Memang mudah membuat blog. Anda tinggal mendaftar pada sekian banyak layanan blog yang tersedia. Dalam hitungan menit, anda sudah memiliki website sendiri. It’s a miracle! Dalam sekejap dan tanpa uang sepeserpun anda bisa menulis apa pun tentang apa pun tanpa ada yang mengedit atau mencela dan dapat dilihat milyaran orang di seluruh dunia. Blog memang ajaib.
Tapi… satu bulan pertama mungkin anda masih excited. Bulan kedua, sudah mulai agak boring. Bulan ketiga dan seterusnya, menulis di blog seperti kewajiban. Mirip seperti pengantin baru yang setelah sekian tahun menganggap kemesraan sebagai rutinitas keseharian yang membosankan.
Lewat tiga bulan sudah produktivitas ngeblog saya nyaris nol. Hubungan saya dengan blog memang tidak semesra dulu lagi. Kalau awalnya hampir setiap hari ditengok dan diperbarui, sekarang bahkan bisa berminggu-minggu tidak ditengok. Kasihan mereka yang terlanjur berharap. Tiap kali menengok, tidak ada yang baru.
Saya harus kembali mengklarifikasi diri sendiri. Mengapa saya membuat blog? Buat apa? Apa yang didapat dari rutinitas menghabiskan waktu berjam-jam di komputer itu? Apa ruginya bila “putus hubungan” dengan dia?
Motivasi akan mendorong perbuatan. Tanpa motivasi yang jelas, sulit untuk mempertahankan suatu kegiatan. Perjelas dulu motivasinya, baru akan muncul semangat untuk melakukannya.
Apa motivasinya?
Beberapa kali saya mengikuti acara ustadz Yusuf Mansyur yang sedang ngetop dengan anjurannya untuk bersedekah itu. Apa pun masalah kita, seruwet apa pun problem yang dihadapi, akan selesai dengan jalan bersedekah. Ya, semudah itu. (dan sesulit itu, karena kebanyakan kita ternyata sangat pelit untuk memberi). Intinya, dengan memberi maka kita akan mendapat. Bahkan berkali-kali lipat.
Itu berlaku untuk uang. Itu juga berlaku untuk ilmu.
Saya tidak punya banyak uang, tapi mungkin punya sedikit ilmu dan waktu. Mengapa tidak diinfakkan saja ilmu saya? Toh saya tidak akan kehilangan sepeserpun ilmu saya? Bahkan akan bertambah dengan kelipatan yang tak terbayangkan.
Itulah motif semula saya membuat blog ini. Untuk sharing pengalaman hidup dan sedikit ilmu yang saya punya. Saya ikhlas, meski saya yakin bahwa entah bagaimana saya akan mendapatkan manfaat balik dari kegiatan ini. Beberapa hari lalu saya kembali diingatkan mengenai hal ini. Bukan oleh ustadz Yusuf Mansyur, tapi oleh “ustadz” Tony Robbins. Ketika saya putar audibooknya yang berjudul How to Condition Yourself for Wealth, saya takjub dengan kesimpulan Tony di penghujung “khotbahnya” yang sangat mirip dengan petuah ustadz Yusuf Mansyur:
“Receiving is evidence you’ve given consistently.”
Dia menganjurkan untuk banyak memberi, agar kita merasa bersyukur, feel good, dan agar kita mendapat lebih banyak lagi. Semakin banyak yang kita beri, semakin banyak yang kita dapat. Itulah hukum alam yang tidak terbantahkan.
Mendengar petuah itu, saya jadi malu. Ingat bahwa sudah tiga bulan saya tidak memberi. Padahal tidak ada yang perlu dikeluarkan selain waktu yang sebentar dan sedikit memutar kembali apa yang ada di isi kepala. Saya sudah kembali bakhil (pelit) dengan waktu dan ilmu.
Mudah-mudahan, saya akan lebih rajin lagi ke depan dalam bersedekah pengalaman dan ilmu dengan anda semua. Dan, tentu saja, kalau bisa juga mendapatkan tambahan ilmu dan pengalaman dari anda semua. Bukankah tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah?