web page hit counter

a beautiful mind

November 26, 2007

Strategi Berganti Karir

Filed under: self- help, karir - pikroh @ 10:16 pm

Buku terbaik yang saya baca mengenai tips berganti karir adalah "Working Identity-Unconvetional Strategies for Reinventing Your Career" karya Herminia Ibarra. Buku itu merupakan ringkasan temuan Herminia Ibarra–profesor perilaku organisasi di INSEAD– dari hasil studi kasus atas 39 orang yang berpindah karir, yang dia wawancarai selama tahun 1999-2001. Kelompok yang dirisetnya terdiri dari berbagai latar belakang, ada psikiater yang menjadi pendeta Buddha, konsultan strategi yang menjadi aktivis LSM, dosen sastra yang menjadi penasihat investasi dan lainnya. Bila Anda ingin mengikuti jejak mereka, Anda perlu menyimak temuan-temuan Ibarra.  

Ibarra mengingatkan bahwa proses berganti karir biasanya tidak mulus.  Mendapatkan karir idaman membutuhkan proses eksplorasi yang memakan waktu, dan seringkali lebih panjang dari perkiraan. Menemukan karir yang cocok hanya bisa dilakukan melalui proses mencoba-merasa-memutuskan-mencoba lagi. Ibarra mengkritik metode yang dipakai para konselor karir di mana kita diminta melakukan assessment kepribadian, lalu menganalisanya untuk menentukan karir yang cocok  Jati diri kita bisa banyak dan seringkali bahkan tidak kita ketahui sebelum dihadapkan situasi nyata yang sarat hikmah.

Bila ingin mengubah karir Anda, Ibarra menganjurkan strategi berikut:

  1. Ubah pola pikir dan sikapAnda dengan segera bertindak. Anda tidak akan menemukan jati diri Anda hanya melalui introspeksi. Mulailah dengan mengubah apa yang Anda kerjakan. Coba hal-hal baru. Ambil tindakan, lalu dari hasil tindakan tersebut resapi apa yang Anda pikir, rasa, dan inginkan. Tindakan mendahului perenungan.
  2. Buang keinginan untuk memiliki hanya satu jati diri. Pelajari, coba dan rasakan banyak kemungkinan jati diri. Perenungan memang penting, namun jangan sampai membuat kita berhenti bertindak. Fokus kita justru pada pengujian, apakah yang kita kira akan kita sukai memang betul-betul kita sukai. Dunia nyata seringkali berbeda dengan angan-angan kita. Dengan mengalami langsung, kita tahu apakah ekspektasi kita realistis.
  3. Biarkan diri Anda menjalani proses transisi, di mana Anda ‘berpijak di dua tempat’. Anda sudah meninggalkan sebagian dunia lama, namun masih belum sepenuhnya memasuki dunia baru. Lebih baik hidup dalam kontradiksi daripada terburu-buru mengambil tindakan. Masa sebelum berpindah karir selalu diwarnai dengan kesulitan, kegalauan, kebimbangan dan ketidakpastian.  Namun, masa itu harus dijalani. Bila Anda menghindarinya, maka Anda akan mentok di karir sekarang (yang tidak lagi Anda sukai) atau melompat ke pekerjaan yang salah.
  4. Tahan dari godaan untuk berubah secara radikal. Lakukan perubahan bertahap, di mana keberhasilan kecil dapat mengubah asumsi dasar atas hidup dan pekerjaan. Jangan menghabiskan waktu untuk menunggu ‘kesempatan emas’. Hampir tidak ada orang yang berhasil di kesempatan pertama. Jangan berkhayal akan mendapatkan jalan yang lempang. Anda kemungkinan besar akan mengalami siklus percobaan berkali-kali sebelum mendapat karir baru yang cocok. (Yang seringkali tidak sama dengan rencana semula).
  5. Cari proyek yang dapat memberi pengalaman bekerja atau gaya hidup berbeda. Lakukanlah sebagai ‘ekstrakurikuler’, paralel dengan pekerjaan sekarang. Kerjakan kegiatan tersebut dengan serius, namun tanpa komitmen besar. Pergunakan pengalaman tersebut untuk mengetes aspirasi dan keinginan Anda.
  6. Jangan hanya berfokus pada pekerjaan. Cari orang yang merupakan idola masa depan Anda, yang dapat membantu proses transisi. Dia hampir pasti berada di luar lingkup pergaulan Anda sekarang. Perluas pergaulan Anda. Kebahagiaan kita tidak hanya tergantung pada pekerjaan yang kita lakukan, namun juga pada kecocokan rekan dan lingkungan kerja.  
  7. Jangan menunggu ‘ilham dari langit’. Gunakan pengalaman sehari-hari sebagai pelajaran. Ceritakan kepada orang lain aspirasi Anda untuk mendapatkan masukan. Coba berbagai versi dengan orang yang berbeda. Sampaikan tidak hanya kepada teman, tapi juga kepada mereka yang skeptis. Secara perlahan, Anda akan menemukan kejelasan. Perpindahan karir rata-rata memerlukan waktu tiga sampai lima tahun. Bila pun ada ‘ilham dari langit’ biasanya terjadi di ujung, bukan di awal proses. 
  8. Ambil rehat sesekali. Ketika Anda merasa mentok dan tidak tahu harus bagaimana, ambil waktu untuk merenungkan kembali mengapa dan bagaimana Anda telah melakukan perubahan. Bahkan rekreasi sehari di alam bebas dapat menyegarkan diri Anda. Namun, jangan berlama-lama. Hanya interaksi dan bekerja dengan orang lain yang akan membawa Anda lebih dekat dengan karir impian.
  9. Ada saat di mana Anda mudah menerima perubahaan, ada saat di mana perubahan kecil pun tidak Anda tolerir. Keinginan berubah tidak selalu sama sepanjang waktu. Ambil kesempatan saat masa itu tiba (saat selesai kuliah, ulang tahun penting, mutasi kerja, mendapat penilaian kerja buruk, dan lainnya). 

Psikolog Erik Erikson pernah menulis bahwa identitas bagaikan hati nurani. Kita mendengar, namun terkadang mengabaikan bisikan nurani kita. Manusia dewasa tumbuh dengan bertanya dan berkomitmen. Orang yang tidak mempertanyakan dan tidak juga berkomitmen terhadap pekerjaannya, tidak akan ke mana-mana. Kalau Anda tidak mempertanyakan lagi mengapa Anda melakukan pekerjaan Anda, maka sebaiknya Anda berkomitmen. Bertanya tanpa pernah berkomitmen hanya dilakukan para ‘mahasiswa abadi’. Dan… hanya robot yang berkomitmen tanpa bertanya.

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2007/11/26/strategi-berganti-karir/trackback/

  1. Artikel ini juga cocok bagi yang ingin meningkatkan karir, karena kalau karir kita ingin lebih baik harus berani keluar dari zona kenyamanan dan mencari tantangan baru untuk meningkatkan kwalitas, integritas dan etos kerja, itu sebabnya seorang karyawanpun perlu memiliki sikap sebagai seorang wiraswasta.

    ++Betul mas, memang kita harus berani keluar dari zona kenyamanan. Banyak orang yang terjebak dalam zona kenyamanan sehingga takut bertindak dan merasa puas (meskipun tidak bahagia) dengan kondisi yang ada. Harusnya, kita selalu merasa tidak puas, namun bahagia. Kata Steve Jobs: stay hungry, stay foolish. Selamat keluar dari zona kenyamanan untuk meningkatkan karir.. (hp)++

    Comment by sidik suparno — November 29, 2007 @ 6:37 pm

  2. Situasi sekarang, membuat orang harus berada dalam situasi unsecure…ini yang membuat mata, telinga dan indra yang lain siap mengamati, belajar hal-hal baru. Karena tiap saat banyak terjadi perubahan drastis….dan supaya tak kaget2, siapkan selalu payung, dan kita bisa berkarir dimana saja. Jangan pernah berhenti belajar.

    Comment by edratna — December 2, 2007 @ 3:30 pm

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.