web page hit counter

a beautiful mind

November 29, 2007

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 2)

Filed under: self- help, karir, wawasan - pikroh @ 9:10 pm

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami–Macintosh–satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

(more…)

November 28, 2007

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 1)

Filed under: self- help, karir, wawasan - pikroh @ 11:05 am

Ini adalah naskah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, di acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005. (untuk melihat videonya, klik:www.youtube.com/watch%3fv=D1R-jKKp3NA). Berhubung panjang, saya muat dalam tiga seri posting.

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik.

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO?

(more…)

November 26, 2007

Strategi Berganti Karir

Filed under: self- help, karir - pikroh @ 10:16 pm

Buku terbaik yang saya baca mengenai tips berganti karir adalah "Working Identity-Unconvetional Strategies for Reinventing Your Career" karya Herminia Ibarra. Buku itu merupakan ringkasan temuan Herminia Ibarra–profesor perilaku organisasi di INSEAD– dari hasil studi kasus atas 39 orang yang berpindah karir, yang dia wawancarai selama tahun 1999-2001. Kelompok yang dirisetnya terdiri dari berbagai latar belakang, ada psikiater yang menjadi pendeta Buddha, konsultan strategi yang menjadi aktivis LSM, dosen sastra yang menjadi penasihat investasi dan lainnya. Bila Anda ingin mengikuti jejak mereka, Anda perlu menyimak temuan-temuan Ibarra.  

Ibarra mengingatkan bahwa proses berganti karir biasanya tidak mulus.  Mendapatkan karir idaman membutuhkan proses eksplorasi yang memakan waktu, dan seringkali lebih panjang dari perkiraan. Menemukan karir yang cocok hanya bisa dilakukan melalui proses mencoba-merasa-memutuskan-mencoba lagi. Ibarra mengkritik metode yang dipakai para konselor karir di mana kita diminta melakukan assessment kepribadian, lalu menganalisanya untuk menentukan karir yang cocok  Jati diri kita bisa banyak dan seringkali bahkan tidak kita ketahui sebelum dihadapkan situasi nyata yang sarat hikmah.

(more…)

November 25, 2007

Dokter, Mengapa Sulit Minta Maaf?

Filed under: self- help, wawasan - pikroh @ 8:06 am

Dalam melayani masyarakat, sebagai manusia biasa para dokter tidak bebas dari berbagai kesalahan: dari mulai kesalahan diagnosis, kesalahan penanganan bahkan sampai tuduhan pelecehan seksual. Tingkat pendidikan dan kesadaran pasien yang semakin tinggi membuat kesalahan-kesalahan yang dulu tidak terlalu dipermasalahkan atau disadari semakin sering mencuat di berbagai media massa. Bahkan, gugatan malpraktek juga semakin kerap terjadi. Hal ini menuntut kehati-hatian profesional yang semakin tinggi dari para dokter, baik untuk mencegah maupun menghadapi krisis bila terjadi kesalahan.

Seorang rekan yang merupakan pimpinan sebuah majalah yang cukup terkemuka sedang mempertimbangkan untuk menyurati Konsil Kedokteran dan IDI karena merasa telah disia-siakan oleh seorang dokter. Setelah menunggu berjam-jam untuk dilayani, dia melakukan komplain ke sang dokter yang terlambat datang. Alih-alih keluhannya ditanggapi dengan empati oleh sang dokter, dia justru balik dimarahi dan dipersilakan ke dokter lain bila tidak sabar menunggu. Sikap sang dokter yang arogan dan tidak simpatik di depan pasien-pasien lain ini membuat rekan saya berang. Dia menuliskan kegusarannya di sebuah rubrik surat pembaca sebuah surat kabar nasional dan mengancam sang dokter untuk memperkarakan lebih lanjut. Sang dokter yang ketakutan telah menghubunginya dan menjanjikan uang sekian juta rupiah untuk ”berdamai”, namun menolak untuk meminta maaf. Rekan saya itu tidak bergeming. Dia tidak menuntut uang, yang diinginkannya adalah permintaan maaf yang tulus dan terbuka. Hal yang tampaknya sulit dipenuhi oleh sang dokter.

(more…)

November 24, 2007

Playing God with The Secret

Filed under: self- help - pikroh @ 7:52 am

Mendengar ‘kehebohan’ the Secret, penasaran saya melihat video dan membaca bukunya. Ternyata, tidak ada yang baru di dalamnya. The Secret cuma minyak wangi lama yang dikemas dalam botol baru. Laiknya penjaja kaki lima yang menciptakan kehebohan dengan melibatkan banyak temannya ikut menawar, itulah the Secret. Gagasannya sudah banyak dibicarakan sebelumnya dengan nama seperti psychic demand, the magic of thinking big, the power of hope, dan lainnya.

Bagi Anda yang mungkin belum tahu, the Secret adalah video dan buku yang diluncurkan oleh Rhonda Byrne dengan menggandeng sejumlah tokoh:  Joe Vitale, Jim Rohn, dan lainnya. Intinya mengenai hukum penarikan (‘law of attraction’), yaitu bahwa kalau Anda memiliki harapan kuat atas sesuatu, secara ajaib ‘alam semesta’ akan menyediakannya bagi Anda. Alam semesta bagaikan jin yang mengabulkan setiap permintaan Aladin. Namun, berbeda dengan jinnya Aladin, alam semesta tidak membatasi dengan tiga permintaan.

(more…)