Bahasa Tidak Bisa Diterjemahkan
Seseorang menulis di suatu milis, “Menerjemahkan itu seperti wanita. Bila cantik, dia tidak setia (pada bahasa aslinya)”. Konon, kalimat itu aslinya adalah pepatah Italia.
Menerjemahkan memang pekerjaan yang sangat sulit. Kalau kita mau hasilnya mudah dipahami, kita seringkali terpaksa tidak setia pada makna asalnya. Kalau kita mau memindahkan semua makna dari bahasa asalnya, hasilnya akan kaku dan sulit dipahami. Bila kita membaca suatu terjemahan yang bahasanya mengalir enak dinikmati, pastilah banyak kata di bahasa aslinya yang terpaksa harus dibuang, ‘ditekuk’, dan ditambah-tambah ketika dipindah ke bahasa Indonesia.
Sejatinya memang suatu bahasa tidak dapat diterjemahkan sepenuhnya ke bahasa lain. Kalau pun bisa, hanya sebagian maknanya saja yang terpindahkan, sebagian lainnya “lost in translation”. Semakin indah bahasa aslinya, semakin sulit diterjemahkan ke bahasa lain. Menerjemahkan karya sastra karenanya lebih sulit dibandingkan menerjemahkan karya akademis yang eksak, karena karya sastra sarat dengan kata-kata yang multitafsir.
Dari semuanya, kitab suci adalah yang paling sulit diterjemahkan, karena di dalamnya ada kandungan hukum yang eksak, cerita-cerita yang indah dengan bahasa sastra sangat tinggi, dan metafor-metafor yang sarat makna, yang harus bisa dipahami oleh orang awam namun juga tidak pernah membosankan bagi kaum cendikia sekali pun. Terjemahan dari kitab suci juga harus sangat akurat, karena merupakan pedoman hidup yang dipakai jutaan orang dari zaman ke zaman. Ia lebih dijadikan acuan daripada kitab hukum mana pun.
Pagi tadi saya mendengar tafsir satu ayat dalam surat Al Baqoroh, mengenai orang-orang yang kurang memiliki pengetahuan luas sehingga kurang bijaksana, yang dalam bahasa Arabnya disebut sufahaa. Sufahaa (jamak dari safihun) adalah lawan dari orang-orang bijak, yaitu orang-orang yang meskipun mungkin tidak bodoh namun terlalu keras kepala sehingga tidak bijak dalam melihat kebenaran. Terjemahan versi Departemen Agama “orang-orang yang kurang akal” hanya bisa menggambarkan sebagian maknanya.
Karena tidak menguasai bahasa Arab, saya terkadang berusaha memahami makna ayat-ayat Al-Quran dengan merujuk pada beberapa versi terjemahan, baik bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Seringkali, terjemahan bahasa Inggris terasa lebih pas dibandingkan bahasa Indonesia, karena kosakata dalam bahasa Inggris jauh lebih banyak sehingga lebih mudah mendapatkan kata-kata yang semakna. Surat Al-Ahzab, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai ”Golongan yang Bersekutu”, terjemahan Yusuf Ali adalah The Coalition (seperti tentara koalisi PBB). Kata ’aahadu di surat itu diterjemahkan sebagai ’telah berjanji’, sedangkan terjemah Inggrisnya covenanted (terasa lebih kuat maknanya, covenant adalah traktat yang mengikat kuat, tidak sekadar janji). Meskipun demikian, saya yakin banyak juga yang tidak terpindahkan maknanya secara sempurna baik ke bahasa Inggris maupun Indonesia karena perbedaan gramatika, kosakata, dan lainnya. Dari segi kosakata saja, kalau diibaratkan jumlah kosakata bahasa Arab (klasik maupun kontemporer) sebanyak satu karung, bahasa Inggris mungkin sekantong tas kresek dan bahasa Indonesia hanya sekantong plastik satu kiloan (Bahasa Arab adalah bahasa yang paling kaya dalam jumlah kosakata). Bagaimana menumpahkan isi satu karung ke dalam sekantong plastik? Pasti banyak yang berceceran.
Masalah ini juga dialami ketika kita membaca buku-buku terjemahan. Saya sering kecewa dengan buku terjemahan, karena jauh lebih sulit dipahami dibandingkan bila langsung membaca aslinya. Ketika tidak menemukan padananannya, seringkali para penerjemah sering harus berputar-putar menjelaskan satu kata sehingga membuat struktur kalimat berantakan. Pada banyak kasus, meskipun ada kata yang maknanya sama namun rasa bahasanya berbeda. Makanya, saya geli ketika buku Jim Collins “Good to Great” diterjemahkan menjadi “Baik menjadi Hebat”. Apakah great = hebat? Betul dari segi makna, tapi masih belum pas benar bila dirasa. Namun, apa boleh buat, tidak ada lagi kata lain yang lebih tepat.
Peresapan makna bahasa juga dipengaruhi oleh pengalaman subyektif seseorang dalam bahasa itu. Saya orang jawa, kalau pulang kampung dan mendengarkan ceramah berbahasa jawa, saya lebih mudah terenyuh dan meresapi kata-kata yang disampaikan. Bagaimanapun, setelah sekian lama merantau di Jakarta, bahasa ibu saya itu ternyata masih lebih mampu menyampaikan makna-makna dibandingkan bahasa Indonesia. Kata-kata seperti “kanjeng nabi”, “poro sedulur” dan “kersa maringi pangayoman” lebih kuat berkesan dibandingkan “baginda nabi”, “saudara-saudara”, dan “bersedia memberi perlindungan”. Kata-kata dalam bahasa Indonesia terasa ampang, hambar. Tak heran bila suluk wayang kulit jadi hilang gregetnya kalau disampaikan dalam bahasa Indonesia. “Kocap kacarito wadyo boloning astina budal saka pandowo… “, ketika diucapkan “Pada suatu hari, bala tentara astina berangkat menuju pendawa…” jadi terasa ada nuansa bahasa yang hilang.
Dus, apa boleh buat, untuk bisa memahami suatu karya tulis sebaiknya kita langsung memakai bahasa sumbernya. Memakai versi terjemahan hanyalah untuk kondisi darurat dan bagi orang yang tidak terlalu serius ingin menekuninya. Juga, perlu pengalaman melebur dalam bahasa itu sehingga maknanya bisa ditangkap dan diresapi sampai ke esensinya.
Kita bersyukur bahwa kita memiliki kitab suci Al-Quran yang orisinil dalam bahasa aslinya. Karenanya, jangan pernah puas hanya memahami maknanya melalui satu terjemahan. Gunakan banyak versi terjemahan, bahasa Indonesia, bahasa Inggris maupun bahasa lainnya, bila kita belum mampu memahami bahasa Arabnya. Tentu saja, sambil terus meningkatkan pemahaman bahasa Arab kita.
Bahasa memang soal cita rasa, kata yang sama yang merupakan alih bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain, bisa sangat jauh arti, apalagi “rasa dan makna” yang dikandungnya. Meski begitu upaya untuk menerjemahkan satu bahasa ke dalam bahasa lain kiranya patut dihargai, meski mungkin terserak dan tak semua tertampung. Mungkin hidayah diturunkan Allah kepada mereka yang membaca sedikit, ketimbang yang membaca banyak. jadi soal banyak atau sedikit itu adalah soal upaya manusia untuk sebisanya menyampaikan pengetahuannya yang terbatas akan sesuatu. Namun siapa yang bisa menyangka dalam usaha yang berpeluh keringat untuk menerjemahkan itu muncul pencerahan yang tak bisa diperoleh dengan hanya membaca naskah aslinya. Selamat atas setiap upaya penerjemahan, karena di dalamnya pasti terdapat usaha sekeras tenaga. Bukankah proses itu juga sama pentingnya dengan hasil. Bukankah kita sering silau pada berlian, dan sering lupa betapa payahnya usaha yang ditempuh untuk mencari dan mengkilaukannya.
Comment by heru subroto — May 6, 2008 @ 1:37 pm
mohon dapatnya dikirimi program bahasa arab terbaru, karena saya ingin pintar berbahasa, yakni bahasa arab dan indonesia
Comment by akhmadi — June 18, 2008 @ 9:17 am
my mind :
saat ini kita sangat butuh sekali dengan banyak menerjemah.
disana banyak ilmu dan segala hal yang perlu kita terjemahkan kedalam bahasa indonesia. untuk kemajuan kita.
sementara para penerjemah kita semakin sedikit saja..
dibutuhkan mesin penerjemah yg berkwalitas.. tantangan untuk bapak..
he..he
saiful bahri
Comment by saiful — August 13, 2009 @ 6:04 pm