web page hit counter

a beautiful mind

December 24, 2007

Presenteeism, Hadir Tapi Tak Ada Hasil

Filed under: karir, wawasan - pikroh @ 4:52 pm

Staff saya Atiek, dari pagi mengeluh sakit perut, pening-pening dan demam. Saya sudah memintanya pulang ke rumah kalau memang sakit, namun dia bersikukuh tetap di kantor, alasannya banyak tumpukan surat dan pernak-pernik pekerjaan lainnya yang harus diselesaikan. Jadilah hari itu–setengah “mabuk” karena sakit–sedikit demi sedikit dia selesaikan pekerjaannya di balik cubicle-nya yang sempit. Beberapa hari kemudian, ketika penyakitnya semakin terasa parah, dia “menyerah”. Sebuah sms terkirim ke telepon genggam saya, mengabarkan dia harus dirawat di rumah sakit karena typhus.

(more…)

December 13, 2007

Pendekatan Makan Siang Hotbonar & Eckert

Filed under: karir, wawasan - pikroh @ 10:49 am

Di awal-awal masa jabatannya sebagai bos Jamsostek, Hotbonar Sinaga memiliki ritual baru: makan siang bersama para karyawannya di kantin (Kontan, Minggu II, Maret 2007). Hotbonar yang selalu tampil necis itu tidak segan-segan bersantap siang di tengah kerumunan ”karyawan jelata” Jamsostek yang mungkin sebagian besar baru dikenalnya. Lebih istimewa lagi, sang direktur utama itu sebenarnya tidak biasa makan siang kecuali ada acara khusus.

Pendekatan makan siang yang dilakukan Hotbonar mengingatkan saya pada apa yang dilakukan Bob Eckert, CEO Mattel. Tahun 2000, Eckert dipercaya mengambil alih kendali Mattel ketika perusahaan itu dalam kondisi merugi selama tiga tahun berturut-turut karena strategi akuisisi yang salah. Learning Company, perusahaan yang diakuisisi oleh CEO sebelumnya, membuat Mattel merugi lebih dari satu juta dollar sehari dan membuatnya bertahan hidup hanya dari topangan kredit. Mandat yang diemban Eckert sangat berat: membalikkan kondisi (turnaround) raksasa pembuat Barbie yang karyawannya mencapai 30.000 orang itu agar kembali menghasilkan keuntungan.

(more…)

December 9, 2007

Tiga Jaringan Informal di Organisasi

Filed under: karir, wawasan - pikroh @ 8:20 am

Masih ingat dengan tokoh Vito Carleone yang diperankan oleh Marlon Brando dalam film the Godfather? Di film itu digambarkan bahwa dalam dunia mafia peran seorang don atau godfather sangat penting. Dia lah yang menjadi pusat loyalitas anggota mafia, yang berkhidmad padanya untuk mendapat perlindungan. Para godfather memiliki anggota jaringan yang luas, dari kepala polisi, pengacara, senator sampai tukang parkir yang siap bekerja untuk kepentingannya. Ikatan kekeluargaan dalam dunia mafia sangat kuat, pengkhianatan dapat berakibat kematian.

Dalam organisasi bisnis besar, kalau kita jeli mengamati juga terdapat pola hubungan seperti itu. Ada para godfather dan pengikut-pengikutnya yang loyal. Kita bisa melihat, misalnya, seorang direktur operasional yang senior dan ‘memiliki’ orang-orang yang menjabat di posisi keuangan, pemasaran, dan berbagai bagian lain perusahaan. Pak Anu, ‘orangnya’ pak Itu. Pak Ono ‘orangnya’ pak Ini. 

Ada struktur organisasi yang sifatnya informal yang berbeda dengan struktur resmi. Hubungan antara godfather perusahaan itu dengan para loyalisnya bersifat saling menguntungkan. Godfather memberikan pengayoman dan memastikan perhatian yang cukup untuk perkembangan karir para loyalis. Dan sebaliknya, para loyalis memberi dukungan berupa segala keperluan emosional maupun politis sang godfather. Struktur organisasi resmi perusahaan tidak menggambarkan pola hubungan tersebut. Namun, eksekutif yang piawai selalu mengetahuinya, dan memanfaatkan untuk keuntungannya.

(more…)

December 2, 2007

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 3)

Filed under: self- help, karir, wawasan - pikroh @ 10:42 am

Cerita Ketiga Saya: Kematian

Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: "Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar." Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: "Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?" Bila jawabannya selalu "tidak" dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah.

Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu–semua harapan eksternal, kebanggaan, takhut malu atau gagal–tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.

(more…)

November 29, 2007

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 2)

Filed under: self- help, karir, wawasan - pikroh @ 9:10 pm

Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.

Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami–Macintosh–satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang. Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan.

(more…)

November 28, 2007

Nasehat Steve Jobs: “Kamu Harus Temukan Apa yang Kamu Sukai” (Bag 1)

Filed under: self- help, karir, wawasan - pikroh @ 11:05 am

Ini adalah naskah pidato Steve Jobs, CEO Apple Computer dan Studio Animasi Pixar, di acara pelepasan mahasiswa Stanford, 12 Juni 2005. (untuk melihat videonya, klik:www.youtube.com/watch%3fv=D1R-jKKp3NA). Berhubung panjang, saya muat dalam tiga seri posting.

Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.

Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik.

Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO?

(more…)

November 26, 2007

Strategi Berganti Karir

Filed under: self- help, karir - pikroh @ 10:16 pm

Buku terbaik yang saya baca mengenai tips berganti karir adalah "Working Identity-Unconvetional Strategies for Reinventing Your Career" karya Herminia Ibarra. Buku itu merupakan ringkasan temuan Herminia Ibarra–profesor perilaku organisasi di INSEAD– dari hasil studi kasus atas 39 orang yang berpindah karir, yang dia wawancarai selama tahun 1999-2001. Kelompok yang dirisetnya terdiri dari berbagai latar belakang, ada psikiater yang menjadi pendeta Buddha, konsultan strategi yang menjadi aktivis LSM, dosen sastra yang menjadi penasihat investasi dan lainnya. Bila Anda ingin mengikuti jejak mereka, Anda perlu menyimak temuan-temuan Ibarra.  

Ibarra mengingatkan bahwa proses berganti karir biasanya tidak mulus.  Mendapatkan karir idaman membutuhkan proses eksplorasi yang memakan waktu, dan seringkali lebih panjang dari perkiraan. Menemukan karir yang cocok hanya bisa dilakukan melalui proses mencoba-merasa-memutuskan-mencoba lagi. Ibarra mengkritik metode yang dipakai para konselor karir di mana kita diminta melakukan assessment kepribadian, lalu menganalisanya untuk menentukan karir yang cocok  Jati diri kita bisa banyak dan seringkali bahkan tidak kita ketahui sebelum dihadapkan situasi nyata yang sarat hikmah.

(more…)