BIG HAIRY AUDACIOUS GOALS
"Insanity is doing the same thing while expecting to get different results", demikian kata-kata mutiara dari the Alcoholic Anonymous yang sering dikutip orang. Hanya orang gila yang berharap mendapat hasil yang berbeda tapi tetap melakukan hal-hal yang sama. Dalam agama, kita punya petikan ayat yang cukup populer di Al-Qur’an: Innallaha laa yughayiru maa bi qaumin hatta yughayiru maa bi anfusihim. Allah tidak akan mengubah nasib suatu golongan masyarakat kalau mereka tidak mau mengubah diri mereka sendiri (Arra’ad: 13).
Kata-kata mutiara maupun ayat al-Qur’an itu simpel dan sangat mudah dimengerti. Namun, dalam prakteknya sering tidak diterapkan. Saya kerap mendengar teman sesama karyawan yang mengeluh: betapa gaji tidak naik-naik, betapa posisi sudah mentok, betapa Perusahaan dari dulu sampai saat ini tidak peduli. Sebagai teman, saya berempati dengan frustrasi yang dialaminya. Saya juga sering merasa demikian. Namun, logika saya mengatakan ada yang salah dalam dia bereaksi. Kalau merasa stagnan dan Perusahaan sedemikian "kejam", mengapa dia tidak berbuat sesuatu?? Menanggapi keadaan dengan cara yang sama pasti akan mendapatkan hal yang persis sama. Berharap ada perubahan "iklim" Perusahaan sehingga lebih berpihak kepada dia? That’s insane! Hanya orang gila yang selalu menggantungkan diri pada kehendak di luar kendalinya.
Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke kantor saya yang lama, sebuah lembaga tinggi negara. Selepas sholat dhuhur di masjid kantor, saya melihat kanan-kiri, barangkali ada kawan lama yang hadir. Pandangan saya terantuk pada wajah yang cukup saya kenal. Dia adalah kolega yang dulu sering jadi teman tidur-tiduran di musholla, setelah diskusi ngalor-ngidul mengenai masalah kantor dan lainnya. Saat itu juga dia sedang tidur-tiduran. Saya mendatangi dan menyalaminya.
"Wah, sudah sukses nih? Kerja di mana sekarang?" , tanyanya dengan muka terkejut. Setelah menjelaskan singkat mengenai "perjalanan karir" saya dari sejak pindah kerja, giliran saya untuk bertanya mengenai "perjalanan karir" dia. Kembali dia mengeluhkan hal-hal yang sama yang saya dengar delapan tahun lalu. Gaji kecil, jabatan mentok, pimpinan "payah". Itulah mengapa dia tidak bersemangat kerja dan suka tidur-tiduran di mesjid. Menunggu nasibnya berubah!
Bagi kita yang mengamati, reaksi dia terhadap nasib hidupnya mungkin menggelikan. Namun, bagi dia, pilihan sikap itu logis sekali. Kenapa tidak kuliah biar karir tidak mentok? Wah, nggak punya uang. Mengapa tidak minta pindah bagian? Wah, sulit adaptasinya. Mengapa tidak ikut kursus-kursus di Perusahaan? Wah, otak sudah sulit diajak yang rumit-rumit. Lagian, nggak ada pengaruhnya. Mengapa tidak mengajukan pensiun saja? Wah, dari mana nyukupin belanja kalau sekarang saja sudah pas-pasan. Jadi? Ya, sudah begini saja… sambil menyelonjorkan kaki bersiap tidur-tiduran lagi. Hopeless….
Itu hanya satu contoh ekstrem. Dalam banyak hal, orang memang sering terjebak dalam kelembaman (inertia) karena berpuas diri dengan apa yang sudah dimiliki. Nasib memang tidak sebagus yang dia inginkan, tapi tidak terlalu parah untuk mendorongnya berubah. Saya sendiri seringkali merasakan itu. Segala sesuatu yang kelihatannya sudah cukup nyaman membuat kita lembam, ogah berubah. Meminjam kata-kata Jim Collins dalam buku "Good to Great", yang menghalangi orang menjadi hebat umumnya adalah karena dia sudah merasa baik. Good is the enemy of great. Karena sudah merasa baik, orang cukup puas diri. Tidak merasa perlu menjadi hebat.
Solusi terhadap rasa puas diri adalah dengan menciptakan sebuah mimpi baru yang besar: BIG HAIRY AUDACIOUS GOAL (BHAG). Suatu mimpi yang membangkitkan gairah, menantang tapi dapat diraih, dan menghasilkan sesuatu yang berharga dalam hidup. Tanpa mimpi baru, orang tidak mau berubah. Sebagaimana perusahaan tanpa visi, hidup tanpa cita-cita juga adalah hidup yang tanpa gairah. Hanya menjalani rutinitas saja.
Teman-teman di bagian sales paling sering dicekoki dengan ceramah-ceramah yang membangkitkan gairah untuk membuat target pribadi dan mencapainya. Para motivator seperti Andri Wongso, James Gwee,Tung Desem, dll bahkan dibayar mahal hanya untuk itu. Stimulasi mental untuk membuat cita-cita yang menggairahkan ini seharusnya bukan monopoli orang sales, dan tidak terbatas pada penjualan atau pencapaian finansial. Kita semua membutuhkannya untuk semua aspek kehidupan.
Kalau anda merasa jenuh, mandeg, atau berpuas diri, maka saatnya membuat sebuah mimpi baru. Saya seringkali takjub dengan efek dari sebuah cita-cita. Ketika berbicara dengan istri mengenai mimpi bersama kami dan bagaimana kami bisa mencapainya, kami berdua tenggelam dalam diskusi yang sentimentil. Ada perdebatan intelektual mengenai banyak hal kecil, namun ketika membicarakan gambar besarnya kami tenggelam dalam keharuan emosional merasakan berat, menantang, dan indahnya cita-cita bila tercapai. Membesarkan anak agar sholeh/ sholehah dan berkembang sepenuh potensinya adalah salah satu contoh mimpi bersama. Kami sering berdebat mengenai detil bagaimana mencapainya dan dalam melakukan keputusan-keputusan, tapi cita-cita BHAG kami mengenai masa depan anak-anak menjadi tali yang erat mengikat kerangka berpikir kami. Juga menjadi penyemangat untuk melakukan aktivitas-aktivitas bersama anak-anak.
Apakah anda sudah memiliki BHAG dalam hidup anda? Wah, perlu itu!
Bener pak Hendro, saya juga suka bosen dengerin orang yang dari tahun ke tahun nyanyiannya sama dan selalu nyalahin orang lain atas nasibnya yang tidak berubah. Welcome back
Comment by imam — November 16, 2006 @ 6:49 pm