web page hit counter

a beautiful mind

September 7, 2008

Pindahan ke Blog Lain

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 11:34 am

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan seorang teman lama. Tanpa  saya ketahui, ternyata dia bersama beberapa teman selama ini menjadi "pengunjung tetap" blog ini dan menikmati tulisan-tulisan saya. Mereka bahkan hampir membaca seluruhnya dan beberapa kali kecewa karena berkunjung ke sini dan tidak menemukan postingan baru sejak Desember lalu. Saya jadi "terenyuh" mendengarnya. Ternyata blog ini bukan hanya celotehan sepi untuk diri sendiri, namun juga memberi dampak bagi orang lain.

Sebenarnya, sejak Maret lalu saya mulai ngeblog di tempat lain. Dalam blog yang bernama IndonesianBlogger  itu saya memakai bahasa Inggris untuk memperluas khalayak pembacanya, sekaligus memoles kembali bahasa Inggris saya yang mulai karatan. Sejak paruh kedua tahun lalu saya tidak lagi bekerja sebagai pegawai di dunia korporasi. Tentu saja hal itu mempengaruhi topik-topik yang menjadi bahan tulisan saya.  

Bila Anda masih ingin menyimak tulisan-tulisan saya, silakan kunjungi:

IndonesianBlogger.com.

indonesianblogger

February 16, 2007

Temukan ceruk rejekimu

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 6:35 pm

Beberapa waktu lalu di tengah meeting di kantor, saya ditelepon Dian Sastro. Ya, Dian Sastrowardoyo yang cantik itu. Lha, Tumben?

“Mas Hendro, saya Dian Sastro dari Who Wants to be a Millionaire. Teman anda, Irwansyah saat ini sedang memerlukan bantuan anda. Anda punya waktu 1 menit untuk menjawab pertanyaan….”, demikian suara renyahnya dari ujung telepon. Ya, meskipun hanya lewat telepon, ternyata tegang juga menjawabnya. Knowing that there would be millions of people out there listening to my voice. And, I never feel comfortable being under the limelight.

Bahkan hanya untuk menjawab “dari negara manakah Kim Il Sung berasal?”, saya sampai harus berpikir keras hingga waktu hampir habis. Under pressure, my brain was suddenly malfunctioning. Memang banyak teman di kantor yang sedang getol mengincar peluang tampil di kuis itu. Beberapa di antaranya berhasil lolos ke studio, meski hanya satu yang duduk di “kursi panas”. Mungkin waktunya tepat, karena sudah sedemikian lamanya kuis itu ditayangkan sehingga sudah tidak terlalu banyak lagi yang mencoba. Persaingan untuk lolos ke studio sudah tidak seberat di awal-awal dulu. Meskipun dipermak lagi dengan hadiah yang lebih besar dan dengan penampilan Dian Sastro, masyarakat kelihatannya sudah jenuh dengan acara itu. Teman saya Irwansyah akhirnya mendapat hadiah 20 juta. Jumlah yang lumayan besar untuk usaha yang sebenarnya tidak terlalu berat. Jauh lebih besar dibandingkan hasil keringat setahun menurut UMR.

Memang, kalau kita pandai melihat peluang, kuis-kuis dan semacamnya bisa menjadi easy money yang menambah pundi-pundi kekayaan kita. Dulu waktu sekolah SMA di Yogya, ada teman yang sering mengakali kuis-kuis radio. Umumnya pertanyaannya seputar nama lagu dan penyanyinya, yang sangat mudah dijawab. Siapapun punya peluang menang asal mau mengirimkan jawaban lewat kartu pos. Yang diperlukan hanya keberuntungan agar kartu posnya terpilih dari sekian ratus atau ribu pengirim. Teman saya itu mengakali dengan mengirim puluhan kartu pos menggunakan nama-nama teman satu sekolah yang dikenalnya. Beberapa kali dia berhasil mendapat hadiah, sebelum akhirnya triknya ketahuan oleh pengasuh radio.

Kisah lain adalah teman saya sekantor yang mendapat rejeki tambahan dari permainan ketangkasan yang marak di mall-mall. Sewaktu masih bujang, teman yang memang senang keluyuran itu dapat menghabiskan waktunya berjam-jam bermain ketangkasan. Karena fokus pada satu-dua permainan sampai betul-betul menguasainya, dia sering mendapatkan jackpot tiket beratus-ratus lembar yang bila dikumpulkan dapat ditukar dengan berbagai hadiah yang nilainya ratusan ribu rupiah. Dia bisa punya berbagai perangkat elektronik dari hasil mengakali permainan itu.

What’s the point?

Kejadian-kejadian seperti di atas menunjukkan bahwa bila kita jeli melihat peluang, mempelajari celah-celahnya dan tekun berusaha, kita bisa mendapatkan keuntungan abnormal yang tidak diperoleh orang kebanyakan. Saya kira, hal itu juga berlaku pada banyak hal dalam kehidupan kita. Orang-orang yang sukses secara finansial atau pekerjaan adalah orang-orang yang pintar melihat peluang dan memanfaatkannya secara optimal. Prof William Danko dan Thomas Stanley, penulis buku the millionaire next door dan the millionaire’s mind mengatakan bahwa orang-orang kaya yang ditelitinya kebanyakan adalah mereka yang pandai melihat peluang yang tidak dilihat banyak orang dan rajin untuk mengolahnya. Mereka memilih medan yang miskin persaingan dan berusaha menjadi sangat bagus dalam menggarap ceruk itu. Mereka tidak terjebak dalam medan persaingan yang terlalu umum di mana kemenangan sulit didapat, meskipun dengan kerja keras dan kemampuan baik.

Demikian juga dalam berkarir. Prof John Kotter dalam buku Power and Influence mengatakan bahwa para MBA Harvard yang sukses dalam karirnya memiliki pola tertentu yang memungkinkan mereka menapaki jenjang profesionalnya dengan baik. Antara lain adalah bagaimana menemukan tantangan yang tepat, membangun suatu reputasi keberhasilan (dia sebut sebagai “success syndrome”) dan memanfaatkan apa yang sudah didapat untuk keberhasilan selanjutnya. Dalam banyak kasus, mereka yang berhasil adalah yang pada akhirnya mendirikan atau pindah ke perusahaan kecil untuk menggarap ceruk yang mereka kuasai dengan baik. Mereka tidak bekerja hanya semata-mata mengandalkan kecakapan, tapi juga memiliki strategi dan trik-trik yang cerdas.

Tengoklah sekeliling kita. Amati apa yang terjadi, bagaimana orang-orang mengolah peluang. Juga amati apakah ada peluang-peluang yang tidak dilihat orang atau direspon secara salah. Seperti Bill Gates yang dari garasinya mengolah peluang sistem operasi MS DOS yang tidak dilihat IBM, anda dapat menemukan banyak tambang emas yang terpendam. Mereka menunggu kita untuk mengambilnya.

February 9, 2007

Cukai Banjir

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 5:16 pm

Beberapa hari lalu, Menteri Kehutanan MS Kaban berteriak menyerukan agar izin pendirian bangunan vila-vila di Puncak diperiksa lagi. Teriakan yang klise dan menjadi basa-basi yang sama sekali tidak menarik lagi. Hanya untuk menghibur kita bahwa setidaknya Pemerintah menyadari apa yang seharusnya sudah dilakukan sejak lama.

Nasib para korban banjir di Jakarta memang mengenaskan. Ratusan ribu keluarga terendam rumahnya. Beberapa ribu di antaranya habis harta bendanya karena rumahnya terendam sampai ke atap. Beribu-ribu mengungsi di posko-posko, kelaparan dan kedinginan. Puluhan orang bahkan harus kehilangan nyawa satu-satunya akibat banjir. Kerusakan harta benda dan hilangnya produktivitas akibat banjir mencapai triliunan rupiah.

Perasaan sedih, geram dan tak berdaya berkecamuk menjadi satu. Mengapa ini semua berulang terjadi? Tahun 1996 banjir. Tahun 2002 banjir, lebih parah. Tahun 2007, banjir sangat parah. Apakah tahun 2012 Jakarta akan menjadi waterworld seperti dalam film Kevin Costner? Dalam kurun 11 tahun ternyata tidak ada perubahan berarti dalam pencegahan dan pengelolaan banjir. Bagaimana hendak berharap 11 tahun ke depan akan ada perubahan??

Memandang Jakarta yang terendam, yang terbayang di benak adalah vila-vila yang sedemikian jumawa berdiri di Puncak. Teganya mereka melakukan ini? Teganya mereka, hanya sekedar untuk bersenang-senang sehari-dua hari di sana, mengorbankan orang lain dengan banjir yang sedemikian dahsyat. Akar-akar pohon bagaikan spons raksasa yang mampu menampung dan secara perlahan-lahan melepaskan air. Menebang jutaan pohon dan menggantinya dengan rumah-rumah berarti melepaskan bermiliar-miliar kubik air yang seharusnya dapat ditahan agar tidak menjadi banjir.

Yang terbayang kemudian adalah wajah korup aparat pemerintah yang sedemikian mudah memberikan izin mendirikan bangunan, seenaknya mengubah RUTRK (site plan) dan masa bodoh membiarkan semuanya terjadi.

Di Depok, konon dulu di zaman Belanda ada site plan yang merencanakan daerah aliran sungai ciliwung sebelah timur Margonda sebagai bendungan. Topografinya sangat ideal karena berbentuk mangkok. Letaknya juga ideal karena masih cukup jauh dari Jakarta. Bila ada bendungan di situ, setidaknya arus air dari Bogor bisa dibendung sementara tanpa menimbulkan ekses banjir di sekitarnya. Bendungan Katulampa, Bogor yang menampung air di hulu mendapatkan pasangannya bendungan Depok di hilir. Pintu Air di Setiabudi Jakarta pun akan sangat tertolong, karena tidak harus selalu kewalahan menahan air bah. Namun, apa yang terjadi sekarang? Daerah itu menjadi pemukiman mewah yang sangat luas dengan rumah-rumahnya yang megah berdiri dengan pongah: Perumahan Pesona Depok. Entah sadar atau tidak para penghuni rumah di situ bahwa mereka telah berkontribusi terhadap parahnya banjir yang terjadi.

Dalam teori ekonomi publik dikenal yang namanya eksternalitas, yaitu dampak positif/negatif yang dirasakan masyarakat lain dari suatu konsumsi/produksi seseorang. Misalnya, seseorang yang mengkonsumsi rokok, orang yang berdiri di sekitarnya mendapatkan eksternalitas berupa asap rokok. Seseorang yang mengemudikan kendaraan, orang lain mendapatkan eksternalitas berupa kebisingan dan asap knalpot. Seseorang yang mengkonsumsi alkohol bisa membahayakan orang lain, lebih-lebih bila mengemudi kendaraan. Sebaliknya, seseorang yang memakai parfum, orang lain mendapat eksternalitas berupa harumnya bau di ruangan. Seseorang memutar musik dangdut keras-keras, orang sekitarnya bisa ikut bergoyang keasyikan atau malah–terutama yang sakit gigi– merasa sangat terganggu.

Tugas pemerintah dan masyarakat adalah menekan eksternalitas negatif dan menaikkan yang positif. Rokok diberi cukai tembakau. Kendaraan tua dikenai pajak karbon (carbon tax). Reklame yang mengganggu pemandangan dikenai pajak reklame. Rekaman musik dikenai pajak tambahan.

Terhadap para pemilik vila dan rumah-rumah yang mengakibatkan banjir, baik di Puncak, sepanjang daerah aliran sungai, maupun di bekas-bekas situ penampung air seharusnya juga dikenai pajak untuk eksternalitas yang ditimbulkannya. Tidak usahlah mereka dicek lagi izin pendiriannya– yang sekarang ini masih gampang didapat di pasar gelap perizinan. Terapkan saja pajak tambahan kepada mereka. Selain PBB yang berdasar nilai jual objek pajak, perlu ditambahkan ”cukai banjir”.

Banjir yang mereka timbulkan sebagai biaya masyarakat jauh lebih besar dibandingkan kerusakan yang diderita perokok pasif. Jadi, seharusnya kontribusi mereka lebih besar dibandingkan cukai rokok yang tiap tahun menyumbang triliunan rupiah ke APBN. Hasil dari cukai banjir itu bisa untuk membangun kanal-kanal banjir, meningkatkan kualitas jaringan drainase Jakarta yang primitif dan menghijaukan kembali kawasan pegunungan di Bogor-Cianjur-Sukabumi.

Bagaimana, setuju?

February 3, 2007

Sedekah Ilmu dan Pengalaman

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 10:46 am

Memang mudah membuat blog. Anda tinggal mendaftar pada sekian banyak layanan blog yang tersedia. Dalam hitungan menit, anda sudah memiliki website sendiri. It’s a miracle! Dalam sekejap dan tanpa uang sepeserpun anda bisa menulis apa pun tentang apa pun tanpa ada yang mengedit atau mencela dan dapat dilihat milyaran orang di seluruh dunia. Blog memang ajaib.

Tapi… satu bulan pertama mungkin anda masih excited. Bulan kedua, sudah mulai agak boring. Bulan ketiga dan seterusnya, menulis di blog seperti kewajiban. Mirip seperti pengantin baru yang setelah sekian tahun menganggap kemesraan sebagai rutinitas keseharian yang membosankan.

Lewat tiga bulan sudah produktivitas ngeblog saya nyaris nol. Hubungan saya dengan blog memang tidak semesra dulu lagi. Kalau awalnya hampir setiap hari ditengok dan diperbarui, sekarang bahkan bisa berminggu-minggu tidak ditengok. Kasihan mereka yang terlanjur berharap. Tiap kali menengok, tidak ada yang baru.

Saya harus kembali mengklarifikasi diri sendiri. Mengapa saya membuat blog? Buat apa? Apa yang didapat dari rutinitas menghabiskan waktu berjam-jam di komputer itu? Apa ruginya bila “putus hubungan” dengan dia?

Motivasi akan mendorong perbuatan. Tanpa motivasi yang jelas, sulit untuk mempertahankan suatu kegiatan. Perjelas dulu motivasinya, baru akan muncul semangat untuk melakukannya.

Apa motivasinya?

Beberapa kali saya mengikuti acara ustadz Yusuf Mansyur yang sedang ngetop dengan anjurannya untuk bersedekah itu. Apa pun masalah kita, seruwet apa pun problem yang dihadapi, akan selesai dengan jalan bersedekah. Ya, semudah itu. (dan sesulit itu, karena kebanyakan kita ternyata sangat pelit untuk memberi). Intinya, dengan memberi maka kita akan mendapat. Bahkan berkali-kali lipat.

Itu berlaku untuk uang. Itu juga berlaku untuk ilmu.

Saya tidak punya banyak uang, tapi mungkin punya sedikit ilmu dan waktu. Mengapa tidak diinfakkan saja ilmu saya? Toh saya tidak akan kehilangan sepeserpun ilmu saya? Bahkan akan bertambah dengan kelipatan yang tak terbayangkan.

Itulah motif semula saya membuat blog ini. Untuk sharing pengalaman hidup dan sedikit ilmu yang saya punya. Saya ikhlas, meski saya yakin bahwa entah bagaimana saya akan mendapatkan manfaat balik dari kegiatan ini. Beberapa hari lalu saya kembali diingatkan mengenai hal ini. Bukan oleh ustadz Yusuf Mansyur, tapi oleh “ustadz” Tony Robbins. Ketika saya putar audibooknya yang berjudul How to Condition Yourself for Wealth, saya takjub dengan kesimpulan Tony di penghujung “khotbahnya” yang sangat mirip dengan petuah ustadz Yusuf Mansyur:

“Receiving is evidence you’ve given consistently.”

Dia menganjurkan untuk banyak memberi, agar kita merasa bersyukur, feel good, dan agar kita mendapat lebih banyak lagi. Semakin banyak yang kita beri, semakin banyak yang kita dapat. Itulah hukum alam yang tidak terbantahkan.

Mendengar petuah itu, saya jadi malu. Ingat bahwa sudah tiga bulan saya tidak memberi. Padahal tidak ada yang perlu dikeluarkan selain waktu yang sebentar dan sedikit memutar kembali apa yang ada di isi kepala. Saya sudah kembali bakhil (pelit) dengan waktu dan ilmu.

Mudah-mudahan, saya akan lebih rajin lagi ke depan dalam bersedekah pengalaman dan ilmu dengan anda semua. Dan, tentu saja, kalau bisa juga mendapatkan tambahan ilmu dan pengalaman dari anda semua. Bukankah tangan di atas, lebih baik daripada tangan di bawah?

November 24, 2006

Falsafah Komunikasi Orang Jawa

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 1:19 pm

Jauh sebelum teori-teori komunikasi dikemukakan banyak orang, orang Jawa sudah punya filsafat komunikasi yang cukup baik sebagai pedoman umum, diringkas dalam 3 bait kata-kata yang cekak-aos (padat berisi):

Dupak Bujang

Esem Mentri

Semu Bupati

Berbicara dengan kalangan bawah (bujang) yang berpendidikan rendah, kita harus lugas straight to the point. Bila perlu, kita memerintah mereka dengan men-dupak (menendang). Bahasa-bahasa kiasan atau perintah tidak langsung umumnya tidak akan dipahami. Seorang teman yang membawahi 30-an lebih sopir dan office boy di kantor yang memiliki gaya bicara ceplas-ceplos ternyata lebih disukai anak buahnya dibandingkan manajer sebelumnya yang "serba ngambang" dalam komunikasi.

Berbicara dengan kalangan menengah (mentri), bahasa-bahasa lugas seringkali terasa kurang sopan. Sindiran kecil saja sudah cukup untuk mengingatkan ybs mengenai kesalahan yang terjadi. Dalam melakukan perintah, cara-cara tidak langsung akan lebih disukai untuk menjaga harga diri yang diperintah. Ketika Mbah Kakung saya mengemukakan bahwa cuaca mendung, Mbah Putri segera mafhum apa maksudnya. Dia segera menyambar embernya, keluar mengambil jemuran. Esem (senyum) dapat menyiratkan seribu makna. Senyum dapat berarti gembira, sayang, skeptis, takut, mengejek, atau bahkan marah. Kalangan mentri harus bisa membacanya. (Seperti para menteri di era pak Harto yang harus paham makna dari senyuman the Smiling General itu).

Untuk kalangan yang lebih tinggi (bupati), bahkan semu/pasemon (raut muka) sudah cukup menyiratkan makna. Ketika menyampaikan usulan proyek, misalnya, dari reaksi raut muka atasan bisa diketahui apakah diterima, diragukan atau ditolak. Seperti ahli judi yang jago membaca raut muka lawan (sehingga tahu apakah lawan gembira karena pegang kartu bagus, atau pura-pura gembira karena sebenarnya kartunya jelek), untuk menjadi orang pada level bupati anda juga harus dapat membaca tanda-tanda yang kebanyakan orang tidak memahami. Di tempat bekerja saya, ringkasan laporan kinerja perseroan di seluruh negara Asia biasanya dikirim ke eksekutif level tertentu lewat e-mail tiap tiga bulanan. Kita bisa mafhum, bagian mana dari perusahaan yang sedang bagus, mana yang jelek, walaupun semuanya dibungkus dalam kata-kata berbunga-bunga yang optimistis. Kita harus "read between the lines" untuk bisa menangkap pesan yang tersirat. Ketika satu lini bisnis besar tidak disebut prestasinya, kita mafhum, pasti sedang ada masalah di sana. Ketika satu inisiatif baru ditulis panjang lebar, kita juga mafhum, it’s going to be the next big thing.

Dalam pergaulan sehari-hari, tentu moda komunikasinya bisa beragam, tidak selalu sesuai pakem. Antar bupati pun dapat berkomunikasi dengan cara-cara bujang yang membuat kita terkesiap, seperti presiden Hugo Chavez yang di forum-forum resmi internasional mencaci maki Bush sebagai "setan", "orgil", "pembunuh", bahkan "ass….". Atau, seperti tukang sampah di kompleks saya yang berkomunikasi lewat raut muka, cemberut kalau sedang banyak sampah harus diangkut, senyam-senyum kalau habis dikasih uang rokok…

November 23, 2006

Tentang Kejahatan dan Kebaikan

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 9:51 am

Suka atau tidak, hidup ini seringkali menyodorkan berbagai hal yang jauh dari ideal. Tidak seperti dalam film-film yang jagoannya selalu menang dan penjahatnya mati di akhir cerita, dalam keseharian banyak orang brengsek yang tetap hidup nyaman. Sebaliknya, banyak juga orang baik-baik yang nasibnya tidak kunjung baik. (Si brengsek pembunuh Munir, misalnya, sampai sekarang masih bisa ongkang-ongkang kaki menikmati hidup).

Berbeda dengan di film yang penjahatnya pasti "berantem" dengan jagoan, di keseharian tidak selalu ada yang berani melawan si penjahat. Bahkan, dalam banyak kasus, penjahat itu menguasai kita terus-menerus tanpa dapat dilawan. (Bangsa kita bisa disebut dikuasai para penjahat karena koruptor merajalela tanpa hukuman dan mereka memegang peranan di semua bidang Pemerintahan. Jagoan yang berani melawan mereka banyak yang babak belur dihajar balik)

Tidak seperti dalam film, jagoan dan penjahat dalam dunia nyata juga seringkali sulit dibedakan. Apakah Mr. Bush yang datang ke Bogor adalah jagoan atau penjahat? Bagi Republiken yang masih membelanya, dia adalah "jagoan pembasmi teroris". Namun, bagi sebagian besar umat Islam yang melek politik, dia orang brengsek yang ke(tidak)bijakannya telah mengakibatkan 600 ribu lebih nyawa rakyat Irak melayang. Kombinasi strategi kehumasan yang baik, "lobbying", dan tim hukum yang lihai bisa membuat beberapa penjahat bahkan tercitrakan sebagai "korban kezaliman". Kita dapat dibuat bingung karenanya.

Kejahatan dan kebaikan orang juga seringkali tidak bisa dibaca hitam putih. Jarang ada orang brengsek 100%, dan sebaliknya. Banyak juga yang hidupnya "seimbang", misalnya: naik haji berkali-kali tapi tetap korupsi, "merampok" dari orang lain tapi rajin berderma ke orang miskin, seperti Robin Hood dan Al Capone. Lebih membingungkan lagi sosok seperti George Soros yang sangat rajin menyantuni rakyat miskin di Hungaria dan negara-negara Eropa Timur lainnya, dan mendorong cita-cita luhur "Open Society", namun bikin bangkrut bangsa kita dengan krisis yang memiskinkan puluhan juta rakyat.

Dalam kehidupan sehari-hari, penjahat juga tidak high-profile seperti Mr. Bush. Mereka bisa jadi adalah tetangga kita, atasan kita di kantor dan sanak famili kita. Dia dapat muncul sebagai sosok yang begitu biasa dan tidak berjarak. Adalah tingkah lakunya yang membuat kita mengelus dada dan terkesima. Kok tega ya, dia melakukan hal sejahat itu?

Dalam kisah-kisah di Kitab Suci, drama-drama klasik dan cerita pewayangan, sosok-sosok kegelapan digambarkan tingkah lakunya untuk menjadi cermin bagi kita semua. Dalam kisah Nabi Yusuf, Allah SWT bahkan menceritakan serangkaian keculasan manusia secara rinci. Saudara-saudara Nabi Yusuf yang tega membuangnya karena iri hati dan berbohong kepada ayah, Siti Zulaikha yang tidak tahan terhadap nafsunya dan memfitnah beliau sehingga masuk penjara, dan teman sepenjara Nabi Yusuf yang tidak amanah karena tidak segera menyampaikan kemampuan beliau menafsir mimpi kepada Fir’aun sehingga beliau harus menunggu lebih lama di penjara. Dalam pewayangan, tokoh-tokoh seperti Sengkuni yang licik, Durna yang pilih kasih, dan Burisrawa yang narsistik adalah cerminan karakter buruk sebagian manusia. Mereka ada dalam kisah-kisah. Mereka juga ada pada kehidupan kita kini, saat ini, dan di sini, di sekeliling kita. Mungkin juga kita pernah menjadi tokoh yang memerankannya. Na’udzubillah.

Ada satu buku tidak bermoral yang penasaran saya beli beberapa waktu lalu yang berjudul "What would Machiavelli do?". Diceritakan di situ bahwa untuk menjadi sukses kita harus mengikuti sebaik-baiknya ajaran "Eyang Machiavelli", yaitu: halalkan segala cara!

Diceritakan di situ bagaimana orang-orang macam Martha Stewart, Al Dunlap dan Donald Trump bisa menjadi orang besar karena menerapkan ajaran Machiavelli. Lakukan taktik belah bambu "devide-et-impera", manipulasi orang melalui rasa takut mereka dan bunuh karakter musuh anda agar menang persaingan, demikian nasihatnya. Singkatnya, jadilah brengsek agar sukses. Mr Nice Guy hanya menang dalam film-film. Dalam kesehariannya, mereka menjadi karyawan medioker yang payah macam anda dan saya!

Saya sependapat bahwa banyak orang yang berhasil mendapat kekayaan berlimpah dan sukses dalam karir dengan cara-cara Machiavellian. Saya tahu ada teman yang gemar menghasut, "menggunting kain dalam lipatan" dan pandai menjilat atasan namun karirnya melejit seperti roket. Saya juga pernah punya atasan brengsek yang senang main perempuan, gajinya sebulan tidak habis untuk dimakan setahun, dan outputnya nyaris nol namun dipertahankan karena dia adalah orang dekat pucuk pimpinan. Saya juga tahu ada pimpinan yang brengsek, meminta seluruh perusahaan untuk mengetatkan ikat pinggang, memotong budget sana-sini, menaikkan gaji karyawan ala kadarnya, tapi pengeluaran untuk dirinya sendiri gila-gilaan. Mereka adalah Arya Sengkuni, Pendeta Durna, dan Raja Burisrawa dalam jagad korporat modern.

Dunia memang tidak ideal. Menjadi brengsek dan jahat seringkali diperlukan untuk kaya dan berkuasa. Lebih-lebih bila anda berada dalam lingkungan di mana mereka merajalela. Godaan menjadi brengsek seringkali begitu kuat membuat kita sulit untuk tidak tergoda.

Namun, biarlah kita tidak kaya dan tidak berkuasa, bila syaratnya adalah harus menjadi brengsek. Kita bukan murid Machiavelli. Kita semua ingin menjadi orang yang baik hati dan tidak sombong (seperti Pramuka), meskipun karenanya cuma jadi begini-begini saja…

November 16, 2006

BIG HAIRY AUDACIOUS GOALS

Filed under: Uncategorized - pikroh @ 3:16 pm

"Insanity is doing the same thing while expecting to get different results", demikian kata-kata mutiara dari the Alcoholic Anonymous yang sering dikutip orang. Hanya orang gila yang berharap mendapat hasil yang berbeda tapi tetap melakukan hal-hal yang sama. Dalam agama, kita punya petikan ayat yang cukup populer di Al-Qur’an: Innallaha laa yughayiru maa bi qaumin hatta yughayiru maa bi anfusihim. Allah tidak akan mengubah nasib suatu golongan masyarakat kalau mereka tidak mau mengubah diri mereka sendiri (Arra’ad: 13).

Kata-kata mutiara maupun ayat al-Qur’an itu simpel dan sangat mudah dimengerti. Namun, dalam prakteknya sering tidak diterapkan. Saya kerap mendengar teman sesama karyawan yang mengeluh: betapa gaji tidak naik-naik, betapa posisi sudah mentok, betapa Perusahaan dari dulu sampai saat ini tidak peduli. Sebagai teman, saya berempati dengan frustrasi yang dialaminya. Saya juga sering merasa demikian. Namun, logika saya mengatakan ada yang salah dalam dia bereaksi. Kalau merasa stagnan dan Perusahaan sedemikian "kejam", mengapa dia tidak berbuat sesuatu?? Menanggapi keadaan dengan cara yang sama pasti akan mendapatkan hal yang persis sama. Berharap ada perubahan "iklim" Perusahaan sehingga lebih berpihak kepada dia? That’s insane! Hanya orang gila yang selalu menggantungkan diri pada kehendak di luar kendalinya.

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke kantor saya yang lama, sebuah lembaga tinggi negara. Selepas sholat dhuhur di masjid kantor, saya melihat kanan-kiri, barangkali ada kawan lama yang hadir. Pandangan saya terantuk pada wajah yang cukup saya kenal. Dia adalah kolega yang dulu sering jadi teman tidur-tiduran di musholla, setelah diskusi ngalor-ngidul mengenai masalah kantor dan lainnya. Saat itu juga dia sedang tidur-tiduran. Saya mendatangi dan menyalaminya.

"Wah, sudah sukses nih? Kerja di mana sekarang?" , tanyanya dengan muka terkejut. Setelah menjelaskan singkat mengenai "perjalanan karir" saya dari sejak pindah kerja, giliran saya untuk bertanya mengenai "perjalanan karir" dia. Kembali dia mengeluhkan hal-hal yang sama yang saya dengar delapan tahun lalu. Gaji kecil, jabatan mentok, pimpinan "payah". Itulah mengapa dia tidak bersemangat kerja dan suka tidur-tiduran di mesjid. Menunggu nasibnya berubah!

Bagi kita yang mengamati, reaksi dia terhadap nasib hidupnya mungkin menggelikan. Namun, bagi dia, pilihan sikap itu logis sekali. Kenapa tidak kuliah biar karir tidak mentok? Wah, nggak punya uang. Mengapa tidak minta pindah bagian? Wah, sulit adaptasinya. Mengapa tidak ikut kursus-kursus di Perusahaan? Wah, otak sudah sulit diajak yang rumit-rumit. Lagian, nggak ada pengaruhnya. Mengapa tidak mengajukan pensiun saja? Wah, dari mana nyukupin belanja kalau sekarang saja sudah pas-pasan. Jadi? Ya, sudah begini saja… sambil menyelonjorkan kaki bersiap tidur-tiduran lagi. Hopeless….

Itu hanya satu contoh ekstrem. Dalam banyak hal, orang memang sering terjebak dalam kelembaman (inertia) karena berpuas diri dengan apa yang sudah dimiliki. Nasib memang tidak sebagus yang dia inginkan, tapi tidak terlalu parah untuk mendorongnya berubah. Saya sendiri seringkali merasakan itu. Segala sesuatu yang kelihatannya sudah cukup nyaman membuat kita lembam, ogah berubah. Meminjam kata-kata Jim Collins dalam buku "Good to Great", yang menghalangi orang menjadi hebat umumnya adalah karena dia sudah merasa baik. Good is the enemy of great. Karena sudah merasa baik, orang cukup puas diri. Tidak merasa perlu menjadi hebat.

Solusi terhadap rasa puas diri adalah dengan menciptakan sebuah mimpi baru yang besar: BIG HAIRY AUDACIOUS GOAL (BHAG). Suatu mimpi yang membangkitkan gairah, menantang tapi dapat diraih, dan menghasilkan sesuatu yang berharga dalam hidup. Tanpa mimpi baru, orang tidak mau berubah. Sebagaimana perusahaan tanpa visi, hidup tanpa cita-cita juga adalah hidup yang tanpa gairah. Hanya menjalani rutinitas saja.

Teman-teman di bagian sales paling sering dicekoki dengan ceramah-ceramah yang membangkitkan gairah untuk membuat target pribadi dan mencapainya. Para motivator seperti Andri Wongso, James Gwee,Tung Desem, dll bahkan dibayar mahal hanya untuk itu. Stimulasi mental untuk membuat cita-cita yang menggairahkan ini seharusnya bukan monopoli orang sales, dan tidak terbatas pada penjualan atau pencapaian finansial. Kita semua membutuhkannya untuk semua aspek kehidupan.

Kalau anda merasa jenuh, mandeg, atau berpuas diri, maka saatnya membuat sebuah mimpi baru. Saya seringkali takjub dengan efek dari sebuah cita-cita. Ketika berbicara dengan istri mengenai mimpi bersama kami dan bagaimana kami bisa mencapainya, kami berdua tenggelam dalam diskusi yang sentimentil. Ada perdebatan intelektual mengenai banyak hal kecil, namun ketika membicarakan gambar besarnya kami tenggelam dalam keharuan emosional merasakan berat, menantang, dan indahnya cita-cita bila tercapai. Membesarkan anak agar sholeh/ sholehah dan berkembang sepenuh potensinya adalah salah satu contoh mimpi bersama. Kami sering berdebat mengenai detil bagaimana mencapainya dan dalam melakukan keputusan-keputusan, tapi cita-cita BHAG kami mengenai masa depan anak-anak menjadi tali yang erat mengikat kerangka berpikir kami. Juga menjadi penyemangat untuk melakukan aktivitas-aktivitas bersama anak-anak.

Apakah anda sudah memiliki BHAG dalam hidup anda? Wah, perlu itu!