<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Dokter, Mengapa Sulit Minta Maaf?</title>
	<link>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2007/11/25/dokter-mengapa-sulit-minta-maaf/</link>
	<description>pikiran yang mengubah anda</description>
	<pubDate>Sat, 16 Aug 2008 04:59:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: Dimas P P</title>
		<link>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2007/11/25/dokter-mengapa-sulit-minta-maaf/#comment-67</link>
		<pubDate>Sat, 29 Dec 2007 16:56:35 +0000</pubDate>
		<guid>http://hendroprasetyo.blogsome.com/2007/11/25/dokter-mengapa-sulit-minta-maaf/#comment-67</guid>
					<description>Dokter spesialis seringkali jumlah pasiennya melebihi kapasitas pelayanannya.
Sedemikian sibuknya shg saya pernah dengar bahwa dokter2 dgn spesialisasi yg langka, meskipun kaya raya, namun selalu tidur di sofa, kasian juga ya...

Dilihat dari sudut pandang ekonomi, terlepas dari capek, suntuk ataupun faktor2 lain, jumlah dokter2 spesialis yg langka (biasanya yg ahli dalam tindakan medis spt pembedahan, pemasangan alat2 ring arteri di dlm jantung, dsb) sangat minim dibanding jumlah pasiennya, maka hukum ekonomi pasti terjadi, sedikit penawaran dan byk permintaan pastilah harga tinggi namun kualitas rendah.
Bagaimana tidak, Pelayanan rendah, pasien pun tetap antri.

Nah, mengapa ini terjadi? Teman sy yg kuliah kedokteran berkata :
1. Di Indonesia, biaya spesialisasi sangat amat mahal (ratusan juta rupiah).
2. ilmu kedokteran pd spesialisasi, sangat dikonservasi oleh senior dan dosen nya.
3. Kuliah kedokteran di luarneger, saat pulang, status nya tidak diakui dengan alasan tidak applicable dengan kondisi di indonesia.

Sungguh disayangkan bukan?
Bayangkan klo jmlh dokter yg qualified banyak, pasti hal tersebut dapat diminimalisasi.

Dimas P P
dimas_pp@yahoo.com
http://www.smartmarkreader.com</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Dokter spesialis seringkali jumlah pasiennya melebihi kapasitas pelayanannya.<br />
Sedemikian sibuknya shg saya pernah dengar bahwa dokter2 dgn spesialisasi yg langka, meskipun kaya raya, namun selalu tidur di sofa, kasian juga ya&#8230;</p>
	<p>Dilihat dari sudut pandang ekonomi, terlepas dari capek, suntuk ataupun faktor2 lain, jumlah dokter2 spesialis yg langka (biasanya yg ahli dalam tindakan medis spt pembedahan, pemasangan alat2 ring arteri di dlm jantung, dsb) sangat minim dibanding jumlah pasiennya, maka hukum ekonomi pasti terjadi, sedikit penawaran dan byk permintaan pastilah harga tinggi namun kualitas rendah.<br />
Bagaimana tidak, Pelayanan rendah, pasien pun tetap antri.</p>
	<p>Nah, mengapa ini terjadi? Teman sy yg kuliah kedokteran berkata :<br />
1. Di Indonesia, biaya spesialisasi sangat amat mahal (ratusan juta rupiah).<br />
2. ilmu kedokteran pd spesialisasi, sangat dikonservasi oleh senior dan dosen nya.<br />
3. Kuliah kedokteran di luarneger, saat pulang, status nya tidak diakui dengan alasan tidak applicable dengan kondisi di indonesia.</p>
	<p>Sungguh disayangkan bukan?<br />
Bayangkan klo jmlh dokter yg qualified banyak, pasti hal tersebut dapat diminimalisasi.</p>
	<p>Dimas P P<br />
<a href="mailto:dimas_pp@yahoo.com">dimas_pp@yahoo.com</a><br />
<a >http://www.smartmarkreader.com</a>
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
