alang, dan pengganggu lainnya. Ternyata di musim hujan ada bahaya bagi rumput yang tidak kalah besar di banding musim kemarau: bahaya persaingan.

Itulah nasib hidup di kalangan bawah, yang rentan terinjak oleh yang kuat dan paling menderita di saat krisis ekonomi. Mereka juga paling mudah terpental dalam persaingan. Tukang bubur ayam di kompleks saya hanya pas-pasan penghasilannya ketika kompleks kami baru dibuka dan orang belum banyak yang tinggal. Begitu sudah ramai dan konsumen banyak mengantri di pagi hari, ada dua tukang bubur ayam lain yang datang mengambil "market share"-nya. Dia kembali pada posisi pas-pasan dengan omzet seperti semula.

Jangan jadi seperti rumput yang gampang terinjak dan penuh persaingan hidup. Namun, bila anda harus demikian, contohlah semangat survival rumput.

4. Ketahui kebutuhannya sebelum merumuskan pemenuhannya

Beberapa tanaman bunga kami terus-menerus meranggas meskipun sudah rajin dipupuk dan disiram. Beberapa bahkan "mati dalam kemakmuran" unsur hara. Ternyata, ketika mereka saya pindahkan ke tempat lain, mereka tumbuh subur dan berbunga lebat. Masalahnya ternyata adalah kekurangan sinar matahari. Dalam kasus lain, ada tanaman yang justru layu karena terlalu banyak sinar matahari.

Seperti juga tanaman, masing-masing individu memiliki kebutuhan dan kecenderungan yang unik. Kalau kita salah memberikan pemenuhan, maka tidak muncul hasil yang diharapkan. Beberapa waktu lalu seorang rekan kerja mengajukan pengunduran diri dari Perusahaan karena merasa kemampuannya tidak bertambah dan kurang ada peluang menambah ilmu. Bagi dia, mengembangkan diri lebih penting daripada kenaikan gaji atau promosi. Di bagian lain Perusahaan, ada rekan lama yang mengundurkan diri karena tawaran gaji yang lebih besar, meskipun dia tahu bahwa untuk jangka panjang mungkin tidak menguntungkannya bagi pengembangan diri. Bagi dia, tambahan uang sekarang lebih dibutuhkan daripada karir jangka panjang.

"Different strokes for different folks", kata Ken Blanchard dalam buku the One Minute Manager. Dalam golf, stik yang berbeda dan kecepatan pukulan berbeda digunakan untuk kondisi permainan yang berbeda. Pendekatan yang berbeda juga perlu dilakukan untuk orang yang berbeda pada situasi yang berbeda.

5. Di balik keindahan dan prestasi, ada kerja keras

Melihat taman yang indah, orang biasanya hanya kagum dan (seringkali) merasa iri ingin memilikinya. Yang seringkali tidak dipahami adalah bahwa butuh ketekunan dan kerja keras untuk memelihara sebuah taman. Kita harus rajin menyiram air, menyiangi tanaman pengganggu, memotong dahan kering, membersihkan daun yang jatuh, memberi pupuk, melakukan rotasi tanaman, membunuh hama (ulat, belalang, semut, dll), dan lainnya.

Di balik organisasi yang rapi, rumah yang tertata, anak-anak yang tumbuh sehat dan sholeh, blog yang bagus dan banyak dikunjungi, ada kerja keras dan ketekunan. Ketika anda melihat penampilan atlet yang hebat di arena, bayangkanlah berapa ribu jam latihan yang telah dijalaninya, Tidak ada yang gratis dalam hidup, kecuali yang diberikan Allah SWT. Anda ingin mendapatkan sesuatu, anda harus siap membayarnya. Semakin besar yang diperoleh, semakin besar harga yang harus dibayar.

3 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/11/14/5-lessons-from-the-constant-gardener/trackback/

  1. blog ini juga bagus, karena saya tahu Mas Hendro ini tekun menulis sejak SMA dulu…

    sesuai kesimpulan no 5. :)

    Comment by khairulu — November 15, 2006 @ 12:41 pm

  2. Ya, Allah…..muliakan hidupnya sekeluarga dan ridhoilah amalan melalui blog ini…..amien….

    Comment by hermawan syahrul — February 15, 2007 @ 4:31 pm

  3. funtastics, dahsyat semoga Allah swt memberi ispirasi terus kepada anda utuk bisa menginspirasi orang lain.

    Comment by joko prayitno — May 19, 2007 @ 10:57 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.