Berfokus pada Keunggulan
George Kamarullah, kamerawan top penyabet 4 piala citra adalah mantan pemain sandiwara yang buruk. Ketika latihan untuk pentas sandiwara di tahun 1973, dia dimarahi oleh Slamet Raharjo, sang sutradara, karena aktingnya yang jelek. "Cara main inhaler (pelega hidup mampet) saya saja masih lebih bagus ketimbang kamu!”, semprot Slamet Raharjo pedas.
Sadar tidak memiliki bakat akting, George mundur sebagai pemain peran. Apa yang terjadi kemudian? Dia beralih menjadi sinematografer yang bekerja di belakang layar. Karirnya kemudian sukses dengan meraih berbagai penghargaan, baik nasional maupun internasional.
Kisah hidup George menjadi hikmah yang bagus buat kita semua. Siapa pun anda, pasti memiliki kelemahan dan kelebihan. Tugas kita adalah menemukannya, menyadarinya, dan berusaha memanfaatkan kelebihan yang kita miliki. Anda akan jauh lebih bagus bila berfokus pada peningkatan kelebihan daripada berupaya mengatasi kelemahan-kelemahan. Bila George berfokus pada seni peran dan dengan susah payah memperbaiki aktingnya, maksimal dia hanya akan jadi aktor yang “lumayan”. Bakatnya memang tidak di situ. Namun, dengan berfokus pada bidang yang sesuai bakatnya dan terus memperbaikinya, dia menjadi kamerawan kelas dunia.
Marcus Buckingham, konsultan di Gallup dan penulis buku best seller “Now, Discover Your Strengths” mengatakan bahwa orang pada dasarnya sulit atau bahkan tidak bisa berubah. Kesimpulannya itu diperoleh setelah meneliti 80.000 pegawai di 400 perusahaan yang berbeda. Manajer-manajer yang hebat tidak berusaha mengubah anak buahnya agar mengatasi kelemahan mereka. Namun sebaliknya, mereka berusaha menggali keunggulan yang sudah dimiliki anak buahnya dan mengoptimalkannya untuk sebesar-besarnya kemaslahatan organisasi. "When it comes to getting the best performance out of people, the most efficient route is to revel in their strengths, not to focus on their weaknesses, katanya (Untuk mendapatkan prestasi terbaik manusia, jalan paling efisien adalah mengangkat keunggulannya, bukan memfokuskan pada kelemahan-kelemahan mereka).
Seorang yang berbakat berpikir strategis (big picture thinker) namun cenderung kurang suka detil tentu akan sangat sulit diharapkan agar juga kuat di detil. Alih-alih mengkritik kelemahannya, lebih baik membangun keunggulan yang sudah dimilikinya sehingga hasil-hasil pemikirannya bermanfaat untuk organisasi. Anak-anak yang tidak pandai matematika namun suka pelajaran bahasa, akan lebih baik bila diarahkan untuk mengoptimalkan bakat bahasanya. Kekurangan di matematikanya cukup ditutupi agar tidak kesulitan menghitung hal-hal yang umum dalam hidup sehari-hari.Tidak usah dipaksa, misalnya, agar menguasai konsep diferensial-integral yang njelimet.
Kita bersyukur bahwa di sekolah anak-anak kita tidak lagi dianggap barang standar yang harus memiliki kemampuan seragam. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, tidak ada lagi sistem ranking yang menganggap kemampuan anak bisa diperbandingkan. Tiap anak adalah unik dan memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Sayangnya, di dunia bisnis, banyak yang masih menganut pola penyeragaman. Para pegawai diperlakukan seperti mesin yang harus memiliki kemampuan seragam. Ada penilaian 360 derajat, misalnya, yang menjadi alat ukur bagus-tidaknya seseorang dengan seperangkat “kompetensi baku”. “Si Amir sih bagus dalam mencapai target penjualan, tapi dia punya kelemahan kalau bicara terlalu blak-blakan sehingga bikin tersinggung banyak orang.” “Si Badu kayaknya pintar menulis, tapi sangat jelek kalau disuruh presentasi. Dia perlu dilatih agar pintar presentasi.”
Mentalitas ranking seperti itu akhirnya membuat orang dipilah-pilah. Si Inah adalah talent (berbakat), si Pujo bukan talent. Suatu cara berpikir yang salah karena setiap orang pasti memiliki bakat di satu bidang. Tidak ada orang yang tidak memiliki bakat dan tidak ada pekerjaan yang tidak membutuhkan bakat. Bahkan untuk menjadi office boy pun butuh bakat melayani dan cekatan yang tidak dimiliki setiap orang. Bakat bukan sesuatu yang langka. Yang jarang ditemukan adalah orang yang memiliki bakat yang tepat di tempat yang tepat.
Tugas manajemen adalah menemukan bakat masing-masing orang, menempatkan mereka di tempat yang memungkinkan untuk mendayagunakan bakat-bakatnya dan menghargai keberhasilan-keberhasilan mereka. Tetapkan target yang spesifik yang dapat diraih, biarkan masing-masing orang menemukan caranya sendiri untuk mencapainya. Seperti dikatakan mendiang Peter F Drucker dalam karya klasiknya The Effective Executive:
Eksekutif yang efektif tidak pernah bertanya. “Bagaimana dia akan bekerja sama dengan saya?” Pertanyaan mereka adalah ”Apa yang dapat dia kontribusikan?” Pertanyaan mereka tidak pernah ”Apa yang tidak dapat dilakukannya?” Pertanyaan mereka selalu ”Apa yang dapat dilakukannya dengan luar biasa bagus?” Dalam penempatan karyawan mereka mencari keunggulan di satu bidang utama, bukan prestasi hebat di semua aspek.
Berusaha untuk membangun di atas kelemahan membuyarkan tujuan dari organisasi. Organisasi adalah sarana khusus untuk membuat keunggulan manusia berbuah prestasi sedangkan kelemahannya dinetralisir dan secara umum dibuat tidak merugikan. Mereka yang sangat kuat tidak perlu atau tidak menginginkan organisasi. Mereka jauh lebih baik bila bekerja sendirian. Namun demikian, mayoritas terbesar dari kita tidak memiliki kemampuan sebesar itu yang cukup hanya dengannya sudah efektif, meskipun ada kelemahan-kelemahan kita. "Kita tidak dapat hanya menyewa satu tangan—sesosok manusia lengkap selalu hadir bersamanya, “ kata orang-orang HRD. Demikian juga, seseorang tidak dapat hanya memiliki keunggulan; kelemahan-kelemahan selalu ada padanya.
Namun kita bisa menyusun suatu organisasi sedemikian rupa sehingga kelemahan-kelemahan menjadi setitik noda pribadi di luar, atau setidaknya di samping, pekerjaan dan prestasi. Kita bisa menyusunnya sehingga membuat keunggulan menjadi relevan. Seorang akuntan pajak yang berpraktek pribadi mungkin sangat terkendala oleh ketidakmampuannya dalam bergaul dengan orang lain. Tapi, dalam suatu organisasi, orang semacam itu dapat ditempatkan di satu ruangan tersendiri dan dilindungi dari hubungan langsung dengan orang lain. Dalam suatu organisasi, orang tersebut dapat dibuat agar keunggulannya menjadi efektif dan kekurangannya tidak dianggap relevan. Seorang wirausahawan kecil yang bagus di bidang keuangan namun lemah di bidang produksi atau pemasaran sangat mungkin untuk mendapatkan masalah. Di perusahaan yang sedikit lebih besar, kita dapat dengan mudah menjadikan produktif orang yang hanya kuat di bidang keuangan saja.
Setuju mbah Drucker! Betapa masuk akalnya argumen anda. Namun, betapa sedikit juga yang mempraktekkannya. Bahkan sampai saat ini, lebih dari 40 tahun sejak karya anda diterbitkan…
Great Artikel… bener-bener memberi inspirasi…
…. boleh ditarik untuk di masukan dalam momentum gak? tentunya dengan menuliskan sumber penulisannya…
Comment by budi raharjo — November 6, 2007 @ 6:27 pm
Artikel yang laur biasa… semoga saya segera bisa menemukan keunggulan saya untuk dikembangkan…ditunggu artikel lanjutannya pak Hendro
Comment by sidik suparno — November 9, 2007 @ 3:51 pm
Hi your blog is cool.
I think it’s a good point for debate. Looking forward to it.
Comment by ganesh statue — July 8, 2009 @ 2:14 pm