Tentang Kejahatan dan Kebaikan
Suka atau tidak, hidup ini seringkali menyodorkan berbagai hal yang jauh dari ideal. Tidak seperti dalam film-film yang jagoannya selalu menang dan penjahatnya mati di akhir cerita, dalam keseharian banyak orang brengsek yang tetap hidup nyaman. Sebaliknya, banyak juga orang baik-baik yang nasibnya tidak kunjung baik. (Si brengsek pembunuh Munir, misalnya, sampai sekarang masih bisa ongkang-ongkang kaki menikmati hidup). Berbeda dengan di film yang penjahatnya pasti "berantem" dengan jagoan, di keseharian tidak selalu ada yang berani melawan si penjahat. Bahkan, dalam banyak kasus, penjahat itu menguasai kita terus-menerus tanpa dapat dilawan. (Bangsa kita bisa disebut dikuasai para penjahat karena koruptor merajalela tanpa hukuman dan mereka memegang peranan di semua bidang Pemerintahan. Jagoan yang berani melawan mereka banyak yang babak belur dihajar balik) Tidak seperti dalam film, jagoan dan penjahat dalam dunia nyata juga seringkali sulit dibedakan. Apakah Mr. Bush yang datang ke Bogor adalah jagoan atau penjahat? Bagi Republiken yang masih membelanya, dia adalah "jagoan pembasmi teroris". Namun, bagi sebagian besar umat Islam yang melek politik, dia orang brengsek yang ke(tidak)bijakannya telah mengakibatkan 600 ribu lebih nyawa rakyat Irak melayang. Kombinasi strategi kehumasan yang baik, "lobbying", dan tim hukum yang lihai bisa membuat beberapa penjahat bahkan tercitrakan sebagai "korban kezaliman". Kita dapat dibuat bingung karenanya. Kejahatan dan kebaikan orang juga seringkali tidak bisa dibaca hitam putih. Jarang ada orang brengsek 100%, dan sebaliknya. Banyak juga yang hidupnya "seimbang", misalnya: naik haji berkali-kali tapi tetap korupsi, "merampok" dari orang lain tapi rajin berderma ke orang miskin, seperti Robin Hood dan Al Capone. Lebih membingungkan lagi sosok seperti George Soros yang sangat rajin menyantuni rakyat miskin di Hungaria dan negara-negara Eropa Timur lainnya, dan mendorong cita-cita luhur "Open Society", namun bikin bangkrut bangsa kita dengan krisis yang memiskinkan puluhan juta rakyat. Dalam kehidupan sehari-hari, penjahat juga tidak high-profile seperti Mr. Bush. Mereka bisa jadi adalah tetangga kita, atasan kita di kantor dan sanak famili kita. Dia dapat muncul sebagai sosok yang begitu biasa dan tidak berjarak. Adalah tingkah lakunya yang membuat kita mengelus dada dan terkesima. Kok tega ya, dia melakukan hal sejahat itu? Dalam kisah-kisah di Kitab Suci, drama-drama klasik dan cerita pewayangan, sosok-sosok kegelapan digambarkan tingkah lakunya untuk menjadi cermin bagi kita semua. Dalam kisah Nabi Yusuf, Allah SWT bahkan menceritakan serangkaian keculasan manusia secara rinci. Saudara-saudara Nabi Yusuf yang tega membuangnya karena iri hati dan berbohong kepada ayah, Siti Zulaikha yang tidak tahan terhadap nafsunya dan memfitnah beliau sehingga masuk penjara, dan teman sepenjara Nabi Yusuf yang tidak amanah karena tidak segera menyampaikan kemampuan beliau menafsir mimpi kepada Fir’aun sehingga beliau harus menunggu lebih lama di penjara. Dalam pewayangan, tokoh-tokoh seperti Sengkuni yang licik, Durna yang pilih kasih, dan Burisrawa yang narsistik adalah cerminan karakter buruk sebagian manusia. Mereka ada dalam kisah-kisah. Mereka juga ada pada kehidupan kita kini, saat ini, dan di sini, di sekeliling kita. Mungkin juga kita pernah menjadi tokoh yang memerankannya. Na’udzubillah. Ada satu buku tidak bermoral yang penasaran saya beli beberapa waktu lalu yang berjudul "What would Machiavelli do?". Diceritakan di situ bahwa untuk menjadi sukses kita harus mengikuti sebaik-baiknya ajaran "Eyang Machiavelli", yaitu: halalkan segala cara! Diceritakan di situ bagaimana orang-orang macam Martha Stewart, Al Dunlap dan Donald Trump bisa menjadi orang besar karena menerapkan ajaran Machiavelli. Lakukan taktik belah bambu "devide-et-impera", manipulasi orang melalui rasa takut mereka dan bunuh karakter musuh anda agar menang persaingan, demikian nasihatnya. Singkatnya, jadilah brengsek agar sukses. Mr Nice Guy hanya menang dalam film-film. Dalam kesehariannya, mereka menjadi karyawan medioker yang payah macam anda dan saya! Saya sependapat bahwa banyak orang yang berhasil mendapat kekayaan berlimpah dan sukses dalam karir dengan cara-cara Machiavellian. Saya tahu ada teman yang gemar menghasut, "menggunting kain dalam lipatan" dan pandai menjilat atasan namun karirnya melejit seperti roket. Saya juga pernah punya atasan brengsek yang senang main perempuan, gajinya sebulan tidak habis untuk dimakan setahun, dan outputnya nyaris nol namun dipertahankan karena dia adalah orang dekat pucuk pimpinan. Saya juga tahu ada pimpinan yang brengsek, meminta seluruh perusahaan untuk mengetatkan ikat pinggang, memotong budget sana-sini, menaikkan gaji karyawan ala kadarnya, tapi pengeluaran untuk dirinya sendiri gila-gilaan. Mereka adalah Arya Sengkuni, Pendeta Durna, dan Raja Burisrawa dalam jagad korporat modern. Dunia memang tidak ideal. Menjadi brengsek dan jahat seringkali diperlukan untuk kaya dan berkuasa. Lebih-lebih bila anda berada dalam lingkungan di mana mereka merajalela. Godaan menjadi brengsek seringkali begitu kuat membuat kita sulit untuk tidak tergoda. Namun, biarlah kita tidak kaya dan tidak berkuasa, bila syaratnya adalah harus menjadi brengsek. Kita bukan murid Machiavelli. Kita semua ingin menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong (seperti Pramuka), meskipun karenanya cuma jadi begini-begini saja…
Memang menyebalkan melihat orang nggak beres tapi banyak duitnya, punya kekuasaan, ngetop pula. Tapi kalau tidak ada orang baik semacam antum dan para pendahulu kita, dunia ini sudah berhenti berputar sejak jaman dahulu kala. Seandainya semua pemimpin seperti Firaun, Hitler atau Idi Amin, umur dunia mungkin tidak akan setua ini. Atau kalaupun masih exist, kita akan masih hidup di jaman jahiliyah itu. Sama dengan Mahatma Gandhi, saya percaya bahwa dalam jangka panjang kebaikan selalu menang dan orang baiklah yang membuat dunia ini selalu ada harapan.
Comment by imam r — December 18, 2006 @ 5:54 pm