Temukan ceruk rejekimu
Beberapa waktu lalu di tengah meeting di kantor, saya ditelepon Dian Sastro. Ya, Dian Sastrowardoyo yang cantik itu. Lha, Tumben?
“Mas Hendro, saya Dian Sastro dari Who Wants to be a Millionaire. Teman anda, Irwansyah saat ini sedang memerlukan bantuan anda. Anda punya waktu 1 menit untuk menjawab pertanyaan….”, demikian suara renyahnya dari ujung telepon. Ya, meskipun hanya lewat telepon, ternyata tegang juga menjawabnya. Knowing that there would be millions of people out there listening to my voice. And, I never feel comfortable being under the limelight.
Bahkan hanya untuk menjawab “dari negara manakah Kim Il Sung berasal?”, saya sampai harus berpikir keras hingga waktu hampir habis. Under pressure, my brain was suddenly malfunctioning. Memang banyak teman di kantor yang sedang getol mengincar peluang tampil di kuis itu. Beberapa di antaranya berhasil lolos ke studio, meski hanya satu yang duduk di “kursi panas”. Mungkin waktunya tepat, karena sudah sedemikian lamanya kuis itu ditayangkan sehingga sudah tidak terlalu banyak lagi yang mencoba. Persaingan untuk lolos ke studio sudah tidak seberat di awal-awal dulu. Meskipun dipermak lagi dengan hadiah yang lebih besar dan dengan penampilan Dian Sastro, masyarakat kelihatannya sudah jenuh dengan acara itu. Teman saya Irwansyah akhirnya mendapat hadiah 20 juta. Jumlah yang lumayan besar untuk usaha yang sebenarnya tidak terlalu berat. Jauh lebih besar dibandingkan hasil keringat setahun menurut UMR.
Memang, kalau kita pandai melihat peluang, kuis-kuis dan semacamnya bisa menjadi easy money yang menambah pundi-pundi kekayaan kita. Dulu waktu sekolah SMA di Yogya, ada teman yang sering mengakali kuis-kuis radio. Umumnya pertanyaannya seputar nama lagu dan penyanyinya, yang sangat mudah dijawab. Siapapun punya peluang menang asal mau mengirimkan jawaban lewat kartu pos. Yang diperlukan hanya keberuntungan agar kartu posnya terpilih dari sekian ratus atau ribu pengirim. Teman saya itu mengakali dengan mengirim puluhan kartu pos menggunakan nama-nama teman satu sekolah yang dikenalnya. Beberapa kali dia berhasil mendapat hadiah, sebelum akhirnya triknya ketahuan oleh pengasuh radio.
Kisah lain adalah teman saya sekantor yang mendapat rejeki tambahan dari permainan ketangkasan yang marak di mall-mall. Sewaktu masih bujang, teman yang memang senang keluyuran itu dapat menghabiskan waktunya berjam-jam bermain ketangkasan. Karena fokus pada satu-dua permainan sampai betul-betul menguasainya, dia sering mendapatkan jackpot tiket beratus-ratus lembar yang bila dikumpulkan dapat ditukar dengan berbagai hadiah yang nilainya ratusan ribu rupiah. Dia bisa punya berbagai perangkat elektronik dari hasil mengakali permainan itu.
What’s the point?
Kejadian-kejadian seperti di atas menunjukkan bahwa bila kita jeli melihat peluang, mempelajari celah-celahnya dan tekun berusaha, kita bisa mendapatkan keuntungan abnormal yang tidak diperoleh orang kebanyakan. Saya kira, hal itu juga berlaku pada banyak hal dalam kehidupan kita. Orang-orang yang sukses secara finansial atau pekerjaan adalah orang-orang yang pintar melihat peluang dan memanfaatkannya secara optimal. Prof William Danko dan Thomas Stanley, penulis buku the millionaire next door dan the millionaire’s mind mengatakan bahwa orang-orang kaya yang ditelitinya kebanyakan adalah mereka yang pandai melihat peluang yang tidak dilihat banyak orang dan rajin untuk mengolahnya. Mereka memilih medan yang miskin persaingan dan berusaha menjadi sangat bagus dalam menggarap ceruk itu. Mereka tidak terjebak dalam medan persaingan yang terlalu umum di mana kemenangan sulit didapat, meskipun dengan kerja keras dan kemampuan baik.
Demikian juga dalam berkarir. Prof John Kotter dalam buku Power and Influence mengatakan bahwa para MBA Harvard yang sukses dalam karirnya memiliki pola tertentu yang memungkinkan mereka menapaki jenjang profesionalnya dengan baik. Antara lain adalah bagaimana menemukan tantangan yang tepat, membangun suatu reputasi keberhasilan (dia sebut sebagai “success syndrome”) dan memanfaatkan apa yang sudah didapat untuk keberhasilan selanjutnya. Dalam banyak kasus, mereka yang berhasil adalah yang pada akhirnya mendirikan atau pindah ke perusahaan kecil untuk menggarap ceruk yang mereka kuasai dengan baik. Mereka tidak bekerja hanya semata-mata mengandalkan kecakapan, tapi juga memiliki strategi dan trik-trik yang cerdas.
Tengoklah sekeliling kita. Amati apa yang terjadi, bagaimana orang-orang mengolah peluang. Juga amati apakah ada peluang-peluang yang tidak dilihat orang atau direspon secara salah. Seperti Bill Gates yang dari garasinya mengolah peluang sistem operasi MS DOS yang tidak dilihat IBM, anda dapat menemukan banyak tambang emas yang terpendam. Mereka menunggu kita untuk mengambilnya.