web page hit counter

a beautiful mind

December 17, 2007

Kolaborasi Massa dalam Ekonomi Wiki

Filed under: wawasan - pikroh @ 8:42 am

Heran mengapa MySpace yang baru diluncurkan tahun 2003 bisa melesat begitu cepat, kini menjadi “tempat nongkrong” bagi 100 juta lebih anak muda–mengalahkan Yahoo, MSN, Google dan eBay dalam hal trafik? Ingin tahu mengapa Wikipedia, yang hanya berpegawai lima orang, dapat menyajikan lebih dari satu juta lema (entry) dalam bahasa Inggris dan 92 bahasa lainnya–sepuluh kali volume Encyclopedia Britannica? Tahukah bahwa Google telah bermetamorfosis dari mesin pencari menjadi perusahaan iklan terbesar dunia–dan “menendangi pantat” Microsoft, sesuai pengakuan Bill Gates di World Economic Forum 2004 di Davos, Swiss?

Jawabannya ada di Wikinomics tulisan Don Tapscott dan Anthony Williams. Kita sedang menghadapi fenomena di mana kolaborasi massa menjadi sumber keunggulan baru. Bisnis yang mengandalkan sistem tertutup akan terjungkal oleh gelombang pemain baru yang lincah dan cerdik karena memanfaatkan kecerdasan kolektif banyak orang.

Hukum Coase

Di tahun 1937, sosialis muda Inggris yang bernama Ronald Coase menulis makalah berjudul The Nature of the Firm. Coase mempertanyakan, mengapa ada perusahaan raksasa seperti Ford dan GM? Bukankah untuk membuat mobil orang tidak harus berkumpul dalam satu perusahaan? Pasar adalah mekanisme paling efisien untuk mempertemukan pembeli dan penjual. Setiap orang dapat membuat bagian-bagian mobil, lalu menjualnya kepada orang lain yang merakit dan memasarkannya. Mereka tidak harus berkumpul di satu tempat.

Coase menemukan jawabannya. Salah satu alasan utamanya adalah biaya transaksi. Memproduksi roti, merakit mobil, atau mengelola unit gawat darurat rumah sakit, melibatkan serangkaian kegiatan yang memerlukan kerjasama erat untuk mencapai tujuan bersama. Dalam prakteknya, sangat tidak praktis bila memisahkan prosesnya menjadi beberapa sub kegiatan yang setiap kalinya harus ditransaksikan. Biaya yang dikeluarkan untuk negosiasi melebihi penghematan dari tekanan persaingan.

Pertama, biaya pencarian, misalnya mencari pemasok yang tepat untuk barang yang sesuai. Kedua, biaya kontrak, seperti negosiasi harga dan syarat kontrak. Ketiga, biaya koordinasi, karena harus menyelaraskan produk dan proses yang beragam. Coase merangkum ketiganya sebagai biaya transaksi. Sebagai kesimpulannya, kebanyakan perusahaan menilai biaya transaksi terlalu besar sehingga memilih melakukan kegiatannya sendiri.

Tapscott dan kawan-kawan menyebutnya sebagai Hukum Coase: perusahaan akan terus mengembangkan kegiatannya sendiri sampai biaya mengelola transaksi internal sama dengan biaya melakukan transaksi di pasar. Bila melakukan sendiri lebih murah, mereka mempertahankannya. Bila lebih murah membeli, mereka akan membelinya dari luar (outsource).

Internet membuat biaya transaksi jauh lebih murah. Perusahaan mobil bisa membeli ban dari Malaysia, spion dari Taiwan, kursi kulit dari Australia, dan sistem rem dari Italia, tanpa banyak kesulitan. Ada bursa on-line di mana pembeli dapat memilih kualitas, harga dan tanggal pengiriman barang. Pengirimannya pun bisa dimonitor melalui peta virtual yang menunjukkan pergerakan barang.

Implikasi bagi Perusahaan

Setiap perubahan besar selalu menebarkan peluang dan ancaman. Perusahaan besar maupun kecil akan terkena imbasnya, tanpa kecuali. Sesuai filosofi Darwin, bukan yang kuat mengalahkan yang lemah, atau yang besar mengalahkan yang kecil; tapi yang cerdik mengalahkan yang dungu. Perusahaan mulai banyak yang “banting setir” dalam strategi mereka. Gelombang outsourcing melanda di hampir semua industri. Perusahaan global banyak melakukan offshoring ke negara-negara ber-SDM murah namun berketerampilan tinggi. China sudah menjadi pusat manufaktur global, dengan India sebagai kantornya. Kolaborasi bukan lagi dipicu oleh alasan biaya, namun juga untuk membuka peluang pertumbuhan, inovasi dan keragaman.

Tapscott dan William mencatat tujuh model bisnis baru dalam ekonomi wiki yang perlu dimanfaatkan semua pihak:

  1. “Peer Pioneer”, yaitu para penyedia open source dan layanan gratis seperti Linux, Apache, MySQL, dan Wikipedia yang membuktikan bahwa kolaborasi umum berbiaya minimal dapat mengalahkan perusahaan-perusahaan raksasa berdana besar.
  2. “Ideagora”, yaitu bursa gagasan, penemuan dan keahlian unik yang memungkinkan perusahaan seperti P&G mengambil manfaat dari ribuan tenaga ahli yang berjumlah sepuluh kali pegawainya.
  3. “Prosumer”, yaitu para konsumen pintar yang merasa memiliki hak menentukan desain dan mengubah produk, seringkali tanpa bisa “dilawan” oleh pembuatnya. (misalnya, konsumen iPod dan Playstation).
  4. “New Alexandrian”, yaitu strategi baru dalam menyebarkan ilmu dan keahlian umat manusia, yang bermanfaat mensejahterakan masyarakat sekaligus memberi keuntungan bagi perusahaan yang terlibat.
  5. “Platform for Participation”, di mana perusahaan besar membuka infrastruktur teknologi dan produknya kepada banyak mitra usaha, untuk menciptakan nilai tambah dan peluang bisnis baru.
  6. “Global Plant Floor”, di mana perusahaan manufaktur menciptakan “ekosistem bumi” untuk merancang dan memproduksi barang, sehingga memungkinkan kolaborasi massal lintas benua.
  7. “Wiki Workplace”, bagaimana kolaborasi massa berdampak pada tempat kerja, menghapuskan jenjang hirarki dan menghubungan tim internal perusahaan dengan dunia luar.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Tapscott dan Williams menutup bukunya dengan menegaskan bahwa perusahaan yang monolitik, tertutup dan berfokus ke dalam akan mati dalam persaingan. Apa pun industri Anda, persaingan tidak lagi dapat dimenangkan dengan hanya menggantungkan diri pada kemampuan internal dan kerjasama sedikit orang. Jadikan dunia luar sebagai litbang Anda, lalu fokuskan sumberdaya internal untuk mengintegrasikan manfaatnya. Perusahaan Anda harus berperan sebagai portal inovasi dan magnet yang menarik bagi para ahli.

 

Baca juga:

 

 

2 Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://hendroprasetyo.blogsome.com/2007/12/17/kolaborasi-massa-dalam-ekonomi-wiki/trackback/

  1. warren buffet tetep invest di usaha brick & mortar. Dia nggak ngerti bisnis high tech. Dan kekayaanya tetep no 2 di dunia. Memang banyak teknologi canggih sekarang, tapi tetep bikin donat, kopi macam starbuck atau jualan kelontong macam wall mart tetep bisa kaya. Memang bisnis berubah dengan adanya perkembangan internet ini. Tapi perubahannya seringkali dioverestimate oleh para analis dan penggemar dunia maya ini.

    Comment by imam — December 18, 2007 @ 3:46 pm

  2. Mas Hendro Yth.
    Terima kasih telah membuat link ke resensi saya. Sukses mas!

    Comment by Gatot Widayanto — February 3, 2008 @ 11:10 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.