Belenggu yang Mencandu
Pada waktu kecil, seperti anak kampung lainnya, saya suka memelihara burung. Emprit, peking kaji (burung peking yang kepalanya berkopiah hitam mirip pak haji) dan manyar adalah burung-burung yang biasa didapat. Mereka suka bersarang di pohon pisang kepok atau pohon kelapa.
Burung harus ditangkap ketika masih kecil agar dapat hidup, biasanya yang bulunya masih seperti kapas dan makannya harus diloloh (disuap). Bila kita menangkap burung yang sudah bisa terbang, kebanyakan dalam hitungan hari dia akan mati karena stress. Dia yang biasa hidup bebas terbang kemana pun tidak akan tahan terkungkung di balik sangkar yang sempit. Dia akan meronta-ronta, berusaha lari dari sangkar. Bahkan seringkali dengan keras kepala menabrak-nabrak sangkar sampai terluka. Dia juga akan menolak makanan apa pun yang diberikan. Baginya, lebih baik mati daripada hidup tanpa kemerdekaan. ”Merdeka atau mati, bung!”
Saya sangat kagum dengan burung yang memegang teguh prinsip itu. Jiwanya tidak kalah tangguh dibandingkan jiwa para pahlawan bangsa kita yang rela melepaskan nyawanya daripada harus hidup terhina dijajah Belanda. Sang burung layak dikuburkan dengan upacara kemiliteran, lengkap dengan salvo dan alunan korps musiknya yang melantunkan hymne agung dan khidmat.
Namun, burung yang dari kecil dirawat di sangkar tidak akan memberontak seperti itu. Mereka akan nyaman-nyaman saja di sangkar. Bahkan, mereka seperti anggota keluarga yang dengan manja menunggu diberi makanan dan menyambut gembira bila diajak berkomunikasi. Pagi-pagi mereka akan bernyanyi riang, tidak kalah keras dengan burung-burung merdeka di atas pepohonan. Bagi mereka, sangkar sepertinya bukanlah suatu penjara yang membatasi kemerdekaan. Sebatas ingatan mereka, hidup memang sudah begitu adanya.
Suatu hari, emprit piaraan saya terbang dari sangkar. Mungkin lupa ditutup sehingga pintu sangkarnya terbuka. Dia terlepas dan terbang bebas entah kemana. Namun, ”goblog”nya si emprit, sore hari menjelang maghrib saya mendengar rintihan suaranya di pohon nangka samping rumah. Barangkali setelah seharian terbang mencari makan, dia tidak berhasil mendapatkan apa pun. Dia mungkin juga tidak tahu hendak di mana menghabiskan malamnya. Lapar, bingung dan takut, dia memutuskan kembali ke sangkarnya.
Manusia ternyata juga tidak beda dengan burung. Manusia yang semenjak kecil atau setidaknya dalam waktu lama dikondisikan tidak bebas, lama-lama merasa nyaman dengan kerangkengnya. Dulu paska revolusi kemerdekaan tahun 50-an, banyak kakek- nenek kita yang merindukan untuk kembali ke ”jaman normal” di bawah penjajahan Belanda. Kemerdekaan ternyata tidak enak karena banyak hal yang harus diurus sendiri. Ketidaktentuan masa depan juga membuat hidup kurang nyaman.
Para narapidana yang mendekati masa bebasnya juga banyak yang mengalami gejala stress seperti susah tidur, sakit dan tidak ada nafsu makan. Mereka bingung, bagaimana hendak hidup dalam kebebasan. Banyak yang bahkan tidak tahan dengan kehidupan di luar penjara sehingga akhirnya mencari cara agar dapat kembali dipenjara. Di sana mereka mendapatkan keteraturan hidup karena ada yang memerintahkan apa yang harus dilakukan setiap hari dan ada jaminan dapat makan. Penjara ternyata lebih nyaman daripada dunia bebas. Tak heran, banyak napi yang langganan keluar masuk penjara.
Sewaktu masih menjadi pegawai negeri dulu, ada beberapa kawan sekantor yang meninggal tidak lama setelah pensiun (Allahumaghfilahum warhamhum wa afihi wa’fu anhum, Ya Allah berikanlah ampunan dan kasih sayangmu kepada mereka). Mereka mungkin mengalami banyak tekanan kejiwaan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hidup mereka setelah bebas: tidak ada lagi yang mewajibkan bangun pagi, menentukan harus pakai baju apa hari itu, membunyikan pengumuman untuk apel upacara dan memberi beban pekerjaan yang jelas setiap hari. Kebiasaan mendapat perintah dan dikekang aturan dari pihak luar ternyata dapat menjadi candu yang kuat.
Bahkan, sebelum pensiun banyak diantara mereka yang sudah mengalami stress membayangkan bagaimana harus menjalani hidup di masa pensiun. Masyarakat sering memelesetkan istilah periode 1 tahun sebelum pensiun yang disebut MPP (Masa Persiapan Pensiun) dengan MPP = ”Mati Pelan-Pelan”. Di saat MPP, banyak pegawai yang sudah sakit-sakitan.
Padahal, menjadi pegawai sungguh tidak bebas. Tiap hari harus berangkat dari rumah dengan pakaian yang jenisnya sudah ditentukan. Setiap hari kecuali Jumat, harus pakai baju lengan panjang dengan warna kalau tidak putih, hijau, biru, atau krem. Warna gelap atau ”ngejreng” tidak dianjurkan. Apalagi yang berpola kotak-kotak atau kembang-kembang. Sepatu harus kulit, kalau tidak hitam ya coklat. Selama di kantor tidak boleh banyak omong, apalagi ngerumpi (termasuk ngeblog!). Kalau keluar kantor dalam waktu lama, harus ijin. Pulang juga sebaiknya jangan ”teng-go”, habis jam lima langsung berkelebat pergi. Dengan menjual kebebasan itu, kita mendapat sejumlah uang. Syarat-syarat ”penyerahan kedaulatan” itu dibuat demikian rinci dalam peraturan perusahaan, yang kalau dilanggar bisa dianggap melanggar aturan. (Dan perusahaan berhak memberi teguran atau bahkan meminta anda keluar).
Saya sedang membayangkan bagaimana bila saya mendapatkan kembali kebebasan saya. Atau, lebih buruk, perusahaan kembali menyerahkan kedaulatan diri saya tanpa diminta. "Hendro, kamu dipecat! "
Apa yang akan saya lakukan?
Mungkin saya akan seperti burung emprit yang goblok itu… kembali mencari sangkar lain yang nyaman…! Ternyata, saya tidak lebih pintar dari makhluk kecil dengan otak sebesar kelereng itu.
Wah udah lama saya gak liat blok Om Hendro, ternyata udah nambah beberapa. Orang jawa bilang sawang sinawang, betul nggak pak? Belum tentu jadi orang bebas (bebas apanya? nggak ada orang yang bener2 bebas, cuma beda yang bayar aja)lebih enak daripada digaji teratur dan jumlahnya pasti. Jangan-jangan cuma penyakit mendekati umur 40an aja. He he he …..
Comment by imam r — February 27, 2007 @ 8:16 pm
Itulah kehidupan terlalu bebas juga nggak bagus… terlalu di kekang juga berbahaya alias bisa mematikan kreatifitas.
Satu hal yang bisa kita petik adalah pada saat kita berada dalam kondisi salah satu tersebut kita harus mengimbangi dengan kondisi sebaliknya saya kira itu lebih arif…
Comment by sidik suparno — November 9, 2007 @ 4:52 pm
Sebagian besar dari kita sudah terdidik untuk mengikuti pola “mencari aman” dengan menngantungkan nasib kepada orang lain.
Pola ini secara tidak sadar telah dituntunkan oleh lingkungan kita (masyarakat, orang tua, teman, guru, media, dll). Kita tidak pernah tahu cara lain yang lebih efektif untuk menghasilkan uang selain menjadi “orang gajian”, karena menurut mereka jadi “pegawai” itu enak, terhormat, dan ada kepastian penghasilan. Untuk menjadi “bebas” kita perlu memperluas batas-batas cakrawala pemikiran kita bahwa ada begitu banyak kesempatan yang tersedia di luar sana. Selain itu diperlukan juga keberanian untuk mengambil sikap berbeda dengan kebanyakan orang (dan ini yang paling sulit).
++Betul, mas. Memang kita banyak dipola oleh lingkungan, sehingga kadang menjadi besar dan tua “tanpa sadar”. Kita menyerahkan diri untuk dicetak sesuai dengan keinginan orang lain (termasuk orang tua, teman, guru, dll). Dampaknya, ketika harus menentukan jalan sendiri, kita bingung mau ke mana. Survey dari Gallup di AS menunjukkan bahwa hanya 20% pegawai yang “engaged” (bersemangat) dengan pekerjaannya. Mayoritas besar hanya menjalani apa adanya. Saya kira, di sini juga sami mawon, kalau nggak lebih parah. Coba lihat bagaimana posisi PNS yang begitu diperebutkan sampai mati-matian (dan duit-duitan), ternyata begitu menjadi PNS banyak yang rajin bolos dan baca koran. Sampai-sampai, harus menterinya langsung melakukan sidak PNS yang bolos. Demikian halnya di banyak perusahaan swasta. (hp)++
Comment by Helmy — December 8, 2007 @ 12:36 pm
wah… Saya baca semua artikel nya… gak sengaja googling, eh ketemu web ini. Sangat amat berkualitas! Saya salut 100%.
Ttg ulasan ini, sy kira semua adlh karena Natural Selection, ya memang Seleksi Alam ini lah yg akan menentukan dan mendiversifikasikan jati diri seseorang.
Yg jelas, kita bisa sukses sebagai apa saja (pengusaha or pekerja), di bidang apa saja…. asalkan kita berpegang pada prinsip2 orang2 sukses sbgmn yg dicontohkan rosullullah saw.
Dalam kisahnya, rosul pernah menjadi pekerja yg sangat jujur, lalu penjadi pedagang dan pengusaha yg ulet dan terpercaya, lalu menjadi pemimpin yg luar biasa…
Dimas P Prabowo,S.T.
http://www.smartmarkreader.com
Comment by Dimas P Prabowo — December 29, 2007 @ 12:22 am
Sangkar Besi Tidak Akan Mengubah Burung RAJAWALI menjadi Burung Nuri.
Comment by diden — February 21, 2008 @ 4:00 pm