Playing God with The Secret
Mendengar ‘kehebohan’ the Secret, penasaran saya melihat video dan membaca bukunya. Ternyata, tidak ada yang baru di dalamnya. The Secret cuma minyak wangi lama yang dikemas dalam botol baru. Laiknya penjaja kaki lima yang menciptakan kehebohan dengan melibatkan banyak temannya ikut menawar, itulah the Secret. Gagasannya sudah banyak dibicarakan sebelumnya dengan nama seperti psychic demand, the magic of thinking big, the power of hope, dan lainnya.
Bagi Anda yang mungkin belum tahu, the Secret adalah video dan buku yang diluncurkan oleh Rhonda Byrne dengan menggandeng sejumlah tokoh: Joe Vitale, Jim Rohn, dan lainnya. Intinya mengenai hukum penarikan (‘law of attraction’), yaitu bahwa kalau Anda memiliki harapan kuat atas sesuatu, secara ajaib ‘alam semesta’ akan menyediakannya bagi Anda. Alam semesta bagaikan jin yang mengabulkan setiap permintaan Aladin. Namun, berbeda dengan jinnya Aladin, alam semesta tidak membatasi dengan tiga permintaan.
Jadi, bayangkanlah sejelas-jelasnya bahwa Anda akan menerima jutaan rupiah di tabungan, entah dari mana asalnya. Lakukanlah terus-menerus, pagi, siang, sore. Maka uang itu akan datang. Itulah yang terjadi dengan Jim Rohn. Anda pasti juga akan mengalaminya.
Orang-orang yang pendapatnya dikutip dalam the Secret telah mendapatkan sukses seperti harapan mereka. Namun, apakah mereka mewakili semua orang yang memiliki harapan? Seperti pengobatan alternatif yang banyak menggunakan testimoni beberapa gelintir orang yang sembuh karena pengobatan mereka, padahal mungkin hanya kebetulan. Ribuan lainnya yang tidak sembuh, tidak diceritakan.
Saya hanya membayangkan bahwa kalau hukum itu benar, kita sudah punya solusi pengentasan kemiskinan 1 milyar lebih penduduk dunia. The secret harus menjadi program wajib untuk mencapai Millenium Development Goals. Orang Afrika yang kelaparan, orang Palestina yang terusir dari kampung halaman dan orang Myanmar yang terkekang secara politik, cukup menerapkan the secret maka akan teratasi masalahnya. Saya jadi teringat ibu saya yang sejak muda punya harapan menjadi pengusaha sukses dan bekerja keras dengan berbagai usaha, namun tidak juga berhasil sampai tua. Tuhan (bukan alam semesta) memiliki ketentuan atas masing-masing kita. Wa tu’idzu man tasaa, wa tudzillu man tasaa. Dia mengangkat dan merendahkan orang sesuai kehendak-Nya. Rezeki, sebagaimana jodoh dan ajal, sudah diatur takarannya, meski kita baru tahu setelah berusaha.
Saya setuju mengenai kekuatan berprasangka baik dan berpengharapan positif dalam membuka pintu-pintu rizki. Dalam satu hadist Qudsi dikatakan bahwa Tuhan sesuai persangkaan hambaNya. Kalau kita menyangka baik, maka Dia baik. Kalau kita berprasangka buruk, maka keburukan yang Dia beri. Namun, itu semua tergantung kehendakNya. Dia Maha Berkehendak. Bukan tergantung ’alam semesta’ yang dapat kita atur sesuai pikiran kita. Kita bukan tuhan.
Wonderful piece Mas…. suetujuu….
++Di tunggu cross postingnya pak, untuk komentar yang lebih panjang… Pingin dengar pendapat pak Her selain Dinar Irak, reksadana, dan lainnya. ++
Comment by Her — November 28, 2007 @ 9:52 am