web page hit counter

a beautiful mind

February 24, 2007

Belenggu yang Mencandu

Filed under: self- help, wawasan - pikroh @ 12:40 pm

Pada waktu kecil, seperti anak kampung lainnya, saya suka memelihara burung. Emprit, peking kaji (burung peking yang kepalanya berkopiah hitam mirip pak haji) dan manyar adalah burung-burung yang biasa didapat. Mereka suka bersarang di pohon pisang kepok atau pohon kelapa. 

Burung harus ditangkap ketika masih kecil agar dapat hidup, biasanya yang bulunya masih seperti kapas dan makannya harus diloloh (disuap). Bila kita menangkap burung yang sudah bisa terbang, kebanyakan dalam hitungan hari dia akan mati karena stress. Dia yang biasa hidup bebas terbang kemana pun tidak akan tahan terkungkung di balik sangkar yang sempit. Dia akan meronta-ronta, berusaha lari dari sangkar. Bahkan seringkali dengan keras kepala menabrak-nabrak sangkar sampai terluka. Dia juga akan menolak makanan apa pun yang diberikan. Baginya, lebih baik mati daripada hidup tanpa kemerdekaan. ”Merdeka atau mati, bung!”

(more…)

February 16, 2007

Temukan ceruk rejekimu

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 6:35 pm

Beberapa waktu lalu di tengah meeting di kantor, saya ditelepon Dian Sastro. Ya, Dian Sastrowardoyo yang cantik itu. Lha, Tumben?

“Mas Hendro, saya Dian Sastro dari Who Wants to be a Millionaire. Teman anda, Irwansyah saat ini sedang memerlukan bantuan anda. Anda punya waktu 1 menit untuk menjawab pertanyaan….”, demikian suara renyahnya dari ujung telepon. Ya, meskipun hanya lewat telepon, ternyata tegang juga menjawabnya. Knowing that there would be millions of people out there listening to my voice. And, I never feel comfortable being under the limelight.

Bahkan hanya untuk menjawab “dari negara manakah Kim Il Sung berasal?”, saya sampai harus berpikir keras hingga waktu hampir habis. Under pressure, my brain was suddenly malfunctioning. Memang banyak teman di kantor yang sedang getol mengincar peluang tampil di kuis itu. Beberapa di antaranya berhasil lolos ke studio, meski hanya satu yang duduk di “kursi panas”. Mungkin waktunya tepat, karena sudah sedemikian lamanya kuis itu ditayangkan sehingga sudah tidak terlalu banyak lagi yang mencoba. Persaingan untuk lolos ke studio sudah tidak seberat di awal-awal dulu. Meskipun dipermak lagi dengan hadiah yang lebih besar dan dengan penampilan Dian Sastro, masyarakat kelihatannya sudah jenuh dengan acara itu. Teman saya Irwansyah akhirnya mendapat hadiah 20 juta. Jumlah yang lumayan besar untuk usaha yang sebenarnya tidak terlalu berat. Jauh lebih besar dibandingkan hasil keringat setahun menurut UMR.

Memang, kalau kita pandai melihat peluang, kuis-kuis dan semacamnya bisa menjadi easy money yang menambah pundi-pundi kekayaan kita. Dulu waktu sekolah SMA di Yogya, ada teman yang sering mengakali kuis-kuis radio. Umumnya pertanyaannya seputar nama lagu dan penyanyinya, yang sangat mudah dijawab. Siapapun punya peluang menang asal mau mengirimkan jawaban lewat kartu pos. Yang diperlukan hanya keberuntungan agar kartu posnya terpilih dari sekian ratus atau ribu pengirim. Teman saya itu mengakali dengan mengirim puluhan kartu pos menggunakan nama-nama teman satu sekolah yang dikenalnya. Beberapa kali dia berhasil mendapat hadiah, sebelum akhirnya triknya ketahuan oleh pengasuh radio.

Kisah lain adalah teman saya sekantor yang mendapat rejeki tambahan dari permainan ketangkasan yang marak di mall-mall. Sewaktu masih bujang, teman yang memang senang keluyuran itu dapat menghabiskan waktunya berjam-jam bermain ketangkasan. Karena fokus pada satu-dua permainan sampai betul-betul menguasainya, dia sering mendapatkan jackpot tiket beratus-ratus lembar yang bila dikumpulkan dapat ditukar dengan berbagai hadiah yang nilainya ratusan ribu rupiah. Dia bisa punya berbagai perangkat elektronik dari hasil mengakali permainan itu.

What’s the point?

Kejadian-kejadian seperti di atas menunjukkan bahwa bila kita jeli melihat peluang, mempelajari celah-celahnya dan tekun berusaha, kita bisa mendapatkan keuntungan abnormal yang tidak diperoleh orang kebanyakan. Saya kira, hal itu juga berlaku pada banyak hal dalam kehidupan kita. Orang-orang yang sukses secara finansial atau pekerjaan adalah orang-orang yang pintar melihat peluang dan memanfaatkannya secara optimal. Prof William Danko dan Thomas Stanley, penulis buku the millionaire next door dan the millionaire’s mind mengatakan bahwa orang-orang kaya yang ditelitinya kebanyakan adalah mereka yang pandai melihat peluang yang tidak dilihat banyak orang dan rajin untuk mengolahnya. Mereka memilih medan yang miskin persaingan dan berusaha menjadi sangat bagus dalam menggarap ceruk itu. Mereka tidak terjebak dalam medan persaingan yang terlalu umum di mana kemenangan sulit didapat, meskipun dengan kerja keras dan kemampuan baik.

Demikian juga dalam berkarir. Prof John Kotter dalam buku Power and Influence mengatakan bahwa para MBA Harvard yang sukses dalam karirnya memiliki pola tertentu yang memungkinkan mereka menapaki jenjang profesionalnya dengan baik. Antara lain adalah bagaimana menemukan tantangan yang tepat, membangun suatu reputasi keberhasilan (dia sebut sebagai “success syndrome”) dan memanfaatkan apa yang sudah didapat untuk keberhasilan selanjutnya. Dalam banyak kasus, mereka yang berhasil adalah yang pada akhirnya mendirikan atau pindah ke perusahaan kecil untuk menggarap ceruk yang mereka kuasai dengan baik. Mereka tidak bekerja hanya semata-mata mengandalkan kecakapan, tapi juga memiliki strategi dan trik-trik yang cerdas.

Tengoklah sekeliling kita. Amati apa yang terjadi, bagaimana orang-orang mengolah peluang. Juga amati apakah ada peluang-peluang yang tidak dilihat orang atau direspon secara salah. Seperti Bill Gates yang dari garasinya mengolah peluang sistem operasi MS DOS yang tidak dilihat IBM, anda dapat menemukan banyak tambang emas yang terpendam. Mereka menunggu kita untuk mengambilnya.

February 9, 2007

Cukai Banjir

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 5:16 pm

Beberapa hari lalu, Menteri Kehutanan MS Kaban berteriak menyerukan agar izin pendirian bangunan vila-vila di Puncak diperiksa lagi. Teriakan yang klise dan menjadi basa-basi yang sama sekali tidak menarik lagi. Hanya untuk menghibur kita bahwa setidaknya Pemerintah menyadari apa yang seharusnya sudah dilakukan sejak lama.

Nasib para korban banjir di Jakarta memang mengenaskan. Ratusan ribu keluarga terendam rumahnya. Beberapa ribu di antaranya habis harta bendanya karena rumahnya terendam sampai ke atap. Beribu-ribu mengungsi di posko-posko, kelaparan dan kedinginan. Puluhan orang bahkan harus kehilangan nyawa satu-satunya akibat banjir. Kerusakan harta benda dan hilangnya produktivitas akibat banjir mencapai triliunan rupiah.

Perasaan sedih, geram dan tak berdaya berkecamuk menjadi satu. Mengapa ini semua berulang terjadi? Tahun 1996 banjir. Tahun 2002 banjir, lebih parah. Tahun 2007, banjir sangat parah. Apakah tahun 2012 Jakarta akan menjadi waterworld seperti dalam film Kevin Costner? Dalam kurun 11 tahun ternyata tidak ada perubahan berarti dalam pencegahan dan pengelolaan banjir. Bagaimana hendak berharap 11 tahun ke depan akan ada perubahan??

Memandang Jakarta yang terendam, yang terbayang di benak adalah vila-vila yang sedemikian jumawa berdiri di Puncak. Teganya mereka melakukan ini? Teganya mereka, hanya sekedar untuk bersenang-senang sehari-dua hari di sana, mengorbankan orang lain dengan banjir yang sedemikian dahsyat. Akar-akar pohon bagaikan spons raksasa yang mampu menampung dan secara perlahan-lahan melepaskan air. Menebang jutaan pohon dan menggantinya dengan rumah-rumah berarti melepaskan bermiliar-miliar kubik air yang seharusnya dapat ditahan agar tidak menjadi banjir.

Yang terbayang kemudian adalah wajah korup aparat pemerintah yang sedemikian mudah memberikan izin mendirikan bangunan, seenaknya mengubah RUTRK (site plan) dan masa bodoh membiarkan semuanya terjadi.

Di Depok, konon dulu di zaman Belanda ada site plan yang merencanakan daerah aliran sungai ciliwung sebelah timur Margonda sebagai bendungan. Topografinya sangat ideal karena berbentuk mangkok. Letaknya juga ideal karena masih cukup jauh dari Jakarta. Bila ada bendungan di situ, setidaknya arus air dari Bogor bisa dibendung sementara tanpa menimbulkan ekses banjir di sekitarnya. Bendungan Katulampa, Bogor yang menampung air di hulu mendapatkan pasangannya bendungan Depok di hilir. Pintu Air di Setiabudi Jakarta pun akan sangat tertolong, karena tidak harus selalu kewalahan menahan air bah. Namun, apa yang terjadi sekarang? Daerah itu menjadi pemukiman mewah yang sangat luas dengan rumah-rumahnya yang megah berdiri dengan pongah: Perumahan Pesona Depok. Entah sadar atau tidak para penghuni rumah di situ bahwa mereka telah berkontribusi terhadap parahnya banjir yang terjadi.

Dalam teori ekonomi publik dikenal yang namanya eksternalitas, yaitu dampak positif/negatif yang dirasakan masyarakat lain dari suatu konsumsi/produksi seseorang. Misalnya, seseorang yang mengkonsumsi rokok, orang yang berdiri di sekitarnya mendapatkan eksternalitas berupa asap rokok. Seseorang yang mengemudikan kendaraan, orang lain mendapatkan eksternalitas berupa kebisingan dan asap knalpot. Seseorang yang mengkonsumsi alkohol bisa membahayakan orang lain, lebih-lebih bila mengemudi kendaraan. Sebaliknya, seseorang yang memakai parfum, orang lain mendapat eksternalitas berupa harumnya bau di ruangan. Seseorang memutar musik dangdut keras-keras, orang sekitarnya bisa ikut bergoyang keasyikan atau malah–terutama yang sakit gigi– merasa sangat terganggu.

Tugas pemerintah dan masyarakat adalah menekan eksternalitas negatif dan menaikkan yang positif. Rokok diberi cukai tembakau. Kendaraan tua dikenai pajak karbon (carbon tax). Reklame yang mengganggu pemandangan dikenai pajak reklame. Rekaman musik dikenai pajak tambahan.

Terhadap para pemilik vila dan rumah-rumah yang mengakibatkan banjir, baik di Puncak, sepanjang daerah aliran sungai, maupun di bekas-bekas situ penampung air seharusnya juga dikenai pajak untuk eksternalitas yang ditimbulkannya. Tidak usahlah mereka dicek lagi izin pendiriannya– yang sekarang ini masih gampang didapat di pasar gelap perizinan. Terapkan saja pajak tambahan kepada mereka. Selain PBB yang berdasar nilai jual objek pajak, perlu ditambahkan ”cukai banjir”.

Banjir yang mereka timbulkan sebagai biaya masyarakat jauh lebih besar dibandingkan kerusakan yang diderita perokok pasif. Jadi, seharusnya kontribusi mereka lebih besar dibandingkan cukai rokok yang tiap tahun menyumbang triliunan rupiah ke APBN. Hasil dari cukai banjir itu bisa untuk membangun kanal-kanal banjir, meningkatkan kualitas jaringan drainase Jakarta yang primitif dan menghijaukan kembali kawasan pegunungan di Bogor-Cianjur-Sukabumi.

Bagaimana, setuju?

February 3, 2007

Sedekah Ilmu dan Pengalaman

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 10:46 am

Memang mudah membuat blog. Anda tinggal mendaftar pada sekian banyak layanan blog yang tersedia. Dalam hitungan menit, anda sudah memiliki website sendiri. It’s a miracle! Dalam sekejap dan tanpa uang sepeserpun anda bisa menulis apa pun tentang apa pun tanpa ada yang mengedit atau mencela dan dapat dilihat milyaran orang di seluruh dunia. Blog memang ajaib.

Tapi… satu bulan pertama mungkin anda masih excited. Bulan kedua, sudah mulai agak boring. Bulan ketiga dan seterusnya, menulis di blog seperti kewajiban. Mirip seperti pengantin baru yang setelah sekian tahun menganggap kemesraan sebagai rutinitas keseharian yang membosankan.

Lewat tiga bulan sudah produktivitas ngeblog saya nyaris nol. Hubungan saya dengan blog memang tidak semesra dulu lagi. Kalau awalnya hampir setiap hari ditengok dan diperbarui, sekarang bahkan bisa berminggu-minggu tidak ditengok. Kasihan mereka yang terlanjur berharap. Tiap kali menengok, tidak ada yang baru.

Saya harus kembali mengklarifikasi diri sendiri. Mengapa saya membuat blog? Buat apa? Apa yang didapat dari rutinitas menghabiskan waktu berjam-jam di komputer itu? Apa ruginya bila “putus hubungan” dengan dia?

Motivasi akan mendorong perbuatan. Tanpa motivasi yang jelas, sulit untuk mempertahankan suatu kegiatan. Perjelas dulu motivasinya, baru akan muncul semangat untuk melakukannya.

Apa motivasinya?

Beberapa kali saya mengikuti acara ustadz Yusuf Mansyur yang sedang ngetop dengan anjurannya untuk bersedekah itu. Apa pun masalah kita, seruwet apa pun problem yang dihadapi, akan selesai dengan jalan bersedekah. Ya, semudah itu. (dan sesulit itu, karena kebanyakan kita ternyata sangat pelit untuk memberi). Intinya, dengan memberi maka kita akan mendapat. Bahkan berkali-kali lipat.

Itu berlaku untuk uang. Itu juga berlaku untuk ilmu.

Saya tidak punya banyak uang, tapi mungkin punya sedikit ilmu dan waktu. Mengapa tidak diinfakkan saja ilmu saya? Toh saya tidak akan kehilangan sepeserpun ilmu saya? Bahkan akan bertambah dengan kelipatan yang tak terbayangkan.

Itulah motif semula saya membuat blog ini. Untuk sharing pengalaman hidup dan sedikit ilmu yang saya punya. Saya ikhlas, meski saya yakin bahwa entah bagaimana saya akan mendapatkan manfaat balik dari kegiatan ini. Beberapa hari lalu saya kembali diingatkan mengenai hal ini. Bukan oleh ustadz Yusuf Mansyur, tapi oleh “ustadz” Tony Robbins. Ketika saya putar audibooknya yang berjudul How to Condition Yourself for Wealth, saya takjub dengan kesimpulan Tony di penghujung “khotbahnya” yang sangat mirip dengan petuah ustadz Yusuf Mansyur:

“Receiving is evidence you’ve given consistently.”

Dia menganjurkan untuk banyak memberi, agar kita merasa bersyukur, feel good, dan agar kita mendapat lebih banyak lagi. Semakin banyak yang kita beri, semakin banyak yang kita dapat. Itulah hukum alam yang tidak terbantahkan.

Mendengar petuah itu, saya jadi malu. Ingat bahwa sudah tiga bulan saya tidak memberi. Padahal tidak ada yang perlu dikeluarkan selain waktu yang sebentar dan sedikit memutar kembali apa yang ada di isi kepala. Saya sudah kembali bakhil (pelit) dengan waktu dan ilmu.

Mudah-mudahan, saya akan lebih rajin lagi ke depan dalam bersedekah pengalaman dan ilmu dengan anda semua. Dan, tentu saja, kalau bisa juga mendapatkan tambahan ilmu dan pengalaman dari anda semua. Bukankah tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah?