web page hit counter

a beautiful mind

November 24, 2006

Falsafah Komunikasi Orang Jawa

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 1:19 pm

Jauh sebelum teori-teori komunikasi dikemukakan banyak orang, orang Jawa sudah punya filsafat komunikasi yang cukup baik sebagai pedoman umum, diringkas dalam 3 bait kata-kata yang cekak-aos (padat berisi):

Dupak Bujang

Esem Mentri

Semu Bupati

Berbicara dengan kalangan bawah (bujang) yang berpendidikan rendah, kita harus lugas straight to the point. Bila perlu, kita memerintah mereka dengan men-dupak (menendang). Bahasa-bahasa kiasan atau perintah tidak langsung umumnya tidak akan dipahami. Seorang teman yang membawahi 30-an lebih sopir dan office boy di kantor yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos ternyata lebih disukai anak buahnya dibandingkan manajer sebelumnya yang "serba ngambang" dalam komunikasi.

Berbicara dengan kalangan menengah (mentri), bahasa-bahasa lugas seringkali terasa kurang sopan. Sindiran kecil saja sudah cukup untuk mengingatkan ybs mengenai kesalahan yang terjadi. Dalam melakukan perintah, cara-cara tidak langsung akan lebih disukai untuk menjaga harga diri yang diperintah. Ketika Mbah Kakung saya mengemukakan bahwa cuaca mendung, Mbah Putri segera mafhum apa maksudnya. Dia segera menyambar embernya, keluar mengambil jemuran. Esem (senyum) dapat menyiratkan seribu makna. Senyum dapat berarti gembira, sayang, skeptis, takut, mengejek, atau bahkan marah. Kalangan mentri harus bisa membacanya. (Seperti para menteri di era pak Harto yang harus paham makna dari senyuman the Smiling General itu).

Untuk kalangan yang lebih tinggi (bupati), bahkan semu/pasemon (raut muka) sudah cukup menyiratkan makna. Ketika menyampaikan usulan proyek, misalnya, dari reaksi raut muka atasan bisa diketahui apakah diterima, diragukan atau ditolak. Seperti ahli judi yang jago membaca raut muka lawan (sehingga tahu apakah lawan gembira karena pegang kartu bagus, atau pura-pura gembira karena sebenarnya kartunya jelek), untuk menjadi orang pada level bupati anda juga harus dapat membaca tanda-tanda yang kebanyakan orang tidak memahami. Di tempat bekerja saya, ringkasan laporan kinerja perseroan di seluruh negara Asia biasanya dikirim ke eksekutif level tertentu lewat e-mail tiap tiga bulanan. Kita bisa mafhum, bagian mana dari perusahaan yang sedang bagus, mana yang jelek, walaupun semuanya dibungkus dalam kata-kata berbunga-bunga yang optimistis. Kita harus "read between the lines" untuk bisa menangkap pesan yang tersirat. Ketika satu lini bisnis besar tidak disebut prestasinya, kita mafhum, pasti sedang ada masalah di sana. Ketika satu inisiatif baru ditulis panjang lebar, kita juga mafhum, it’s going to be the next big thing.

Dalam pergaulan sehari-hari, tentu moda komunikasinya bisa beragam, tidak selalu sesuai pakem. Antar bupati pun dapat berkomunikasi dengan cara-cara bujang yang membuat kita terkesiap, seperti presiden Hugo Chavez yang di forum-forum resmi internasional mencaci maki Bush sebagai "setan", "orgil", "pembunuh", bahkan "ass….". Atau, seperti tukang sampah di kompleks saya yang berkomunikasi lewat raut muka, cemberut kalau sedang banyak sampah harus diangkut, senyam-senyum kalau habis dikasih uang rokok…

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2006/11/24/falsafah-komunikasi-orang-jawa/trackback/

  1. wah, aku baru tahu ada falsafah orang jawa berkaitan dengan komunikasi

    Comment by Anggara — January 22, 2007 @ 2:52 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.