Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 2)
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami–Macintosh–satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.
(more…)
Buku terbaik yang saya baca mengenai tips berganti karir adalah "Working Identity-Unconvetional Strategies for Reinventing Your Career" karya Herminia Ibarra. Buku itu merupakan ringkasan temuan Herminia Ibarra–profesor perilaku organisasi di INSEAD– dari hasil studi kasus atas 39 orang yang berpindah karir, yang dia wawancarai selama tahun 1999-2001. Kelompok yang dirisetnya terdiri dari berbagai latar belakang, ada psikiater yang menjadi pendeta Buddha, konsultan strategi yang menjadi aktivis LSM, dosen sastra yang menjadi penasihat investasi dan lainnya. Bila Anda ingin mengikuti jejak mereka, Anda perlu menyimak temuan-temuan Ibarra.